10 Cara Menulis Cerita dari Pengalaman Pribadi dengan Aman ala Helvy Tiana Rosa

Table of Contents
ilustrasi menulis cerita berdasarkan pengalaman pribadi
ilustrasi menulis cerita berdasarkan pengalaman pribadi (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Materi ini saya dapatkan dari webinar Belajar dari Bintang yang dipersembahkan oleh KBM App dengan judul Menulis Cerita dari Pengalaman Pribadi dengan Aman yang dibawakan oleh Helvy Tiana Rosa. Topik ini terasa dekat dengan dunia kepenulisan karena banyak penulis mengambil ide dari pengalaman hidupnya sendiri.

Namun, sering muncul pertanyaan: bagaimana menulis pengalaman pribadi tanpa terkesan membuka aib, menyinggung orang lain, atau sekadar menjadi curahan hati? Melalui webinar ini, saya mendapatkan banyak sudut pandang menarik tentang cara mengolah pengalaman pribadi menjadi karya yang lebih aman dan bermakna. Yuk, simak ringkasan materinya berikut dan catat jika ada yang penting.

1. Pengalaman Pribadi Bisa Menjadi Sumber Cerita yang Kuat

Di awal materi, Helvy Tiana Rosa menjelaskan bahwa pengalaman pribadi sering menjadi sumber cerita yang kuat karena penulis mengenalnya secara langsung. Penulis memahami detail peristiwa sekaligus emosi yang menyertainya.

Banyak karya sastra lahir dari pengalaman nyata pengarangnya. Beberapa contoh yang disebutkan antara lain Empire of the Sun karya J.G. Ballard, Pada Sebuah Kapal karya Nh. Dini, Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, dan The Bell Jar karya Sylvia Plath.

2. Pengalaman Nyata Hanya Menjadi Titik Awal

Meski berangkat dari pengalaman nyata, karya-karya tersebut tidak ditulis persis seperti yang terjadi dalam kehidupan penulisnya. Dari sini saya memahami bahwa pengalaman pribadi sebenarnya hanyalah titik awal sebuah cerita.

Saat masuk ke dalam karya, banyak hal bisa berubah. Nama tokoh dapat diganti, latar dipindahkan, urutan peristiwa diubah, bahkan cara bercerita pun bisa berbeda. Yang dipertahankan bukan seluruh fakta, melainkan makna yang ingin disampaikan.

3. Fokus pada Kebenaran Emosional

Salah satu istilah yang menarik dalam materi ini adalah kebenaran emosional. Menurut Helvy Tiana Rosa, yang penting bukan apakah semua detail cerita sama dengan kejadian asli.

Yang lebih penting adalah apakah emosi yang ingin disampaikan masih bisa dirasakan pembaca. Selama rasa yang ingin dihadirkan tetap sampai, cerita tetap memiliki kekuatan meskipun banyak detailnya telah berubah.

4. Temukan Inti dari Pengalaman yang Dialami

Ada satu bagian yang cukup membekas bagi saya, yaitu tentang mencari inti pengalaman. Banyak orang langsung menuliskan peristiwa yang dialaminya tanpa terlebih dahulu memahami apa yang sebenarnya tertinggal dari pengalaman tersebut.

Padahal yang lebih penting justru mencari emosi utamanya. Apakah yang tersisa adalah rasa kehilangan, kecewa, marah, takut, atau justru rasa syukur. Perasaan-perasaan inilah yang nantinya menjadi bahan utama sebuah cerita.

5. Jangan Terlalu Terikat pada Fakta

Dalam menulis fiksi, penulis tidak perlu terlalu terikat pada fakta. Nama orang bisa diganti, tempat dapat dipindahkan, dan waktu kejadian pun bisa diubah sesuai kebutuhan cerita.

informasi flyer belajar dari bintang oleh KBM App (instagram.com/kbmauthor)
Bahkan beberapa orang yang ada di kehidupan nyata dapat digabung menjadi satu tokoh. Tujuannya bukan untuk menyembunyikan kebenaran, melainkan memberi ruang bagi imajinasi agar cerita berkembang lebih utuh.

6. Ciptakan Tokoh yang Lebih Hidup

Helvy Tiana Rosa juga menjelaskan bahwa tokoh fiksi tidak harus menjadi salinan seseorang yang benar-benar ada. Justru tokoh akan terasa lebih hidup ketika dibentuk dari berbagai unsur yang berbeda.

Sifatnya bisa diambil dari satu orang, cara bicaranya dari orang lain, lalu ditambah latar belakang yang sama sekali berbeda. Cara ini membuat tokoh terasa lebih kaya dan tidak mudah dikenali sebagai sosok tertentu.

