[CERPEN] Enam Hari Dito

Table of Contents
pemandangan jendela saat pagi hari
ilustrasi pemandangan jendela saat pagi hari (pexels.com/Barnabas Davoti)

Dito adalah seorang anak lugu berusia belasan tahun yang masih duduk di bangku SMP. Tepat tiga bulan yang lalu, kedua orang tuanya telah resmi bercerai. Kini ia tinggal bersama dengan ibunya. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana setiap malam suara hantaman benda keras menggema, disertai suara tangisan sang mama menyusuri setiap sudut rumah setelahnya. 

Malam pun terasa sunyi nan hambar, setelah sang ayah yang lebih memilih wanita jalang itu pergi meninggalkan keluarga. Dito duduk termenung di balik jendela memandangi sunyinya rembulan cerah di atas langit, mengusap bagian lengan yang sedikit membiru akibat pukulan benda keras oleh ibunya tadi pagi. Semenjak bercerai, sang ibu lebih beringas dan keras mendidiknya. Dengan alasan agar Dito jadi orang sukses dan tidak mengikuti jejak sang ayah.

Bagaimanapun Dito telah bertekad untuk mengakhiri hidup, berencana untuk tidak bernyawa sampai umur empat belas tahun yang hanya tinggal sepekan lagi. Artinya ia hanya punya enam hari sebelum ulang tahun untuk menimang tekadnya. Ia akan mengamati bagaimana semesta merestui keputusannya itu, dengan cara menghitung setiap hari yang ia lewati apakah hari itu akan berakhir baik ataukah sial sebagai pertanda. 

“Dit…, bangun!” Suara Mama disertai guncangan pada tubuh Dito membuyarkannya dari mimpi.

“Udah berapa kali Mama bilangin hah?..., jangan bangun kesiangan!” ujar wanita itu dengan nada tinggi. Dito merasakan telinganya ditarik hingga kemerahan, ia hanya mengaduh dan sesekali meminta ampun. Hari itu Dito mendapati kesialan yang seolah tak berujung, terlambat datang ke sekolah, mengakibatkan dirinya disetrap di depan lapangan, hingga saat kembali ke kelas berakhir dengan tasnya yang raib disembunyikan teman-teman jahilnya. Satu hari sial masuk dalam hitungan Dito, tersisa lima hari lagi.

Keesokan paginya, aroma masakan lezat menyerbak ke seluruh ruang makan. Rupanya Mama memasak makanan kesukaannya, Dito merasakan semburat kebahagian sempat merasuki sanubarinya, mungkinkah hari ini akan jadi hari baiknya. Mungkin semesta tak sekejam yang ia kira. Sesampainya di sekolahpun Dewi Fortuna seolah memihaknya, gadis yang disukai Dito, Rara tetiba menghampirinya. 

Gadis yang selalu menghindarinya itu menarik pergelangan tangannya. Aroma parfum stoberi memabukkan Dito hingga ke lamunannya. Namun, tetiba Dito merasakan badannya terhuyung menghantam lantai kelas, disertai derak tawa teman-temannya. Rupanya Rara sengaja menarik dan mendorongnya, dengan raut muka jahil ia ikut menertawainya. Dito berdiri lalu balas mendorong Rara hingga ia tersungkur. Dito berlari keluar, dengan jejak rasa sakit di setiap relung hati, ia salah mengira ternyata wanita yang disukainya tak ubahnya pembuli. Jelas hari ini adalah hari tersial dalam hidupnya.

Keesokan harinya, sepulang sekolah, Dito mendapati sebuah dompet terjatuh di jalan. Ia meraih dan memeriksa isinya. Sebuah KTP, dua kartu kredit, dan sejumlah uang senilai lima ratus ribu rupiah ada di dalamnya. Tanpa pikir panjang, Dito bergegas mencari pemilik dompet itu. Ia memeriksa KTP pemilik sambil terus menyusuri jalan. Setelah melakukan pencarian yang melelahkan, Dito berhasil menemukan rumah sang pemilik dompet yang kebetulan sedang mondar-mandir di depan rumahnya, seperti sedang mencari sesuatu. 

“Permisi, apa benar ini rumah Pak Deni?”

“Oh, iya. Ada apa, ya?”

