Step by Step Menjadi Penulis Autentik, Menyemai Diri melalui Karya Buku Islami

Table of Contents
kumpulan lembaran naskah buku
ilustrasi kumpulan lembaran naskah buku (pexels.com/cottonbro studio)
Menjadi penulis buku Islami berarti mulai melibatkan diri untuk menyemai nilai, refleksi, dan ketulusan dalam setiap tulisan. Bagi penulis pemula, perjalanan ini tentu tidak selalu mudah sampai akhirnya mampu menghasilkan sebuah buku Islami yang utuh. 

Tantangannya beragam, mulai dari menentukan tema, menemukan gaya bahasa yang sesuai dengan pembaca, hingga menjaga pesan agar tetap membumi dan tidak terasa menggurui. Alih-alih sekadar mengikuti tren, kunci utama dalam menulis buku Islami justru terletak pada authenticity yaitu kemampuan menyajikan pesan dari hati yang tulus.
 
Sepanjang berkarya di dunia kepenulisan, alhamdulillah saya, Kak Reyvan Maulid, telah menerbitkan tiga buku bergenre Islami. Salah satunya bahkan berhasil masuk ke toko buku Gramedia, yaitu Kumpulan Khotbah Jumat Sepanjang Tahun Hijriyah. 

Proses tersebut bukan hanya tentang menulis naskah, tetapi juga tentang membangun niat, konsistensi, dan kedalaman pesan agar karya yang dihasilkan benar-benar bermanfaat. Menulis buku Islami pada hakikatnya juga merupakan proses tazkiyatun nafs (penyucian diri) dalam bentuk karya. Setiap paragraf bisa menjadi ruang muhasabah, dan setiap bab dapat menjadi perjalanan spiritual yang tidak hanya menyentuh pembaca, tetapi juga menumbuhkan penulisnya. 

Nah, karena itu, penting bagi penulis pemula untuk memahami bahwa menulis buku Islami bukan sekadar proses kreatif, melainkan juga perjalanan ruhani. Berikut adalah step by step yang bisa kamu ikuti. Simak sampai akhir, yuk.

1. Luruskan Niat Sebelum Menulis

Langkah paling mendasar dalam menulis buku Islami adalah meluruskan niat. Tanyakan terlebih dahulu pada diri sendiri. 

Apakah kamu menulis buku ini untuk dikenal atau sekadar berbagi kebaikan? Niat yang lurus akan sangat memengaruhi arah tulisan dan konsistensi dalam berkarya.
 
Ketika niat diarahkan untuk dakwah dan berbagi manfaat, tulisan akan terasa lebih hidup. Pembaca pun dapat merasakan kehangatan pesan karena berasal dari hati yang ingin menyampaikan kebaikan. 

Saya pribadi menerapkan hal ini saat menulis buku Kumpulan Khotbah Jumat Sepanjang Tahun Hijriyah. Sejak awal, saya tidak berfokus pada penjualan besar atau ketenaran karya. Mindset yang saya bangun adalah bagaimana buku tersebut tidak hanya menyajikan tema khutbah yang pasaran dan berulang di banyak forum masjid.
 
Sebagai penulis, saya mencoba mem-breakdown tema khutbah berdasarkan bulan Hijriyah dalam satu tahun. Dari situ, saya mencari momen penting di setiap bulan, lalu menarik benang merah topik yang relevan dan lebih kontekstual. Pendekatan ini membuat naskah terasa lebih terarah.
 
Saya juga sempat diminta editor untuk mengajukan outline. Tanpa banyak revisi, outline tersebut langsung disetujui karena memuat topik-topik yang jarang dikuliti oleh khalayak luas. 

Misalnya pada bulan Safar, saya mengangkat topik Rebo Wekasan sebagai tradisi yang dikenal di masyarakat Jawa, Sunda, dan Madura pada Rabu terakhir bulan Safar. Pada bulan Rajab, saya mengangkat tema salat sebagai mikraj spiritual karena perintah salat berkaitan dengan peristiwa Isra Mi’raj.

