[CERPEN] Rahasia Dunia Lamongan

Table of Contents
sepeda lama untuk berkunjung ke rumah teman
ilustrasi sepeda lama untuk berkunjung ke rumah teman (pexels.com/tu nguyen)
Namaku Alex, aku berasal dari Belanda. Hobiku adalah membaca, utamanya buku-buku sejarah. Hal itulah yang membuatku bisa berkenalan dengan temanku, Citra. Awalnya kami tidak sengaja bertemu saat aku berjalan-jalan ke Indonesia, tepatnya ke kota lama Semarang. Kami tidak sengaja bertemu dan terlibat beberapa percakapan mengenai kisah kota itu, hal yang tidak kuduga adalah kami ternyata sefrekuensi saat bicara. Sejak saat itu kami sering berhubungan melalui surat. 

Aku mulai ragu dan berpikir keras tentang bagaimana cara untuk mengunjungi sahabat penaku yang berasal dari Lamongan, sementara informasi yang aku miliki masih sangat terbatas. Apakah aku harus membuka surat dari botol yang terakhir mungkin menyimpan petunjuk penting sebelum benar-benar memulai petualangan ?

Sudah sejak lama aku tertarik dengan hal-hal yang berbau Nusantara utamanya karena Negaraku memiliki sejarah kelam dengan negeri yang indah ini. Tapi aku tidak akan membahasnya lebih jauh. Hari ini aku bertekad menemui Citra di kampung halamannya, Lamongan. Berbekal sepeda tua yang kubawa dari rumah, tas gunung, dan tentu saja perbekalan yang memadai aku berangkat ke Indonesia. Dan disinilah aku sekarang, terjebak di sebuah Mushola yang berada di kota Lamongan ini, menunggu hujan reda untuk melanjutkan perjalananku lagi. Kalau menurut alamat yang diberikan Citra melalui surat minggu kemarin, harusnya rumahnya sudah dekat.

Tiga puluh menit berlalu namun aku masih belum menemukan rumah Citra, anehnya ada satu tempat yang menurutku janggal. Rumah yang memiliki pondasi tinggi dan ada satu tangga untuk bisa sampai ke depan pintu rumah tersebut. Namun rumah tersebut tidak memiliki papan nomor rumah atau lainnya. Perasaan penasaran ingin mengetahui siapa pemilik rumah tersebut membuncah dalam hatiku, tapi nyaliku ciut karena aku pernah membaca dalam salah satu buku kalau di Indonesia masih kental dengan mistisnya.

Apalagi aku juga tidak biasa untuk memanjat tangga yang ada di sekitar rumah tersebut, beberapa saat kemudian datang seorang perempuan yang keluar dari rumah sederhana itu.

"What are you doing here?" tanyanya dengan lembut.

Are you my penpal from Lamongan?" jawabku. 

Yes, this is me from lamongan your penpal here. I'm Citra," jawab perempuan itu. Tidak salah lagi, dia adalah Citra. Aku merasa sangat lega akhirnya aku menemukan rumahnya. 

Setelah berjuang untuk naik ke rumah Citra dengan segala dramanya, akhirnya kami bisa beristirahat dan berbincang santai. Ditengah percakapan, aku menunjukkan surat dalam botol yang ternyata berisi potongan peta tua yang ternyata Citra juga baru menemukan potongan peta yang serupa. Aku pun meminta tolong kepada Citra untuk mengambil potongan peta tersebut dan menyatukannya.

Perasaanku berbunga - bunga dan  terkagum, karena kami bisa bertemu sedekat ini secara langsung, dan Citra pun memberikan potongan peta ajaibnya padaku.

"Are you want to try rice boran, like in your magic map piece?" tanya Citra

Yes, i want to try this food.” jawabku. 

Kami berdua pun menggoes sepeda antik milik Citra untuk pergi ke tempat nasi baron yang populer dan ratingnya bagus di wilayah tersebut. Petualangan kami menuju penjual nasi boran akan segera dimulai, citra mengendarai sepedanya tanpa ragu. 

Akhirnya kami sampai di tujuan dengan selamat. Citra dengan segera memesan pesanannya dengan menggunakan bahasa jawa yang menurutku aneh dan membuatku bingung, dia ngomong apa saat itu. 

Tetapi, aku mengabaikannya dan tidak memikirkan hal lain selain menunggu pesanan tiba. Aku merasakan keanehan ketika melihat sekitar, sepertinya kami sedang berada di dunia lain seakan akan dunia tersebut berganti dari biasanya, entah apa yang terjadi. Aku merasakan seakan akan, tempat tersebut ada keajaiban di balik itu semua.

Aku pun bertanya pada Citra, "Are you see the magic in here?"

Lalu Citra itu menjawab "No, i don't see the magic.

Aku heran kenapa hanya diriku yang bisa merasakannya. Keluar dari rumah makan aku masih memikirkan kejadian magic yang baru saja terjadi. Aku merasa ada yang menepuk pundak sebelah kiriku dengan keras. 

