15 Puisi Bertema Hujan yang Menyimpan Rindu, Luka, dan Harapan
![]() |
| ilustrasi daun yang kehujanan (unsplash.com/Hannah Domsic) |
Dalam artikel ini, tersaji 15 puisi bertema hujan dari berbagai penulis dengan sudut pandang yang beragam. Setiap puisi menghadirkan hujan bukan sekadar cuaca, melainkan ruang perenungan yang dekat dengan pengalaman manusia.
Pemilik Hujan
Karya: Putri Natasya Islamadina
Melodinya lembut
Menyentuh raga yang sepi
Dalam hembusan mesranya
Tapi, ada namun disana
Gemuruhnya mulai menggema
Disusul racauan penyintas
Kemelut angan parau
Tergilas kecewa katanya
Adakala hadir tanpa kalam
Mencipta ribuan umpat
Mengurai sebab air bah datang
Salah siapa? salahnya bukan?
Meringkuk mesra mengharap kasih
Rintik ini milik-Mu
Wangi tanah ini oleh-Mu
Pemilik hujan, pemilikku
Semarang, 21 Januari 2026
Harmoni Hujan
Karya: Lkwrtesmthing
Langit yang mengeluarkan air mata
Ia selalu bernada dengan sendu
Tetesan air yang mengalir
Perasaan boleh saja datar
Membawa keberuntungan dalam semesta
Bagaikan sebuah rasa syukur kenikmatan
Tanpa ragu memberikan penghargaan
Dapat membantu makhluk hidup
Saat bertahan hidup
Suara hujan ternyata setenang itu
Terlihat sederhana
Layaknya orang introvert
Surabaya,21 Januari 2026
Jeda di Antara Hujan
Karya: Indri Ardariswari
Sore ini hujan turun dengan deras,
mengguyur bumi atas kuasa-Nya
Di dekat jendela, aku terdiam
mencoba mencerna tentang apa yang ku rasa
Hujan datang di ujung senja,
membasuh hari yang mulai lelah,
Perlahan ia jatuh,
seperti harapan yang nyaris terlupakan
Di luar langit kelabu masih menggantung,
Seperti doa-doa yang belum terwujud,
Ya! Tak apa, aku masih setia menunggu
Dalam diam ku menghitung nafas yang kadang terasa berat,
Mungkinkah tubuh ini mulai lelah?
Tapi sepertinya aku baik-baik saja
Atau aku hanya pura-pura?
Ada yang bilang: seseorang butuh jeda dalam hidupnya
Jika nanti hujan sudah reda,
aku harap ada pelangi diujung langit,
Yang menyisakan harap untuk terus tumbuh
Kuningan, 21 Januari 2026
Hujan Rindu
Karya: Fitri Safarani
Di bawah payung aku meneduh
rintik rintik syahdu , membawa bisikan rindu kehangatan.
Hujan turun tanpa jeda , seperti waktu yang kehilangan arah
Dibalik tirai hujan ada rindu rindu tak berhenti pada harapan
Hujan membawa kenangan lama
Menyelimuti rindu masa anak kecil yang bermain hujan
Mimpi mimpi besar dimasa sekarang seperti banyaknya hujan yang tak bisa terhitung banyaknya
setiap tetes yang jatuh adalah ujian bagi hati yang tabah.
Dan setelah semuanya reda , kita belajar dari luka yang basah
Banyumas, 21 jan 2026
Senandika dalam Rinai Hujan
Karya: nanadongie_
Aku masih teringat akan senyumanmu
Yang selalu cerah bagaikan arunika
Selalu teringat akan parasmu
Yang indah seperti sang bumantara
Akan tetapi ...
Kala itu, rinai hujan membasahi zona kita
Kau perlahan berjalan jauh meninggalkan ku
Suara tetesan rinai itu bagai menertawakan diriku
Yang masih mengharapkan kehadiranmu disisiku
Kini senyum yang bagai arunika telah redup
Begitu pula sang bumantara yang kini berawan
Kupikir ikatan ini akan selalu abadi dan pasti?
Seperti mendung yang akan diikuti oleh turunnya rinai hujan
Lalu muncul sebuah kumpulan warna indah yakni pelangi
Namun ternyata ...
Rinai hujan tak selalu muncul pelangi
Terkadang, kilat juga akan menyambar dengan cepat bukan?
