[CERPEN] Gang Kelinci dengan Sejuta Cerita

Table of Contents
gang sempit penuh cerita
ilustrasi gang sempit penuh cerita (unsplash.com/Héctor J. Rivas)

Di sebuah gang sempit terdengar suara tangisan bayi yang melengking. Disebrangnya teriakan seorang ibu tak kalah kuat tengah memarahi anak lelakinya, tentu saja sudah menjadi hal biasa bagi para tetangga. Tempat ini adalah Gang Kelinci, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Lewat lagu ciptaan salah seorang aktris hebat, Titiek Puspa yang berjudul Gang Kelinci, hingga kini masih relevan dengan realitas kehidupan di kawasan ini.

Gadis bernama Sefira Az-zahra atau akrab disapa Fira tengah berjalan menyusuri Gang Kelinci sembari menenteng tas belanjaan. Hari ini, Fira memang belanja bahan makanan cukup banyak. Mulai dari sayuran, daging, ikan, hingga buah-buahan. Ini adalah hari tepat tiga tahun ibunya meninggal, gadis itu ingin mengenangnya dengan membagikan makanan kepada anak-anak murid di TPA tempatnya mengabdi. 

Fira menyusuri gang menuju rumahnya tepat di sebrang bangunan ruko tua, sembari menyapa tetangga yang tengah asik berbincang sambil menyuapi anak-anaknya. Cuaca hari ini juga terasa damai.

“Aduh, neng Pir. Itu berat banget, dah, keliatannya,” celetuk ibu berdaster kembang dengan jemuran ditangannya. “Tumben belanja banyak. Mau ada sesuatu yeee?” lanjutnya sambil tersenyum.

Fira hanya tersenyum mendengar pertanyaan terakhir Mpo Roshi. “Iya, Mpo. Mau masak buat anak-anak di TPA.”

"Neng, kalo butuh bantuan bilang aje sama emak, kagak usah sungkan, ye.” Kali ini disahut cepat oleh emak – panggilan akrabnya. Fira mengangguk sambil tersenyum lantas permisi dan melanjutkan langkahnya.

Sampai dipersimpangan Fira berbelok, di ujung bangunan ruko tua sana, ada juga lapangan kecil yang biasa digunakan anak-anak bermain. Lapangan itu juga sering digunakan untuk acara warga. Dari kejauhan, Fira melihat anak-anak mulai sibuk bermain. Dalam hati ia hanya bisa berdoa semoga hari ini tidak ada kejadian yang mengejutkannya lagi. Sampai lah Fira di rumah yang kalau dilihat dari luar tidaklah besar. Namun, cukup untuk menampung ia dan sang ayah tinggal bersama. 

“Assalamualaikum, Ayah ... Tolong bawain belanjaan Fira, dong, Yah.” Gadis itu terburu-buru mengucapkan salam sekaligus permintaan tolong karena sudah tidak kuat.

"Waalaikumussalam. Ebusett, dah. Banyak bener belanjaannye,” sahut pria paruh baya dari arah belakang rumah masih dengan memakai sarung kotak-kotak kesayangannya. Melihat sosok yang dinanti, Fira lantas mencium tangan sang Ayah. Rusli – ayah Fira, mengambil alih belanjaan tersebut.

“Heheh … pas udah kelar belanja, Fira juga baru sadar, Yah. Ngapa jadi banyak banget. Tapi gapapa, dah. Buat anak-anak juga.” Rusli hanya menggangguk, tahu bahwa sang anak tengah bersemangat. Dibawanya belanjaan itu ke dapur, Fira mengikuti dari belakang.

“Sip, dah. Makasih, Ayah. Sekarang Anda boleh pergi.” Fira terkikik melihat raut wajah sang Ayah. Rusli pun sudah biasa, justru terkadang ikut meladeni, “Oh, tidak bisa. Biar saya bantu ya, neng.” Jadilah mereka berdua bekerja sama membuat makanan di pagi hari.

Dapur dengan segala kenangan. Tempat dimana biasanya Sefira membantu sang ibu memasak, kini menjadi tempat ia bereksperimen resep seorang diri bahkan terkadang ayah Rusli turut membantu. Lantainya masih belum di keramik, sama seperti saat ibunya masih ada. Kompor minyak di pojok ruangan tersebut juga sengaja masih di simpan dengan rapi, meskipun sudah jarang digunakan, namun Fira terlalu sayang untuk menjual apalagi membuangnya.

Setiap sudut rumah tentunya memiliki kenangan dengan ibu, namun dapur adalah tempat nomor satu. Semasa hidup, ibunya dijuluki Koki Gang Kelinci yang terkenal dengan masakannya yang enak. Ibu sering mengurus catering untuk berbagai acara, dapur dan kompor minyak itulah yang menjadi saksinya. Satu per satu bahan dimasukkan ke dalam wadah. Pisau kecil yang biasa digunakan ibunya dulu masih terjaga bentuknya, meski pegangannya mulai rapuh. Fira tersenyum melihatnya, lalu mengupas wortel dengan hati-hati.