7. Pilih Sudut Pandang yang Paling Nyaman

Sudut pandang ikut menentukan bagaimana pengalaman pribadi disampaikan kepada pembaca. Jika pengalaman yang ingin ditulis masih terasa terlalu dekat secara emosional, penulis tidak harus menggunakan sudut pandang orang pertama.

Kadang sudut pandang orang ketiga membuat cerita terasa lebih nyaman untuk ditulis. Bahkan ada penulis yang menggunakan benda, tempat, atau simbol tertentu sebagai cara untuk menyampaikan pengalaman tersebut.

8. Beri Ruang untuk Mengolah Peristiwa

Dalam fiksi, tidak semua kejadian harus sama dengan kenyataan. Penulis memiliki kebebasan untuk mengubah urutan peristiwa, menambah adegan baru, atau menghilangkan bagian tertentu.

Selama makna dan emosi yang ingin disampaikan tetap terjaga, perubahan tersebut bukanlah masalah. Justru proses pengolahan inilah yang membantu pengalaman pribadi berkembang menjadi karya sastra.

9. Manfaatkan Simbol untuk Menyampaikan Emosi

Salah satu pembahasan yang menarik adalah penggunaan simbol dalam cerita. Kadang sebuah benda sederhana dapat menyampaikan perasaan lebih kuat daripada penjelasan yang panjang.

Pintu yang terus berderit, kamar kosong, surat yang tak pernah dibalas, atau secangkir teh yang dibiarkan dingin dapat menjadi cara untuk menunjukkan kesedihan tanpa harus mengatakannya secara langsung.

Ada contoh tentang bunyi engsel pintu yang terus terdengar setiap malam. Sekilas cerita itu tampak hanya membahas rumah dan pintu tua, padahal sebenarnya sedang berbicara tentang kehilangan dan kenangan yang masih tertinggal.

10. Pastikan Cerita Tidak Berhenti pada Diri Sendiri

Menurut Helvy Tiana Rosa, tidak semua pengalaman harus dimasukkan ke dalam cerita. Sebelum menulis sesuatu, penulis perlu bertanya apakah bagian tersebut memang dibutuhkan oleh cerita atau hanya menjadi pelampiasan emosi semata.

Selain itu, pengalaman pribadi sebaiknya tidak berhenti menjadi cerita tentang diri sendiri. Sebuah cerita akan lebih kuat ketika pembaca dapat menemukan dirinya di dalam cerita tersebut. Mungkin mereka tidak mengalami peristiwa yang sama, tetapi mereka memahami rasa kehilangan, harapan, ketakutan, atau kekecewaan yang ditampilkan dalam cerita.

Bonus: Jangan Terburu-buru Mempublikasikan Naskah

Menjelang akhir webinar, Helvy Tiana Rosa menyarankan agar naskah tidak langsung dipublikasikan setelah selesai ditulis. Ada baiknya tulisan didiamkan terlebih dahulu selama beberapa hari atau beberapa minggu.

Setelah itu, baca kembali dengan perasaan yang lebih tenang. Cara ini membantu penulis melihat apakah tulisannya sudah menjadi karya atau masih terasa seperti curahan hati.

tangkapan layar bagian menarik saat webinar (dok.pribadi/Aknes Wulandari)
Dari keseluruhan materi yang disampaikan, saya menangkap satu hal sederhana. Pengalaman pribadi memang bisa menjadi bahan cerita yang sangat berharga, tetapi tetap perlu diolah sebelum menjadi karya.

Pengalaman tidak harus ditulis persis seperti kenyataannya. Ia bisa dipilih, diubah, disusun ulang, bahkan disimbolkan sesuai kebutuhan cerita. Pada akhirnya, sastra bukan sekadar menyalin kehidupan, melainkan cara mengolah pengalaman hidup menjadi sesuatu yang memiliki makna yang lebih luas dan dapat dirasakan oleh banyak orang.

Nah, kamu sendiri sudah mulai berani menuliskan cerita dalam bentuk karya atau belum? Kamu bisa bergabung ke komunitas Ufuk Literasi dan siapa tahu tertarik bisa mengikuti kelas khusus belajar menulis cerita personal nantinya. Yuk, semangat lagi berkaryanya.

***

Tentang Penulis

Aknes Wulandari merupakan editor naskah yang menetap di salah satu provinsi istimewa di Indonesia. Aktif berbagi pengalaman sebagai pemateri di berbagai komunitas kepenulisan, ia juga pernah menjadi juri mading dan validator buku antologi mahasiswa dalam berbagai kegiatan kampus. Di sela aktivitasnya, Aknes senang membaca, menulis, dan menikmati diskusi seputar sastra, buku, psikologi, kesehatan mental, serta musik, khususnya K-pop.
Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

Posting Komentar