Ikatan itu kini perlahan hirap meninggalkan sebuah harsa dan sendu
Sebuah memori yang akan tersimpan erat dalam kalbuku
Selamat tinggal engkau yang abadi dalam rinai hujan
Purworejo, 21 Januari 2026
Cursed
Karya: Death
Cantik, kamu selalu tampak lebih cantik saat sedang bersedih
Seperti musim semi yang akan semakin bersemi ketika hujan mulai datang menghampiri
Seperti bunga-bunga yang bermekaran dengan indah di musim semi
Aku juga sangat menyukai momen saat hidung mungilmu mulai merona pada wajah seputih salju yang begitu bersih
Hujan tak kunjung pergi semenjak kepergianmu
Matahari tak lagi terbit setelah malam terkutuk itu
Tak ada lagi cahaya dalam hidupku yang beku dan berdebu
Hanya ada gelap dan abu yang mulai melahapku dalam rindu
Lucu, padahal sebenarnya aku yang pergi meninggalkanmu
Dengan lancang aku datang dan pergi dalam hidupmu seperti hantu
Dulu, aku tiba-tiba datang menghantuimu
Dan kini, kau datang membalas dengan memberi kutukan padaku
Aku terperangkap dalam genggamanmu
Kau mengurungku dalam hatimu, tanpa pernah benar-benar memberikan kuncinya padaku
Kini pikiranku penuh sesak dengan wajah cantikmu, hingga membuat kamar kecilku selalu banjir hanya karena teringat hal-hal kecil tentangmu
Membuatku berakhir tenggelam dalam hujan terkutuk bernama, kamu
Gresik, 21 Januari 2026
Persembahan
Karya: Domi Senjja
Tidak mungkin kemarau bisa menyentuh taman
tempat bunga pujaanku berada.
Jiwa hujan akan melingkupi taman itu,
dan jiwa itu adalah jiwa
yang memancar dari cintaku.
Bagaimana kesengsaraan
akan mengenyahkan embun
yang direstui pelangi?
Maka kesia-siaan semata
yang didapat oleh para pembenci
yang hendak meluluhkan
cintaku dan cintanya.
Lihatlah,
segala awan yang melindungi bukit,
yang kemudian menciptakan panorama
pembangkit pujian.
Puncak termegah pun
akan luluh kemegahannya,
karena segala mata takjub
dan tertuju pada kisah kita.
Maka,
telah terbuka jalan sengsara
yang tak diambil orang,
jalan yang kita pilih,
yang pada akhirnya jagat raya
memberi hadiah terbaik
atas nama kesetiaan
dan keteguhan.
Semua atas nama cinta.
Karena selain namaku
dan namamu,
juga nama cinta,
aku tidak mengenal
nama yang lain.
Lihatlah,
edelweis dan magnolia tersipu,
karena di antara mereka
ada kamu dan aku.
Lihatlah,
embun-embun tertunduk,
karena senyumku dan senyummu
lebih hangat dan teduh
dibanding cahaya mentari.
Demi cinta,
maka biarlah rumput-rumput berdoa
sebelum biji-bijian
ditebar angin.
Demi cinta,
biarlah bangau-bangau berdoa
dalam perjalanan pulang,
sebelum ia mendapatkan
anak-anaknya di sarang.
Demi cinta,
biarlah angin berdoa
di antara debu-debu
yang menguap ke angkasa,
sebelum hujan memanggil pulang
ke tempat dan keberadaannya.
Demi cinta dan atas nama cinta,
biarlah segala doa terangkai
menjadi kaki-kaki langit,
membendung hujan yang tercurah,
menampung angin yang berhembus,
mengumpulkan segala nyanyian
burung-burung di angkasa,
mengutip segala cahaya di langit,
Dan menjadikannya
satu tangkai
sebuah persembahan
yang kemudian
aku persembahkan
padamu.
