[CERPEN] Harapan dan Keajaiban
![]() |
| ilustrasi buah anggur hijau (pexels.com/Nicky Pe) |
Tok! Tok!
"Masuk aja, Hiana sayang. Temanmu, Tiana lagi sarapan. Ayo gabung sekalian. Belum sarapan kan?" kata Sandra, Mama Tiana, yang membawa beberapa lauk.
Hiana langsung ke meja makan dan duduk bersama yang lain.
"Tante, ini ada sedikit hadiah dari mama. Mama ingin berterima kasih karena selalu membuatkanku makanan.”
Hiana mengulurkan tangan, menyerahkan hadiah dari mamanya.
“Tidak masalah, sayang. Kamu sudah Tante anggap seperti anak Tante sendiri. Sudah seperti saudaranya Tiana dan Keano," ucap Sandra.
Di sela-sela itu, kebisingan dua saudara sedang terjadi.
"Kak! Anggur hijaunya jangan dimakan," kata Tiana. "Itu tuh buat tahun baru!"
"Oh, kakak tahu. Pasti mau makan anggur hijau tepat di tahun baru di bawah meja, kan? Itu kan cerita andalan papa untuk anaknya sebelum tidur. Kamu masih percaya? Harapanmu tahun lalu saja tidak terkabul," ejek Keano, Kakak Tiana.
"Kak Kea!"
Sandra hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya. "Ini banyak anggurnya. Bagi juga sama Hiana, ya. Mama juga beliin untuk Hiana."
Hiana mencoba menolak. "Tidak usah, Tante. Buat Tiana dan Keano saja.”
Sandra tersenyum. Begitupun suaminya, Giano. Giano berbicara lembut pada Hiana, "Kamu itu sudah menjadi keluarga kami, Hiana. Kamu menjadi obat penawar rindu keluarga saya setelah kehilangan kembarannya Tiana. Jangan merasa tidak enak, ya. Kamu sudah dianggap keluarga sendiri.”
Hiana selalu merasakan kehangatan ketika berada di tengah keluarga Tiana.
"Bawa pulang, ya, anggurnya. Setiap orang memiliki keajaibannya sendiri. Belum, belum tentu mustahil. Pasti kamu akan menemukannya nanti," ucap Giano.
Hiana menerima anggur pemberian keluarga Tiana dan berterima kasih.
"Kita berangkat sekolah dulu,” ucap Tiana dan Hiana.
"Eh, jangan lupa bekal makan siangnya! Punya Hiana juga!"
Setelah memasukkan bekalnya, Tiana dan Hiana berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda.
***
Sesampainya di sekolah, mereka langsung masuk kelas. Tiana dan Hiana satu sekolah di SMPN 1 Kota. Mereka berada di satu kelas yang sama, di kelas 8C.
"Jangan lupa, anggurnya disimpan baik-baik. Nanti tahun baru tepat di jam 12 malam, makan anggurnya di bawah meja supaya keinginanmu bisa terwujud. Aku tidak sabar mau menunjukkan ke Kak Kea kalau cerita Papa itu bisa jadi kenyataan," kata Tiana.
"Iya, pasti. Meski aku sendiri tidak yakin apakah keinginanku bisa terwujud. Padahal, keinginanku sederhana. Tapi… meski sederhana, aku rasa aku tidak bisa merasakannya seperti kebanyakan orang lain," sahut Hiana dengan raut sedih sambil menatap bekal pemberian Mama Tiana.
"Jangan pesimis dulu. Belum bukan berarti mustahil. Setiap orang pasti punya—"
"—keajaibannya sendiri,” sambung Hiana.
Tiana dan Hiana pun tertawa.
***
Tidak terasa hari berganti dengan cepat. Bulan Desember sudah menginjak akhir. Di malam akhir tahun, Hiana hanya termenung sendiri. Tak ada seorang pun di rumahnya. Ayahnya telah tiada beberapa tahun lalu. Sebagai anak tunggal, Hiana kerap sendiri.
Hiana selalu berusaha memahami rutinitas mamanya yang bekerja sendiri demi menghidupi keluarga. Bahkan, di malam tahun baru ini, mamanya harus menyelesaikan pekerjaan yang mengharuskan untuk lembur. Entahlah, Hiana tak tahu rutinitas orang dewasa seperti mamanya.
