[CERPEN] Batik Bu Irma

Table of Contents
kumpulan kain batik
ilustrasi kumpulan kain batik (unsplash.com/iniizah)
Udara dingin menusuk kulit Keysa yang putih pucat ketika berdiri di dekat jendela kaca dalam rumahnya. Malam ini hujan deras mengguyur Jogja. Rasanya baru kemarin dia masih merasakan hangatnya keluarga yang utuh. 

Kini, rasanya sepi karena orang tua Keysa pergi meninggalkannya, mereka meninggal beberapa tahun lalu. Kesendirian itu semakin menjadi karena kedua kakaknya yang juga memilih untuk pergi. 

Entah apa alasan mereka pergi? Tapi, Keysa yakin ini karena perlakuan yang berbeda orang tua Keysa pada mereka. 

Keysa melangkah gontai menuju dapur. Dia menyeduh segelas teh untuk menghangatkan badannya. Dia juga meraih gorengan yang dia beli tadi siang sepulang dari kampus. 

Tiba-tiba angin dingin masuk melalui lubang jendela, buru-buru dia menutupnya. Dia kembali duduk menikmati teh dan gorengan miliknya. “Andai ayah dan ibu masih ada. Mungkin aku nggak akan sendirian lagi,” gumamnya pada diri sendiri. 

Disela rasa rindunya, Keysa mengecek ponselnya. Dia ingat, pacarnya mengirim pesan yang belum dia balas. Bima, pria yang dipacarinya selama 5 tahun mengajaknya ikut kelas membatik besok sore. 

[Boleh, jemput aja yang.] Balas Keysa pada Bima.

Setelah cukup lama hujan mengguyur, akhirnya reda juga. Keysa beranjak langsung ke kamarnya, melanjutkan belajar di dalam sana. 

“Sepi banget ya. Oh iya, dengerin musik ah,” ujarnya sambil berdiri. 

Entah kenapa dia ingin mendengarkan lagu-lagu lama yang sering didengar ayahnya dulu melalui radio. Dia mencari dimana radio milik ibunya. Radio peninggalan orang tuanya, benda yang menyimpan banyak kenangan. 

Ayah Keysa dulunya seorang penyiar berita di salah satu stasiun radio dalam negeri. 

“Aku ingat betul ibu menyimpannya di sini.” Keysa menyibak kardus-kardus lama tempat dimana ibunya menyimpan radio itu. 

Hatching! Debu bertebaran membuat Keysa terbatuk. Meski begitu, matanya berbinar ketika menemukan benda yang dicarinya. “Ketemu juga!”

Dibawanya radio usang itu ke atas meja. Dia mulai menekan tombol ‘on’ dan menunggu sejenak sampai radio itu mengeluarkan suara. 

Tapi, bukan suara yang diharapkan Keysa. Radio itu hanya mengeluarkan bunyi kresek-kresek yang tersendat-sendat. Suaranya hilang timbul tak enak didengar. Sesekali Keysa menepuk bagian atas radio itu. Tapi sia-sia. 

“Apa perlu dicolokkan ke stop kontak, ya?” tanyanya pada diri sendiri, sambil mengamati kabel listrik yang menjuntai. 

Cepat-cepat dia menyambungkannya ke stop kontak. Tapi, suaranya malah menghilang. “Loh!” pekiknya, “kok malah jadi hilang suaranya. Apa jangan-jangan radionya rusak,” gerutunya. Refleks tangannya menepuk radio itu berulang-ulang. Satu kali, dua kali, sampai akhirnya… Suara radio itu terdengar meski sangat pelan. 

“Ya, setidaknya bisa dinikmati,” ucapnya lega sambil melihat foto keluarganya. Malam telah larut, membuatnya terlelap dalam kerinduannya akan masa-masa indah itu. 

***

Setelah malam yang Keysa lewati dengan kesedihan dan penuh rindu. Dia memutuskan untuk menjalani hari ini dengan bahagia. 