Probolinggo, 22 Januari 2026
Petrikor
Karya: Nadya Miftaqul Janah
Di kala hari itu
Muncul rintik-rintik nan sendu
Pencari senja pun bersyukur
Nikmat air yang membasuh peluh
Rintik-rintik itulah pertanda
Untuk semua yang lelah beristirahat
Sejenak nikmati alam
Nan elok dipandang mata
Semua pergi keluar
Nikmati nuansanya
Aroma hujan yang menyegarkan
Tak pernah dilupakan
Sejenak pura-pura lupa
Masalah yang menghadang
Amunisi untuk berjuang
Nikmati hari dengan senyuman
Surabaya, 23 Januari 2026
Sayatan Hujan
Karya: Amelia Sudargo
Rintik itu perih ...
Gemuruh itu berkecamuk ...
Basah itu mengiris kalbuku ...
Hingga sampai tiba aku mengingatmu lekat-lekat ...
Petir itu mengagumimu ...
Aku terpana ...
Kenang bisa sebuas itu ...
Merobek jantungku ...
Pada belaian hujan deras menghampiri tergesa-gesa...
Mengapa rasaku bergumul tak karuan ? ...
Padahal janjiku tak lagi bertekuk lutut ...
Di atas dia yang mengambil seluruh kendali ...
Menggenggam jiwa ...
Yang menari ke sana ke mari ...
Hujan ini seperti darah ...
Yang mengaliri pembuluh memoriku ...
Adakah tiada yang berbesar hati menerima kehilangan ? ...
Sebagai cara seadil-adilnya untuk mengucapkan selamat tinggal ...
Tangisan Surgawi
Karya: Hesky Rohi
Dengar tangisan surgawi
Kelebat awan hitam menguasai
Ia seumpama tumpahan air mata
Menangisi ketiadaan sang tercinta
Dengar tangisan surgawi
Hawa dingin merasuk
Ia seumpama penodong
Yang memaksaku hidupkan juang
Dengar tangisan surgawi
Hampa menghampiri
Ragaku letih-lesu
Sebab jiwa tertatih tanpa temu
Aku rasa tangisan surgawi
Bukan sukacita yang ku impi
Ia terasa ejekan anak kecil
Mengganggu ingatan yang perlahan kebal
Tangisan surgawi jelmaan mesin waktu
Pertemukan aku dengannya bertatap
Saat berdua meramal harap
Kelak altar jadi tempat memadu
Di kemudian hari,
Tuhanlah penentu
Apalah arti cincin tanpa restu
Jika akhirnya kita berjalan sendiri
Tangisan sorgawi jadi dayang
Bukan penghias pelaminan
Ia pengingat kala renggang
Memaksa rebah tanpa tujuan
Kupang, 22 Januari 2026
Rintik Ketenangan
Karya: Dina Maria Hutapea
1 Suasana, 1 wadah
Berbagai Cerita, Berlapis Suasana
Beraneka ragam mikroorganisme menjumpai dunia
Menguapkan aroma yang menenangkan sel saraf
Rintik, penawar semua perasaan & derita
Keluar bersamaan hingga tak terlihat wujudnya
Senang yang menguar keindahan pelangi
Endapan sakit dialam bawah sadar yang mendobrak keluar
Rintik, menenun dopamin dari butiran air yang jatuh,
Menghanyutkan kortisol menuju hulu sungai,
Membuka gerbang kesedihan,
Tempat segala kenangan & Luka yang tak terlihat dasarnya.
Rintik,
Pelukan ternyaman dan tenang setelah ibu,
Menonjolkan keindahan yang tak terurai dengan kata kata,
Menyuburkan kembali dunia yang kehilangan harapan.
Laguboti, 25 Januari 2026
Hujan Harapan
Karya: Ketut Ariyanti
Semilir angin hadirkan mendung
Awan hitam membawa sejuta harapan
Rintik hujan yang kian lama ditunggu, akhirnya turun membasahi
Harum tanah yang sudah lama kurindukan
Masih pada harapan yang tak pernah padam
Meski semesta tak pernah ramah
Harapku selalu cemas akan masa depan yang katanya indah
Ada lelah yang belum ku ceritakan
Hujan datang menyiram harapanku yang mulai gersang
Mengajarkan yang jatuh bukan berarti lemah
Bahwa menangis bukan tanda kalah, karena jiwa perlu sedikit bernapas
Di balik langit yang mendung, aku temukan sebagian diriku yang masih bertahan menanti pelangi yang akan bersinar
Palembang, 25 Januari 2025
Kisah Wajah Basah
Karya: Valya Hanindita A.
