[CERPEN] Daun Naga Pematah Kutukan
![]() |
| ilustrasi naga (pexles.com/Lily Lili) |
Ayah tersenyum lemah. “Ini hanya kelelahan, Kaelen. Jangan khawatir.”
Namun, Kaelen tahu itu bukan sekadar kelelahan. Tubuh ayahnya semakin lemah. Setiap malam, kerap terdengar erangan kesakitan yang ditahan.
Ibu memanggil Kaelen. “Anakku, jika kita tidak bertindak cepat, kita bisa kehilangan Ayah. Kau harus pergi ke tengah hutan sihir. Temui seorang kakek tua yang dikenal sebagai Penjaga Hutan. Hanya dia yang mungkin tahu cara menyelamatkan Ayah.”
Kaelen menelan ludah. “Aku akan pergi, Ibu. Apa pun risikonya.”
Kaelen dikenal sebagai anak tunggal dari keluarganya yang merasa bersalah atas kutukan Ayah karena dirinya. Ketika Kaelen menyanggupi permintaan Ibu, Ayah memberikan nasihat kepada anaknya agar berhati-hati. “Nak, kalau kamu mau ingin mencoba menghilangkan kutukan Ayah kamu harus ingat petunjuk ini, ya. Agar kamu tidak salah melangkah dan melakukan kesalahan yang sama seperti Ayah dahulu.”
“Letak hutan itu harus dilihat pakai peta ini, agar dirimu bisa bebas dan yang tahu hanyalah dirimu seorang, jangan libatkan orang lain selain dirimu.”
***
Sebelum Kaelen memasuki Hutan Eldoria, ia sedikit bimbang apakah bisa menelusuri tanpa hambatan atau justru tidak berakhir selamat. Suara kicau burung yang berada di perjalanan membuat Kaelen merinding sampai ada seseorang yang memanggilnya.
“Nak, kamu mau ke mana?” Suara itu mengagetkan dirinya, sementara di sana hanya terdapat dia seorang. Tak tahu harus bagaimana, alhasil ia berlri sampai dirinya berada di Hutan Eldoria.
Apakah ini tempatnya? Kalau berdasarkan petunjuk sih, iya. Lalu, Kaelen mencoba memasuki hutan tersebut dengan hati-hati.
“Permisi, apakah ini benar Hutan Eldoria?” ujarnya.
Lalu, seorang kakek tua muncul dari satu sisi. “Iya benar Nak, ada butuh apa dirimu ke sini?" tanyanya.
“Aku hanya ingin menghilangkan kutukan Ayahku, tidak ada yang lain,” ujarnya.
Sang Penjaga Hutan terdiam sambil berpikir, lalu berucap, “Tapi, sebelum itu ada tugas yang harus kau penuhi karena kutukan ayahmu ini cukup langka diantara yang lainnya.”
“Apa yang harus aku lakukan untuk menebus ini semua?” tanyanya
"Kau, harus cari daun berbentuk naga di Tanah Kematian. Aku berikan burung penjagaku untuk mengarahkanmu ke sana,” jelas Sang Penjaga Hutan.
***
Kaelen menarik napas panjang sambil berjalan mengikuti burung penjaga, membulatkan tekad bahwa ia tidak boleh gagal dalam tugas ini. Harapan hidup Ayah hanya bergantung kepadanya.
Tanah Kematian menyambut Kaelen dengan raungan para naga. Ia memegang lututnya agar kakinya berhenti gemetar. Kaelen melangkah masuk ke dalam dengan keberaniannya. Udara seketika berubah menjadi lebih kering dan panas. Pada retakan tanah di bawah kakinya, tidak ada satupun tanaman yang tumbuh. Kaelen menutup mulut dengan lengannya, berusaha mengurangi udara yang menghantamnya. “Siksaan ini benar-benar lebih buruk dari kematian yang aku bayangkan,” gumamnya.
Di kejauhan, berdiri satu pohon besar yang tumbuh tidak beraturan. Akarnya mencuat ke permukaan membentuk benteng. Kaelen berusaha melewati akar itu perlahan agar tidak terluka. Daun dengan bentuk naga berada tepat melilit di jantung pohon. Ia mengulurkan tangan. Begitu jarinya hampir menyentuh daun itu, tanah di sekelilingnya bergetar. Raungan bergema dari bawah tanah. Kaelen tersentak mundur dan berusaha mendekat ke pohon tersebut. Namun, akar yang sudah dia lewati melilit dan menarik kakinya dengan kuat sehingga dirinya terjembab di antara akar-akar pohon tersebut.