Diambilnya baju terbaik di lemari, memakai make up agar terlihat cantik di depan sang pacar. Dia akan menghabiskan waktu berkencan hari ini. Mereka akan melakukan Batik Date, ya begitulah anak-anak sekarang menyebutnya. 

Bima memang yang terbaik. Sebagai pacar dia tahu kalau Keysa sangat tertarik dengan batik, bahkan selain kesibukan kuliah semester akhirnya. Keysa juga mempunyai bisnis berjualan batik. Dan, kali ini dia akan mengetahui bagaimana caranya membatik. 

Padahal, setiap harinya dia cuma bisa melihat batik yang sudah jadi di Pasar Beringharjo. Disana, Keysa berkulakan batik untuk bisnis jualannya. 

Suara motor vespa terdengar samar dari kejauhan. “Itu pasti Bima,” gumam Keysa. 

Benar saja, Bima sudah datang membawa motor vespa kesayangannya yang berwarna krem. Memarkirkannya di depan dan berjalan masuk ke Rumah Keysa. 

“Yang… Udah siap belum?” teriak Bima dari luar. 

“Iya yang, tunggu! Tinggal pakai lipstik aja nih.” 

“Oke. Aku tunggu disini ya,” sahut Bima yang langsung duduk di kursi ruang tamu. 

Tak lama, gadis itu keluar mengenakan bawahan batik dan atasan polos warna hitam dengan hijab senada, membuat sang pacar terperangah kagum. “Cantik banget sih.”

Keysa tersipu. “Berangkat sekarang?”

Pasangan itu meluncur ke tujuan mereka. Batik Seno, tempat dimana mereka akan mengikuti kelas membatik hari ini. 

Semua peserta disambut baik, bahkan beberapa cemilan untuk menemani kelas juga tersedia. Keysa melirik pisang goreng di wadah. “Aku jadi ingat ayah,” lirihnya saat melihat pisang goreng itu. 

Kelas membatik ini termasuk spesial karena tidak menerima banyak murid dalam satu kelas. Hanya ada 6 orang dalam kelas, Keysa memang memilih kelas private. 

Ada pasangan ibu dan anak, orang tua berumur 50 tahun, Keysa dan pacarnya, dan satu anak muda yang terlihat nyentrik. Sepertinya dia influencer, batin Keysa. 

Dari semua peserta kelas membatik ini Keysa tertarik dengan pasangan anak dan ibu itu. Mereka terlihat dekat satu sama lain, membuatnya rindu ayah dan ibunya. 

Keysa tersenyum ramah pada mereka, yang langsung disambut ramah oleh mereka. “Rumahnya mana, ndug?” tanya ibu itu padanya. 

“Daerah pasar Beringharjo bu, kampung Ketandan,” jawab Keysa. Ibu itu mengangguk seraya tersenyum padanya. 

Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya memasuki ruangan. Yang kemudian Keysa kenal sebagai Bu Irma, guru yang akan mengajarkannya membatik. 

Bu Irma menjelaskan apa saja yang akan mereka lakukan di kelas membatik kali ini. Karena ini adalah pertama kali bagi Keysa, tentu dia sangat bersemangat. Sampai seseorang menjerit tiba-tiba… 

Ternyata sang influencer. Semua mata tertuju padanya. Bahkan Bu Irma sampai mendekat. “Ada apa?” tanyanya. 

“Ada cicak jatuh bu.”

Bahu si influencer bergetar karena kegelian. Keysa sedikit melongok, ternyata benar ada cicak mati berwarna hitam yang sudah jatuh ke lantai. 

“Waduh ciloko! Cecak ireng bertanda sial lho. Kudu hati-hati,” ucap seseorang dengan suara serak. 

Keysa menoleh sumber suara itu. Orang tua dari kelas membatik, yang berusia 50 tahunan sudah berdiri di samping Keysa. Raut wajah orang itu serius seakan ucapannya tidak main-main. 

Entah kenapa membuat hati Keysa ciut, dia tinggal sendirian. Tangannya menarik sang pacar mendekat. Berusaha mencari ketenangan dari memegang tangan pria yang bersama 5 tahun. Pria itu seakan mengerti, dia membalas menggenggam erat tangan Keysa. “Tidak apa-apa,” bisiknya lembut di telinga Keysa.