Aku menoleh dan bertanya "What is your problem bro?”

"I want the map scroll you brought," jawab pria yang menepuk pundakku tadi, "Perkenalkan aku ketua dari payung merah. Aku tau gulungan peta itu ajaib jadi berikan peta itu," lanjutnya.

"No, i don't want. Karena peta ini adalah milikku dan aku akan menjelajahinya dengan temanku Citra," jawabku seraya menyembunyikan potongan peta tersebut. 

Semenit kemudian ada 3 orang lagi datang bisa jadi itu adalah kelompoknya. Aku bernegosiasi dengan ketua payung merah untuk bertanding memasak nasi boran, siapa yang memenangkan pertandingan itu dia bisa memiliki peta ajaib tersebut. Ketua payung merah setuju, karena belum jauh dari warung makan aku meminta Citra untuk meminta tolong pada pemilik warung dan kokinya menjadi juri. 

Kami telah menyelesaikan misi tersebut dan berhasil memenangkan pertandingan. Sebenarnya aku bingung, bagaimana bisa mendapatkan  skill memasak tersebut. Aku merasa ada kekuatan yang membantuku dan Citra, karena sesungguhnya kami berdua tidak bisa memasak sama sekali, apalagi memasak nasi boran. Kami berdua pun melanjutkan perjalanan. 

“Apakah kamu merasa ada keanehan di pertandingan tadi?” tanyaku pada Citra. 

“Iya, Alex. Aku merasa ada yang aneh, benar katamu perjalanan kita ini bukanlah perjalanan yang biasa,” jawab Citra yang mukanya skeptis, “Sudahlah kita lanjutkan saja perjalanan ini,” pungkasnya. 

Dia berjalan ke arah kami dengan wajah yang tersenyum ramah. “Selamat atas kemenangan kalian. Sesungguhnya aku tidak pandai memasaknya, jadi aku merasa kagum melihat kalian bisa memasaknya dengan baik. Apalagi salah satu dari kalian bukanlah orang Lamongan.”

Mataku memicing, curiga. Kenapa orang ini tiba-tiba saja bersikap ramah? Aku melirik ke arah Citra yang tampaknya juga merasa curiga dengan gelagat ketua payung merah. 

“Jadi, apakah kalian berbaik hati untuk mengajarkan kami cara memasaknya? Atau kalian bisa berbagi resep kepada kami,” tanyanya, mencoba bernegosiasi. 

Aku memegang tangan Citra saat dia hendak menjawab. Dengan segera aku menyetujui permintaannya, “Baik, bagaimana kita bisa mengajari kalian?”

Citra tampak menatapku dengan raut bingung. Aku hanya membalasnya dengan senyum singkat, mencoba menenangkannya. 

“Baiklah, kalau begitu ikuti kami. Kita akan belajar memasak di tempat kami,” ajaknya dengan senyum ramah yang masih terlukis di wajahnya, “tempatnya tidak terlalu jauh dari sini, jadi kita semua bisa kesana dengan berjalan kaki,” lanjutnya. 

Aku balik tersenyum ramah kepada ketua kelompok payung merah. Baiklah, aku akan ikuti permainan mereka. 

Dia tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya menyetujui permintaanku. Kami akhirnya berjalan menuju tempat kelompok payung merah dengan menuntun sepeda. Tidak sampai lima menit, kita sudah sampai di tempat yang dituju. Namun, entah kenapa tempat ini rasanya sedikit aneh. Di depan kami terdapat rumah kayu yang sudah sangat tua seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan. Di sekelilingnya hanya ada pohon-pohon tinggi dan rerumputan.

Aku menatap ketua payung merah dengan tatapan menyelidik. “Ini benar-benar tempat tinggal kalian?”

Dia kembali menampakkan senyum ramahnya, tapi kali ini sedikit berbeda. “Benar, inilah tempat kami.”

Aku diam sejenak, lalu menoleh ke arah Citra yang ada di sampingku. “Mau masuk?”

Citra menoleh, sorot matanya tampak ragu. Namun, dia malah mengangguk dan mengatakan, “Ayo kita coba masuk dulu.”

Baru tiga langkah berjalan, sebuah batang pohon yang lumayan besar tiba-tiba jatuh tepat di hadapan kami. Dengan sigap aku menarik Citra ke belakang tubuhku. Seperdetik kemudian aku berbalik dan memeriksa kondisi Citra. 

“Kamu baik-baik saja? Tidak ada yang terluka?” tanyaku khawatir. 

Citra menggeleng pelan. “I'm fine. Kamu sendiri ada yang terluka?”

Aku menghela lega. “Aku juga baik.”

Perhatianku sekarang beralih ke belakang Citra. Di sana tidak ada siapapun selain pohon-pohon yang menjulang. 

“Sepertinya mereka menjebak kita,” kataku pada Citra yang kini melihat sekeliling. 

“Benar. Mereka sengaja meninggalkan kita di tempat terpencil ini,” balas Citra dengan wajah merengut sebal. “Kalau gitu kita juga harus keluar dari sini.”