Matanya sembab merekah
Mereka kira cabai yang salah
Kala itu rintik hujan di kepala
Ke mana, entah jalan apa dilaluinya
Merindu seseorang, katanya
Namun seekor pun dia tak punya
Sepeser t'lah raib dari dompet
Direnggut tangan biadab pencopet
Tercinta, di matanya muncul sembilu
Ramah, bersahaja, dan rupawan itu
Wajahnya kini kian basah
Bukan hujan, namun air mata resah
Rindu, dirinya begitu rindu
Didekapnya erat setengah mati
Surya mengintip di balik kelabu
Senyum teriris setengah hati
Datang anak penjaja tisu
"Untuk ingusmu," ia tersipu
Berhembus itu dengan lantang
Barangkali malam ini penuh gemintang
Martapura, 26 Januari 2026
Reda
Karya: Ghivan Christine
Tetes air yang menitik turun membasahi tanah tempatku berpijak
Menggenangi jalan saat kakiku melangkah
Menatap setiap genangan yang berubah menjadi lingkaran air yang berpusar
Membuat ingatan mengalir deras akan bayang yang sudah mulai memudar
Bayang wajahmu yang sempat terkubur debu
Hadir mengusik ingatan dalam simfoni gemericik yang beradu rindu
Setiap tetes hujan laksana bisikan tentang waktu yang membeku
Saat kita berbagi payung, tanpa ada ragu di antara kita
Kini langit seolah mengerti kalimat yang tak sempat terucap
Tentang rindu yang acapkali menyesakkan dada, bagai ditindih batu
Dingin ini menusuk, namun kenangan akan bayangmu jauh merasuk ke dalam sukma
Memaksa aku berhenti sejenak di gedung tua
Menunggu hujan mereda atau mungkin menata rindu
Hingga air yang tergenang tak lagi menorehkan duka
Dan rindu akan bayangmu mereda
Hingga aku bisa kembali melangkah tenang tanpa bayangan gelapmu
Jakarta, 26 Januari 2026
Hujan dan Sepatu Kaca
Karya: Tresna_
Langit menunduk, menjatuhkan rindu satu per satu ke bahu kota
jalan-jalan berkilauan
seperti meneriakan setiap rahasia
Dimana langkahku menjadi gema
yang belajar sabar dari dinginnya waktu sambil berlalu
Di sela genangan malam,
ada bayang diriku
Ia tengah melangkah hati-hati, takut retak
Setiap pijakan terdengar
hening,
seolah keberanian terbuat dari kayu tua yang rapuh,
namun langkahku tetap memilih maju meski diguyur derasnya tangisan langit
Tetiba angin menyelipkan cerita lama, memoar tentang kita, juga tentang rumah yang tak pernah sempurna,
aku menunduk,
menimbang arah
antara terus berjalan pulang,
atau larut bersama kilau yang fana?
Malam selalu memeluk segala basah
lampu-lampu bergetar seperti doa
Di gang sempit itu, aku tertampar sebuah pesan
Dari hujan dan sepatu kaca
Aku belajar,
bahwa deras nya cukup dilalui,
entah sambil berjalan atau berlari
Serta tak semua yang indah bisa dimiliki,
Terkadang kita perlu mencukupkan diri,
Dengan menatap keindahannya dari jauh
Saat langit kembali reda
tinggal lah bekas langkah yang memudar,
Kali ini aku pergi tanpa menoleh,
menyimpan satu pelajaran
bahwa yang paling indah sering datang sambil menguji, entah itu sepatu kaca mu atau hujan-Nya
Buitenzorg, 26 Januari 2026
Kelima belas puisi ini membuktikan bahwa hujan mampu menjadi medium yang lentur untuk berbagai emosi. Dari yang menenangkan hingga yang menyayat, semuanya hadir sebagai potret kejujuran batin.
Semoga rangkaian puisi bertema hujan ini bisa menjadi teman jeda bagi pembaca. Entah saat hujan benar-benar turun, atau ketika hati sedang basah oleh hal-hal yang tak terucap.
Nah, dari puisi-puisi di atas, mana yang menjadi favorit kamu? Coba berikan alasannya juga di kolom komentar, ya. Kalau kamu mau belajar menulis juga bersama mereka dan 800+ member lainnya, bisa bergabung ke Ufuk Literasi juga, lho.