Kelas kembali berjalan, hanya ada satu keanehan. Bu Irma tiba-tiba saja membagikan sapu lidi ke semua peserta. “Sebelum mulai membatik, mari kita bersihkan dulu ruangan ini dulu—”

“Menggunakan sapu lidi?” potong Bima. Sebenarnya Keysa juga heran kenapa lantai berkeramik harus disapu, apalagi menggunakan sapu lidi. 

Bu Irma hanya mengangguk. “Kelas akan dimulai jika kalian sudah menyapu ruangan ini,” tatapannya dingin. Membuat orang-orang di sana termangu sesaat lalu mulai menyapu. 

Satu sapuan, dua sapuan, hingga di sapuan ketiga kaca jendela berdentum keras mengagetkan semua orang. Keysa sempat terlonjak. Saat itulah Bu Irma meminta peserta menghentikan kegiatan menyapu. Dan, kelas resmi dimulai seperti kebanyakan kelas membatik. 

Setelah kelas membatik selesai, Keysa dan Bima pulang bersama. Selama di perjalanan, Keysa masih terpaku dengan kejadian tadi. Kelas membatik kali ini janggal, entah kenapa membuat Keysa takut jika ada sesuatu yang buruk padanya. 

Sesekali dia memejamkan mata mengalihkan pikirannya. Tapi gagal. Sampai tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Keysa. 

“Masih mikirin yang tadi, ya?” Bima menaikkan alis, melihat Keysa yang diam saja membuatnya khawatir. 

Keysa mengangguk. Dia tak mungkin bilang tidak. Bima mengeluarkan satu bungkus jajanan dari dalam tasnya. “Buat kamu.”

“Apa ini?” tanya Keysa bingung. Tangannya refleksi membukanya, “pisang goreng?” katanya.

Bima tersenyum. “Cemilan kesukaanmu, kan?” ujarnya sambil mengelus pipi Keysa. “Kejadian tadi jangan terlalu dipikirkan. Kalau gitu aku pulang ya.”

“Hmm, hati-hati ya…”

Bima kembali menyalakan motornya. Sebelum memutar gas, dia melihat Keysa. “Kalau ada apa-apa telepon aku, oke?” katanya. 

“Kamu juga, kalau sudah sampai rumah kabarin.”

Bima pergi meninggalkannya, dan menghilang di ujung jalan. Keysa berjalan masuk ke dalam rumah. Tapi baru saja dia membuka pintu hawa dingin langsung menyapanya. Kenapa tiba-tiba dingin banget? batin Keysa. 

Dia menatap seisi ruangan. Kosong. Tapi, kenapa hawanya bisa sedingin ini, Keysa yakin tidak meninggalkan rumah dalam kondisi pendingin menyala. 

Keysa meletakkan tasnya di kursi ruang tamu. Lalu menyalakan lampu. Matanya membuka lebar ketika melihat jendela kaca di depannya sudah pecah dan setengah terbuka. 

Keysa membersihkan pecahan yang masih berserak di lantai. Baru saja dia berjalan ke arah dapur, suara radio rusak milik almarhum ayahnya menyala tiba-tiba. Keysa terdiam, badannya kaku. Ketakutan menjalar dari sekujur tubuhnya. 

Apalagi saat dia mendengar suara seperti orang menyapu dengan sapu lidi di sekitar rumahnya. Matanya bergetar. 

Bima. Tiba-tiba Keysa teringat, dia harus menghubungi Bima pacarnya. Cepat-cepat dia berlari ke arah ruang tamu mencari ponselnya di dalam tas. 

Baru saja membuka tasnya dia melihat bungkusan lain disana. Kain batik dari kelas Bu Irma. Keysa mengeluarkannya dari tas. Entah kenapa dia ada perasaan gundah ketika melihat kain batik itu. 

Tangannya refleksi mengambil ponsel dan menelpon Bima. Tidak ada jawaban.