Sementara pada Jumadil Akhir, saya mengaitkannya dengan falsafah Jawa “urip mung mampir ngombe” sebagai refleksi bahwa hidup bersifat sementara. Dari situ lahir berbagai tema khutbah yang lebih kontekstual.

2. Tentukan Tema yang Dekat dengan Dirimu

Tema yang autentik biasanya lahir dari pengalaman pribadi, bukan dari topik yang dipaksakan terlihat berat. Penulis pemula akan lebih mudah menulis ketika membahas hal yang pernah dialami, dirasakan, atau sedang dipelajari. 

Contohnya, jika kamu sedang belajar istikamah salat tepat waktu, kamu bisa memilih tema seperti “Perjalanan Menjaga Salat di Tengah Kesibukan”. Tema ini jauh lebih realistis dibanding langsung memilih topik besar seperti “Filsafat Ibadah dalam Islam” yang terlalu luas dan berat untuk pemula.

Tema yang dekat dengan diri akan membuat ide mengalir lebih natural. Jangan khawatir atau merasa ini akan biasa saja, anggap saja kamu sedang proses belajar dan siap menerima feedback dari pembaca untuk meningkatkan kualitas tulisan ke depannya.

3. Perbanyak Bacaan Buku Islami sebagai Fondasi dan Bahan untuk Riset

Membaca buku Islami akan memperkaya kosakata spiritual, sudut pandang, dan muatan pesan dalam tulisan. Hal ini penting agar tulisan tidak terasa dangkal dan tetap memiliki landasan nilai Islam yang kuat.

Sebagai contoh, sebelum menulis tentang sabar, kamu bisa membaca tafsir ringan, buku refleksi Islami, atau artikel tentang makna kesabaran. Dengan bekal bacaan tersebut, tulisan tidak hanya berhenti pada kalimat “Bersabarlah dalam ujian”, tetapi bisa berkembang menjadi, “Sabar itu tandanya adalah Allah sedang menyusun kebaikan di balik setiap ujian.”

4. Temukan Ciri Khas Tulisanmu (Writing Voice)

Setiap penulis memiliki karakter yang khas. Ada yang reflektif, ada yang terkesan puitis, dan ada pula yang gayanya motivasional. Penulis pemula tidak perlu meniru gaya penulis lain, melainkan menemukan karakter yang paling nyaman dan sesuai kepribadian.

Misalnya, gaya yang terlalu menggurui seperti, “Kita harus selalu bersyukur dalam kondisi apa pun,” bisa diubah menjadi lebih reflektif: “Aku pernah merasa sulit bersyukur saat hidup terasa berat, sampai akhirnya kusadari bahwa nikmat Allah tidak pernah benar-benar berhenti.”

Nah, terasa perbedaannya, kan? Gaya tulisan yang kedua pasti terasa lebih menyentuh hati pembaca.

5. Gunakan Bahasa yang Sederhana tapi Mengena

Buku Islami tidak harus menggunakan bahasa yang begitu kompleks. Justru, bahasa yang sederhana dan relatable akan lebih mudah dipahami dan menyentuh hati pembaca, terutama generasi muda.

Sebagai contoh, kalimat seperti, “Implementasi kesabaran merupakan manifestasi ketakwaan yang kompleks,” dapat disederhanakan menjadi, “Sabar itu tidak mudah, tetapi di situlah Allah sedang melatih hati kita agar lebih kuat.” 

Bahasa sederhana tetap tidak kehilangan nilai spiritualnya. Paling penting kamu juga harus memperbanyak membaca referensi supaya lebih terbiasa dalam mengolah kalimatnya.

6. Sisipkan Dalil dan Nilai dengan Bijak

Dalil Al-Qur’an dan hadis merupakan elemen penting dalam buku Islami, tetapi perlu disisipkan secara relevan dan tidak terasa dipaksakan. Penjelasan yang membumi akan membantu pembaca memahami makna dalil dalam kehidupan sehari-hari. 