Dito mengulurkan dompet yang ia temukan. Pak Deni terkejut sekaligus lega saat dompetnya kembali ke tangannya. Ia memeriksa dan mendapati semuanya masih utuh. Tersentuh oleh kebaikan Dito, Pak Deni memberinya dua lembar uang seratus ribuan. Awalnya Dito menolak karena ia hanya berniat membantu, tetapi Pak Deni tetap memaksanya menerima uang itu sambil berkata bahwa rezeki tidak boleh ditolak. Akhirnya, Dito menerima pemberian itu. Hari itu menjadi salah satu hari terbaik dalam hidupnya, dan mungkin peristiwa sederhana inilah yang memberinya alasan untuk tetap bertahan.

Namun keesokan paginya, ketika Mama hendak memasukkan bekal makanan ke dalam tas. Ia mendapati sejumlah uang, tanpa pikir panjang dengan gemuruh di dalam dada menghampiri Dito lalu memukulinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya.

“Uang sebanyak itu kamu dapat darimana, hah? Kamu mencuri? Sudah Mama bilang jangan seperti ayahmu!” sang mama tidak bisa mengendalikan emosi dan terus memukuli punggung dan lengan kurus Dito, ia tak memberikan perlawanan dan hanya terdiam. Tak lama, ia jatuh tersungkur di lantai kamarnya sambil menahan perih. Matanya mulai sembab dan air matanya jatuh membasahi baju seragam. Hari itu, Dito memutuskan tidak berangkat sekolah. Hatinya semakin sakit karena kenyataannya, ia mendapati lebih banyak hari sial daripada hari baiknya.

Beberapa hari tidak melihat keberadaan Dito, salah seorang teman dekatnya, Niko berinisiatif untuk berkunjung keesokan harinya. Ia ingin memastikan keadaan temannya itu. 

“Kamu gak apa-apa, Dit?”

“Aku baik-baik aja kok.” Jawab Dito dengan tatapan lesu. Ia terlihat lebih kurus dengan tatapan kosong menatap Niko. Ia curiga bahwa Dito tidak baik-baik saja. Ia pun mengajaknya untuk jalan-jalan agar tidak bosan di rumah. Dito pun mengiyakan. Hari itu, Dito sangat bersyukur karena masih ada teman yang peduli kepada dirinya. Ia berjanji suatu saat, entah kapan, akan membalas kebaikan teman karibnya itu. Mereka tertawa bersama. Hatinya lebih tenang. Ia menikmatinya, tidak sadar sedang melupakan sesuatu.

Di hari keenam rumah Dito ramai dengan suara-suara yang membisingkan telinga. Bukan kicauan burung, melainkan perkataan mamanya yang menyayat hati dan membakar telinga.

“Kamu ya, sekalinya diperbolehkan keluar malah keluar lama. Mau kabur, kamu?! Kamu mabok-mabokan dengan si Niko itu, ya?!”

Dito menatap tenang sang mama seolah angin malam, tapi justru tamparan dan makian yang ia dapatkan. Ia sudah  terbiasa dengan semua tekanan yang ia dapatkan. 

“Maafkan Dito, Ma.” 

Mamanya yang kesal tiba-tiba mematung. Ada penyesalan karena telah menampar sang anak. Sementara itu, Dito beranjak pergi ke kamar, tak peduli dengan sang mama yang masih terdiam. Pintu kamar tertutup dengan sekali hentakan. Menutup semuanya.

***

Tim Penulis

  1. Agus Salam, penulis pemula yang telah menerbitkan novel pertamanya pada tahun 2024. Saat ini ia berbagi tulisan di akun Instagram miliknya: @a9ussalam.

  2. Fadlian Sabila Rusdi, penulis amatiran yang mulai menjamah dunia kepenulisan. Saat ini sedang fokus mengembangkan diri dan berbagi ide lewat akun medium miliknya: https://medium.com/@fadliansabila.

  3. Fairuz Zahro Arroihana, biasa dipanggil Hana, punya kegemaran menulis sejak kecil. Dimulai dari menulis diary, fanfiction yang ditulis lewat SMS, dan beberapa kali menulis cerpen. Kini, menulis bukan hanya sekedar hobi baginya, tetapi juga terapi jiwa.

Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

Posting Komentar