Di luar, suara anak-anak terdengar dari lapangan. Mereka menyanyi sambil menendang bola plastik ke sana kemari. Fira mengintip dari balik jendela, melihat Reno murid TPA paling ribut lagi-lagi membuat dua anak menangis karena bolanya mengenai kepala.

Fira hanya menggeleng pelan dan kembali ke dapur. Ia membuka toples kecil di rak tua, dan menemukan sebuah benda, kancing kecil berbentuk bunga. Ia diam sejenak, itu milik ibunya. Ibunya suka menjahit tas anyaman dari bekas bungkus kopi. Satu tas masih sering digunakan Fira untuk menemaninya mengajar di TPA. Dengan begitu, ia merasa selalu dekat dengan ibunya.

Tok-tok-tok! Terdengar ketukan pintu, membuat Fira menghentikan aktivitasnya sejenak.

“Kak Firaaa!”

Fira mengenali suara itu. Reno. Tapi kali ini nadanya terdengar panik. Ia berjalan ke pintu dan membukanya perlahan. Reno berdiri dengan wajah cemas. Di belakangnya, dua anak lelaki terisak pelan.

“Kak … bola kita nubruk kaca jendela rumah sebelah … dan pecah,” ucap Reno dengan suara nyaris berbisik. Ekspresinya menunjukkan kalau bocah itu panik, takut ketahuan.

Fira menelan ludah. Rumah sebelah itu milik Bu Rika, janda galak yang sering mengomel jika anak-anak terlalu berisik.

“ULAH SIAPA LAGI INI? YA GUSTIII!” Teriakan maut dari orang yang ditakutkan akhirnya terdengar. Suara lantang Bu Rika bisa bikin bulu kuduk berdiri. Reno langsung mematung. Fira lantas bergegas menghampiri Bu Rika, diikuti anak-anak untuk menjelaskan semuanya. 

Di luar, Bu Rika berdiri dengan tangan di pinggang. Kain daster kebanggaannya berkibar-kibar ditiup angin. Di sebelahnya, pecahan kaca dari jendela tampak masih berserakan.

“Maaf, Bu Rika,” kata Fira berusaha tenang. “Itu bola anak-anak TPA. Saya tanggung jawab.”

Bu Rika mendengus. “Anak-anak sekarang main seenaknya! Ini udah ketiga kalinya bulan ini!”

“Tapi nanti kami bersihin, saya ganti kacanya. Saya minta maaf, Bu.”

Bu Rika menatap tajam. Tak lama ia menghela napas panjang. “Ya sudah, hari ini gua lagi gak mau ngomel-ngomel,” ujar Bu Rika santai. "Tapi inget, ye bocah. Kalo lu buat ulah lagi, awas aje. Gua jadiin dendeng!” sindir Bu Rika menakut-nakuti. 

Fira tersenyum lega mendengarnya begitupun anak-anak. “Makasih, Bu Rika.”

“Oiya, Fir. Lu ’kan jago masak, tuh. Kebetulan stand makanan buat acara lusa ada yang kosong satu. Lu isi aja, gih. Terserah. Yang penting enak.” Mendengar tawaran Bu Rika, Fira menimbang sejenak. 

“Boleh, Bu Rika … Fira mau.”

***

Hari yang ditunggu pun tiba. Setelah menceritakan kejadian kemarin dengan Ayah, beliau menyetujuinya. Bumbu-bumbu dapur sisa kemarin masih banyak, dia tinggal membeli bahan-bahan lainnya. Karena hanya mendapat stand kecil, Fira memilih makanan khas betawi yang sederhana dan dikenal banyak orang. Terkenal dengan bumbu kacangnya. Dulu, ibunya biasa membuat makanan ini tiap Minggu untuk Ayah.

Segerombolan ibu-ibu berdiri di depan stand “Gado-gado Kenangan” yang tertulis di papan tulis kecil. 

“Lah, neng Fira, ikut dimari juga?” tanya salah seorang ibu berbaju kuning lengkap dengan atributnya. Busananya paling meriah diantara yang lain. Dilihat dari wajahnya, Fira kenal beberapa karena berteman dengan almarhumah sang ibu. 

“Iya, Mpo … Fira ditawarin Bu Rika.” Mereka semua manggut-manggut tanda mengerti. 

“Mpo mau dah, gado-gadonya.” Pintanya sambil melirik gado-gado yang nampak bersinar dipiring orang. “Elu pada mau enggak? Ini enak, dah, gua jamin. Anaknya Sonya, nie, kagak usah takut gak enak.” Sambungnya menawari ke yang lain.  

“Oh, neng Fira anaknya Bu Sonya? Mau, dah, cobain juga. Pake telornye, ya neng.”

Gubrak!

“Eh, buset, dah … pengantin jatoh, noh. Tolongin!”

“Ya Allah, ayam gua mental saking kagetnye.”

Insiden terpelesetnya pengantin wanita membuat sebagian orang prihatin. Namun ada juga yang memilih untuk tidak peduli dan melanjutkan makannya. 

“Itu lakinye napa diem aje? Kagak kuat kali, ye, ngegotongnye,” celutuk enteng Mpo Mirna, sembari menikmati gado-gado.   

