[PUISI] Lamunan Renjana Kepada Hujan

Table of Contents
rintik air hujan
ilustrasi rintik air hujan (pexels.com/Vlad Chețan)
Dibawah rintikan-rintikan air langit, kakiku mulai melangkah

Benakku bergetar akan sebuah ingatan yang kembali terkenang

Lekukan bibirmu membentuk senyum, sesuatu yang lumrah

Jemariku menghibas bayangan di balik tirai air, kalbuku tidak tenang 


Arcapada sedang menertawakanku, sepertinya, ia tidak ingin kau terlupakan

Riuh dari alam mengingatkanku pada lantangnya suaramu 

Kilat yang menembus hujan mengingatkanku pada sorot matamu

Sosokmu hanya tinggal telapak kaki merah, namun hantumu tidaklah sirna


Kupandu kakiku untuk berjalan lebih cepat karena badai telah tiba

Gemuruh dari petir bukan menakutiku namun menumbuhkan lara

Kenapa hujan ini tidak pernah berhenti? Sesungguhnya diriku tahu alasannya

Namun, mulut pengkhianat ini tidak akan pernah mengucapkannya


Mataku melihat awan dan dirinya telah terpecah, memunculkan sang surya

Jalanan yang sepi mendadak ramai dengan langkah-langkah kaki manusia

Di antara mereka yang lalu lalang, kakikku terhenti untuk menunggu

Ketika mataku mengarah ke bawah, luapan air masih menampakan senyummu


Tangerang, 22 Januari 2026

Puisi ini ditulis oleh: Rizqia Azzahro

Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

Posting Komentar