Meluangkan waktu bersama keluarga rasanya begitu sulit. Namun, Hiana tak bisa membohongi perasaan sedihnya. Setitik air mata meluncur begitu saja. Sambil melihat jam, Hiana bergegas ke bawah meja sambil membawa anggur hijau pemberian keluarga Tiana.
Tepat di jam 00.00 pergantian tahun, Hiana segera memakan buah anggurnya sambil meminta permohonan, meski permohonanannya tertelan bunyi petasan kegembiraan tahun baru. Hiana berharap setidaknya ada keajaiban agar permohonannya dikabulkan.
***
Drrt!
Sebuah panggilan telepon tak dikenal masuk di handphone Mama Hiana.
“Maaf, saya mau mengabarkan. Rumah tetangga di dekat rumah anda yang berjarak dua rumah, terbakar karena petasan. Saya ingin memastikan apakah rumah anda ada penghuninya atau tidak, karena api sangat sulit untuk dipadamkan mengingat kondisinya.”
Mama Hiana menelan ludahnya, teringat Hiana.
“Hiana! Ada anak saya. Tolong pastikan anak saya selamat!”
“Baik, terima kasih informasinya. Akan saya pastikan nanti keberadaan anak anda.”
Mama Hiana terburu-buru pulang. Dengan penampilan yang cukup acak-acakan, Mama Hiana tidak memperdulikan apa pun. Mama Hiana bergegas mencari Hiana.
“Hiana!” Mama Hiana kesana kemari mencari Hiana.
“Pak, tahu anak saya, Hiana? Dia ada di rumah,” tanya Mama Hiana.
“Saya belum menemukan anak kecil di rumah ini. Anda harus bersyukur setidaknya hanya dinding yang terbakar dan tidak sampai membakar semua rumah,” jelas pemadam kebakaran. “Saya nanti akan coba tanya teman saya, siapa tahu anak anda sudah diamankan.”
“Hiana! Kamu di mana, nak? Mama janji jika kamu selamat, Mama akan lebih memperhatikan kamu. Kalau kamu tidak selamat maka itu semua menjadi salah mama. Mama yang akan paling menyesal.” Mama Hiana menangis histeris.
“Mama!”
“Hiana! Kamu ke mana saja? Mama takut sekali kamu kenapa-kenapa,” ucap Mama Hiana sambil memeluk Hiana.
“Tadi setelah pergantian tahun baru, keluarga Tiana mampir ke rumah dan aku diajak keluar. Saat kembali, ternyata malah terjadi kebakaran, Ma,” jelas Hiana.
Mama Hiana menatap keluarga Tiana. “Terima kasih. Jika kalian tidak mengajak Hiana keluar, entah apa yang terjadi.” Mama Hiana memegang tangan Hiana. “Mama janji akan lebih perhatian lagi sama kamu.”
“Sama-sama. Hiana sudah seperti keluarga kita sendiri. Saya juga bersyukur Hiana selamat dari kebakaran,” sahut Mama Tiana.
“Malam ini, Mama temani kamu tidur, ya. Mama akan berusaha semampu mama untuk selalu memperhatikan kamu.”
Hiana mengangguk sambil tersenyum.
Saat Mama Hiana mengobrol dengan Mama Tiana, Hiana mendekati Tiana sambil berbisik, “Belum bukan berarti mustahil. Setiap orang akan menemukan keajaibannya sendiri.”
“Hiana.” Tiana langsung memeluk Hiana dengan raut bahagia.
“Aku ikut senang permohonanmu bisa terwujud,” sahut Tiana bisik-bisik. “Semoga permohonanku juga.”
Mereka pun tertawa.
***
Tim Penulis
- Penulis dikenal dengan nama pena Bianstamo. Penulis memiliki hobi menulis sejak kecil. Tulisan penulis jadi buku diantaranya Lettre D’amour, Black Memory, The Book of Struggle, Kisah Dibalik Harmoni dan Kehilangan, Kebetulan dan Waktu, Diary memory, Memoar Mozaik kehidupan dan lainnya. Penulis dapat dihubungi melalui Wattpad Bianstamo13.
- Zoya Wirza, sebuah nama di balik seseorang yang tertarik pada dunia kepenulisan. Menulis adalah kegiatan yang penulis usahakan di sela-sela waktunya. Selain itu, bahasa Inggris adalah hal yang ingin penulis tekuni akhir-akhir ini. Penulis bisa ditemukan di akun Instagram dan Wattpad @zoya_wirza

Posting Komentar