“Lagian, si Rika ngapa pake sepatu tinggi begitu, dah. Orang mah pake selop biasa aje udeh. Orang-orang juga kagak ada yang nyadar. Gaunnya juga lebar bener, udah kayak ikan pari,” timpal Mpo Noer melihat kejadian barusan. 

“Et, berisik amat. Biarin aja napa. Orang dia yang nikah, ngapa dikomentarin segala,” sahut Mpo Darmi melerai omongan negatif dari teman-temannya.

Fira hanya bisa prihatin dalam hati. Bu Rika sudah diamankan oleh pasangannya, ia dibawa ke dalam untuk diperiksa. Sementara itu, para tamu mulai berdatangan. Diantaranya tamu dari pengantin pria. Tidak lama orang-orang sudah melupakan insiden yang baru saja terjadi, acara juga kembali berjalan meriah. 

Fira menyunggingkan senyuman manis melihat kemeriahan tersebut. Kebahagiaan ikut mewarnai hati dan pikirannya. Ditambah kehadiran seseorang yang sudah lama dinantinya. Arman, teman sepermainannya, teman satu sekolah dari SD sampai SMA kini sudah kembali pulang dari perantauannya untuk menuntut ilmu. 

"Kamu enak Man, kuliah di luar kota dan bisa lihat dunia luar. Kalau aja dulu ibu mengizinkan aku seperti kamu." Fira berandai-andai.

"Kamu juga tetap bisa menuntut ilmu tanpa harus meninggalkan gang kecil kita tercinta Fir. Dan kalau aku jadi ibumu, aku juga gak akan ngizinin kamu kuliah jauh-jauh.”

"Jahat kamu, Man."

Arman tertawa. "Bukan jahat Fir, tapi sayang."

Wajah Fira seketika bersemu merah, matanya melebar. Fira merasa sangat terkejut mendengar ucapan Arman. "Tunggu aku ya Fir, aku akan kembali ke gang kecil kita, jangan kemana-mana. Dan setelah aku kembali, aku yang akan bawa kamu menjelajah dunia luar." Mata Fira dan Arman bertemu tatap, ada perasaan lain yang singgah di hati keduanya. 

Peristiwa lima tahun yang lalu setelah Fira dan Arman lulus SMA kembali terbayang - seseorang malambaikan tangannya dari kejauhan, Arman. Hati Fira menghangat dan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya.

Gang Kelinci ini menjadi simbol kehidupan yang sesungguhnya. Kebahagiaan tidak diukur dari luasnya rumah atau banyaknya harta, tapi seberapa erat mereka saling terhubung dengan orang-orang di sekitarnya. Setiap langkah kecil memiliki makna, setiap senyum memiliki arti, dan setiap cerita melekat di hati. Di Gang Kelinci ini, cinta yang tumbuh dalam diam akhirnya menjadi kebahagiaan bagi seluruh penghuninya. 

***

Tim Penulis

  1. Ramayanti, seorang ibu rumah tangga dengan dua putera. Menulis adalah jejak keabadian, maka menulislah dan jejakmu tak lekang oleh waktu. Mengikuti kelas-kelas menulis online, telah memiliki beberapa buku antologi, salah satunya ikut menulis untuk buku Ensiklopedia Dunia "16 Negara Tercantik di Dunia", sebuah buku ensiklopedia untuk anak. Bisa menyapa saya di IG dan FB : Ramayanti Ghembil.

  2. Siti Hadijah, saat ini saya masih menjalani kehidupan sebagai mahasiswi, tapi di waktu luang saya suka menulis—kebiasaan yang sudah saya tekuni sejak 2020. Bagi saya, menulis itu sebuah seni: dari satu kata, jadi kalimat, lalu tumbuh jadi paragraf yang bisa menyentuh rasa, cerita, bahkan mewakili hal-hal yang sulit diungkapkan. Kalau mau saling tukar cerita, saya ada di Medium medium.com/@dhijabadawy

  3. Khadijah Ath Thahirah, atau biasa memakai nama pena Devisha. Perempuan kelahiran Jakarta ini merupakan seorang guru TK yang memiliki minat besar pada literasi dan ingin menjadi penulis yang dapat menginspirasi wanita Indonesia agar menjadi wanita tangguh.

  4. Misnati adalah wanita kelahiran 2007 dari Provinsi Banten. Dia terjun ke dunia kepenulisan sejak akhir 2021. Tipe tulisannya berbentuk cerita dan motivasi. Dia telah berkontribusi menjadi penulis beberapa buku antologi dan memiliki karya di Wattpad (@JasjusOlen) yang bisa dibaca. Berkenalan lebih lanjut dengannya melalui Instagram @misnati_writer.

  5. Choirun Niswah, seorang penulis yang sempat lama diam dari dunia literasi. Kini kembali menulis, pelan-pelan, dengan hati. Bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang jatuh cinta pada kata dan diam-diam ingin dikenang. Bukan karena rupa, tapi karena jejak yang tertinggal lewat tulisan.

Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

Posting Komentar