Sampai telepon ketiga, Bima baru menjawabnya. “Halo yang, kamu dimana? Aku takut. Jemput aku sekarang!” ucap Keysa sambil menahan tangis. 

Tapi, tidak ada jawaban apapun dari Bima. Hening.

“Halo, halo?!” teriak Keysa panik. 

Suasana rumahnya tiba-tiba berubah mencekam. Suara radio rusak itu mulai memutar tembang jawa yang membuat bulu kuduk Keysa meremang. 

“Key… Keysa?!” suara samar dari ponselnya terdengar. Itu suara Bima. 

Cepat-cepat dia menempelkan ponselnya ke telinga. “Yang, aku takut…” Keysa menangis. 

“Kamu keluar sekarang dari rumah! Aku akan menjemputmu. Jangan bawa kain batik dari kelas tadi. Dengerin aku! Langsung keluar.” 

Keysa mengangguk meski tak dilihat pacarnya. Lalu, setelah itu panggilan terputus. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi. 

Buru-buru dia mengemas barangnya dan mulai keluar rumah. Tangannya membuka pintu dengan gemetar. 

“Jangan pergi Keysa…,” suara itu muncul dari arah belakang Keysa. 

Keysa menoleh dan jantungnya seakan berhenti sejenak. “Ayah? Ibu?”

***

Tim Penulis

  1. Dhea Novianti Ramadhani, seorang gadis berusia 19 tahun. Sekarang, Dhea sudah masuk kuliah dan memilih jurusan akuntansi. Minat yang besar pada bidang menulis membuat Dhea ingin berpartisipasi lebih banyak dalam kegiatan menulis. Baik cerpen, puisi ataupun novel. Imajinasi dan hening menjadi hal yang khas untuk menggambarkan kepribadian Dhea.

  2. Yeni, Mahasiswa Semester 2 jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Suka genre angst dan penggemar karya kak Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Terus semangat kuliah (walaupun tidak suka matkul Morfologi) dan belajar menulis.

  3. Perkenalkan nama saya Farchah B Chazani. Sering dikenal dengan Farchahcha. Lahir tahun 1995, di salah satu desa di Jawa Tengah. Seorang ibu rumah tangga, saat ini berdomisili di Kota Kudus. Sudah dua tahun saya mendalami dunia literasi, saat ini fokus menulis di blog dan mengikuti kegiatan kepenulisan di beberapa komunitas. Alhamdulillah, saya sudah berkontribusi dalam dunia kepenulisan sebagai penulis di berbagai portal media lokal maupun nasional. 1 tahun menjadi reporter olahraga di sebuah web resmi Timnas, sekarang sedang berfokus sebagai blogger dan penulis novel di platform online. Blog pribadi saya: www.topnewsindonesia.com, saya juga sedang aktif menulis di platform medium, jika ingin lebih dekat follow instagram saya

  4. afr_gbrn merupakan nama pena dari Agnia Fadillah Rahmadini. Dia dikenal sebagai mahasiswa biologi di Universitas di Jawa Timur. Namun, Agnia sangat menyukai seni dan sastra sejak kecil. Meskipun bertolak belakang dengan pendidikannya sekarang, Agnia masih terus menulis dan belajar seni di sela-sela menempuh sarjana. Untuk dapat mengenalnya lebih jauh, bisa difollow akun @agniafr_ dan akun keduanya @adiniafr_

  5. Perkenalkan saya Wulan Fajriani. Nama pena saya Delan Wulan. Saya merupakan seseorang yang suka menulis. Tapi untuk sekarang belum bisa fokus menulis dan masih terus belajar buat menulis yang bagus. Novel pertama saya “Rahasia Elvina” , dan saya juga punya blog https://wulan-penyihirkata.blogspot.com/?m=1 dan https://medium.com/@nurwulanf95 atau bisa ke instagram @wulanfajriani untuk mengenal saya lebih jauh ya. Senang berkenalan dengan sesama pecinta nulis dan baca

Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

Posting Komentar