Contohnya, saat membahas tentang syukur, kamu bisa mencantumkan Al-Qur'an Surat Ibrahim ayat 7 bahwa Allah menjanjikan penambahan nikmat bagi hamba yang bersyukur, lalu mengaitkannya dengan hal sederhana seperti bersyukur atas kesehatan, waktu, dan kesempatan beribadah. 

Nah, dengan begitu, dalil tidak hanya dicantumkan, tetapi juga dihidupkan dalam konteks keseharian. Selalu kaitkan tulisan bertema islami dengan kehidupan sehari-hari akan membuat bukumu nanti makin mengalir dan dekat dengan pembaca.

7. Tetap Konsisten Menulis, Meski Sedikit

Banyak penulis pemula berhenti karena menunggu mood atau ingin langsung menulis dengan sempurna. Padahal, buku Islami lahir dari kebiasaan menulis yang konsisten, bukan dari sekali duduk langsung selesai.

Contoh yang realistis adalah menulis 300 kata per hari berupa refleksi setelah salat, membaca Al-Qur’an, atau pengalaman spiritual harian. Dalam 30 hari, kamu sudah memiliki sekitar 9.000 kata yang bisa menjadi cikal bakal naskah buku reflektif Islami.

8. Lakukan Editing sebagai Proses Pemolesan Karya

Editing bukan hanya memperbaiki typo, tetapi juga memurnikan pesan agar tetap lembut, bijak, dan tidak menghakimi pembaca. Ini sangat penting dalam tulisan Islami yang sarat nilai. 

Misalnya, kalimat “Orang yang tidak sabar berarti imannya lemah” dapat diperhalus menjadi, “Aku pernah belajar bahwa kurang sabar sering kali bukan karena iman lemah, tetapi karena hati sedang lelah dan butuh dikuatkan.” Hasil editing membuat nada tulisan lebih empatik dan menenangkan.

9. Berdoa dan Libatkan Allah dalam Proses Berkarya

Menulis buku Islami sebaiknya selalu diiringi doa agar tulisan diberi keberkahan dan manfaat. Doa juga menjaga hati tetap ikhlas serta tenang ketika menghadapi keraguan atau writer’s block.
 
Sebelum menulis, biasakan berdoa: 
“Ya Allah, mudahkan aku menulis kata-kata yang membawa kebaikan dan tidak menjauhkan dari-Mu.” 
Ketika mengalami kebuntuan ide, kamu bisa berhenti sejenak, membaca Al-Qur’an, lalu kembali menulis dengan hati yang lebih jernih.
 
Pada akhirnya, menjadi penulis autentik dalam genre Islami bukan tentang seberapa indah kata yang ditulis, melainkan seberapa jujur hati yang dituangkan. Setiap tulisan adalah cermin perjalanan iman, refleksi diri, sekaligus bentuk dakwah yang lembut melalui karya. 

Mulai dari langkah kecil, tema yang dekat, dan bahasa yang sederhana. Seiring waktu, tulisan akan tumbuh sejalan dengan pertumbuhan diri. Buku Islami yang autentik bukan hanya dibaca oleh orang lain, tetapi juga menjadi saksi perjalanan kita dalam menyemai diri agar semakin dekat kepada Allah.
 
Barakallahu fiik.

***

Tentang Penulis

Reyvan Maulid adalah nama akrab seorang laki-laki asal Mojokerto, Jawa Timur. Sehari-hari, ia berprofesi sebagai freelance content writer. Melalui Tagline Awaiting Your Writing, kini, ia sudah memiliki sepuluh karya non-fiksi yang berhasil dibukukan berkaitan dengan edukasi dan motivasi islami. Laki-laki pencinta baso aci ini bisa dijumpai lewat akun Instagram @reyvanmaulid.
Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

Posting Komentar