Sudah sepuluh menit lebih kami mengayuh sepeda, tetapi masih belum sampai juga. Kami seperti berputar-putar di tempat yang sama. 

“Bukankah kita sudah melewati tempat ini?” 

Citra mengangguk. “Sepertinya kita tersesat.” 

Citra termenung, dia tampak memikirkan sesuatu. Saat aku bertanya mengapa, dia tersenyum penuh makna. 

“Aku baru ingat kalau sepedaku ini mempunyai kegunaan lain. Kita bisa keluar dari sini, Alex.” Mata Citra tampak berbinar, seakan baru saja menemukan sesuatu yang menakjubkan. 

Aku memandangnya bingung saat dia mengucapkan kata-kata yang tidak aku mengerti. Apakah dia membaca mantra?

“Ayo ikuti aku!” 

Rasanya sepeda ini seperti bergerak sendiri mengikuti Citra, bukan aku yang mengarahkan. Inikah yang dimaksud Citra dengan kegunaan lain sepedanya? Sungguh mengagumkan. 

Tidak sampai tiga menit, kami sudah menemukan jalan keluarnya. Namun, aku tidak bisa langsung merasa lega karena begitu kami keluar, kelompok payung merah sudah ada di hadapan kami. Mereka semua memandang bingung ke arah kami.

Kelompok payung merah kompak melotot kaget saat melihat Citra secara perlahan menyobek peta di tangannya. 

“Hei, apa yang kamu lakukan?!” Dengan wajah penuh amarah, mereka berjalan ke arah kami. Namun, sebelum mereka sampai, sebuah cahaya yang menyilaukan tiba-tiba keluar dari peta yang sudah tersobek. Dalam hitungan detik, cahaya itu menghilang dan kami berpindah ke tempat lain. 

“Ini adalah makam sunan sendang duwur, tokoh yang turut berperan dalam penyebaran agama islam di pulau Jawa.” 

Aku menoleh pada Citra yang juga memandangku dengan tersenyum bangga. “Tempat ini adalah salah satu wisata religi yang ada di Lamongan.”

“Tempat ini begitu luar biasa,” ungkapku takjub. 

Aku tersenyum lebar dan langsung menuruti permintaannya. Kami berdua mengabadikan momen dengan foto bersama, sesekali kami bergantian dalam mengambil foto masing-masing. Setelahnya, kami memutuskan tetap berada di sini sebentar untuk menikmati pemandangan saat matahari tenggelam. 

***

Tim Penulis

  1. Penulis ini memiliki nama pena likewritesomething, ia lahir di kota pempek yang kerap dikenal dengan Palembang. Walaupun ia bukan berasal dari sastra, ia mempunyai hobi menulis dan membaca. Saat ini, ia juga memiliki kumpulan antologi bersama teman teman kepenulisan-nya. Mulai dari penulis terbaik, penulis inspiratif ataupun juga dari keinginannya sendiri.

  2. a_ariviyana adalah seorang ibu muda dengan dua orang putri, beliau juga seorang karyawan disalah satu perusahaan swasta di bidang properti. Beliau lahir di Banyuwangi tahun 1995 dengan nama Atiyah Ariviyana M.Nur, anak pertama dari tiga bersaudara. Berbeda dari ranah pekerjaannya beliau menyukai sastra dan mendalami kepenulisan di mulai dengan antologi bersama komunitas ufuk literasi.

  3. Affan Ghaffar Ahmad lahir di Pasuruan. Beliau adalah seorang pemuda yang gemar menyelami labirin kata dalam novel fiksi dan horror, dia memiliki kecintaan tersendiri dalam dunia literasi. Kini ia aktif menorehkan imaji pikirannya di aplikasi wattpad dalam tema horror berjudul “Nightmare Diary.” Dengan permainan diksinya ia membawa pembaca ke dunia imajinasi yang mencekam.

  4. Anis Nur Aisa yang biasa dipanggil Anis, lahir di Lamongan pada tanggal 18 Juni 2005. Memiliki hobi membaca terutama membaca cerita fiksi dan sekarang tertarik untuk menjadi seorang penulis. Sangat menyukai cerita dengan genre misteri, aksi, dan fantasi. Membaca cerita fiksi merupakan rutinitas yang sangat dia sukai. Kalian bisa mengunjungi instagram: @benihaksara

  5. Winda Afrida yang akrab disapa dengan panggilan Winda, merupakan putri bungsu dari dua bersaudara yang lahir di Lamongan pada tanggal 31 Mei. Kini, dia sedang menempuh pendidikan tingkat akhirnya pada jurusan Pendidikan IPA di Universitas Trunojoyo Madura. Dia hanya bisa menulis saat moodnya sedang bagus, atau pada saat pikirannya sedang berantakan saja, haha. Kenali Winda lebih dekat melalui akun instagram pribadinya @windfrid_ atau akun khusus menulisnya @imfaey_
Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

Posting Komentar