***
Kaelen berdiri di rumahnya, terdengar suara tangis yang memekakkan. Jantung Kaelen berdegup keras saat ia melangkah masuk, tubuh Ayah terbaring di ranjang dengan pucat dan kaku. Kaelen mendekat dengan langkah gemetar.
“A-ayah?” Suaranya terputus-putus.
Tidak ada jawaban.
Di sudut ruangan, Ibu terduduk di lantai. Rambutnya terurai, wajahnya basah oleh air mata. Saat ia menatap Kaelen, sorot matanya menampakkan kehancuran. “Kamu terlambat, Nak,” isaknya.
Kaelen mundur selangkah.
“Ti-tidak mungkin ....”
Nafas Kaelen tersengal. Ia menoleh ke Ayahnya, berharap melihat tanda kehidupan. Penyesalan menghantamnya bertubi-tubi. Kaelen jatuh berlutut. Menyadari ada sesuatu yang aneh ketika melihat retakan cahaya pada lantai. Kesadarannya mengambil alih pikirannya
“Ini ilusi!”
Dengan sekuat tenaga, ia meninju retakan itu. Udara di sekelilingnya bergetar. Seketika, rumahnya runtuh.
***
Akibat meninju retakan kayu dasar rumahnya itu, tanpa sadar membuat tangannya meninju akar pohon yang sudah mengeluarkan uap panas. “Aww!” erangnya sesaat. Di atasnya terdapat sulur daun yang berisi daun berbentuk naga yang mulai terulur ke arahnya. Kaelen menarik sulur daun dan terlepas dari lilitan akar pohon yang tanpa dirinya sadari berbentuk ekor naga.
Sulur daun tersebut tampak mengisyaratkan Kaelen untuk mengambil daun tersebut. “Selamat, kamu telah mengalahkan ketakutanmu. Sekarang kamu ambil daun tersebut dan segera kembali ke tempat asalmu.” Kicauan burung penjaga yang menggema membuat Kaelen sedikit terkejut. Kaelen langsung mengambil lima helai daun. Seketika, burung tersebut terbang cepat mengitari tubuhnya dan menghantarkan ke depan rumahnya.
“Ayah, Ibu! Aku mendapatkan bahannya!” teriak Kaelen berlari ke dalam rumah dan disambut pelukan hangat dari orang tuanya. Ibunya bahkan tampak bahagia dan bangga melihat anak tunggalnya selamat dan membawa daun naga tersebut. Setelahnya, Ibu langsung menuju dapur dan membuat ramuan untuk diminum Ayah.
Setelah Ayah meminum ramuan tersebut, tanpa ada jeda Ayah langsung menunjukkan tubuhnya sudah sehat dan tidak sakit-sakitan seperti biasanya. Lalu, Ibu menempelkan daun naga ke tangan Kaelen yang melepuh, dan saat itu juga luka bakar pada tangannya langsung sembuh.
“Terima kasih, Kaelen. Ayah benar-benar tidak menyangka kamu bisa menuntaskan rintangan tersebut,” ujar Ayah dan disambut senyum anggukan dari Kaelen.
***
Tim Penulis
- Penulis ini memiliki nama pena likewritesomething, ia lahir di kota pempek yang kerap dikenal dengan Palembang. Walaupun ia bukan berasal dari sastra, ia mempunyai hobi menulis dan membaca. Saat ini, ia juga memiliki kumpulan antologi bersama teman teman kepenulisan-nya. Mulai dari penulis terbaik, penulis inspiratif ataupun juga dari keinginannya sendiri.
- PrastiPal sudah seperti dirinya yang kedua, memiliki niat menulis yang cukup tinggi dari sejak bangku sekolah. Sekarang yang sedang bertarung melawan tugas akhir mencuri-curi waktu istirahatnya dengan membaca dan menulis sedikit demi sedikit. Rasa penasarannya terhadap menulis mampu membuatnya berlari sejenak dari kekejaman realita.
- Noera adalah seseorang yang ingin terus bertumbuh—sama sepertimu. Baginya, menulis adalah proses penyembuhan dari berbagai luka. Lewat tulisan-tulisan yang dibagikan, Noera belajar bahwa ia tidak pernah benar-benar sendiri. Kamu bisa mengenal Noera lebih lanjut di @ditulisnoera. Salam hangat, semoga kamu bisa melalui proses metamorfosismu

Posting Komentar