[CERPEN] Rahasia Jejak di Lautan
![]() |
| ilustrasi lautan (pexels.com/Marian Florinel Condruz) |
Anak laki-laki itu nyaris tersandung jaring yang teronggok di atas lantai papan. Ia tergesa-gesa menghampiri ayahnya. Umam dan Ayah sudah bersiap pergi ke laut untuk mencari ikan yang bisa dimakan hari ini. Mereka menyusuri pesisir pantai mencari kerang atau udang kecil. Umam sesekali memandangi kenampakan yang terhampar. Laut biru dan horizon sewarna madu. Namun, ketenangannya juga menyimpan duka pasca bencana. Setelah tsunami, pantai itu tak lagi sama.
Pemukiman listrik terputus di berbagai tempat. Banyak warga yang memilih untuk tidur di tenda pengungsian. Jerit tangisan trauma pada malam hari. Mereka berharap semua yang terjadi hanya mimpi buruk bukan sebuah kenyataan pahit.
Bagi Umam, hamparan biru yang kini tenang itu seperti berbisik penuh rahasia. Sesekali matanya melirik ke arah ombak laut yang datang lalu pergi. Seketika ada sesuatu menggelitik ingatannya. Dirinya teringat akan cerita kakeknya dulu. Tentang sebuah legenda yang dulu sering diceritakan sebagai dongeng pengantar tidur. Legenda Tuan Tapa.
Umam memasukkan kerang hijau seukuran telapak tangannya ke dalam keranjang. Ia mendekati ayah yang menyiapkan perahu kecil. Dengan nada pelan ia bertanya. “Ayah … Ayah ingat dulu Anduang pernah cerita tentang Tuan Tapa?”
Ayah terdiam, tangan yang sedang menggulung tali jala terhenti sejenak. Dengan kebingungan Ayah membalas. “Kenapa tiba-tiba kamu tanya soal itu?”
“Tuan Tapa itu penjaga laut, ‘kan?”
Ayah menghembuskan nafas panjang. “Itu hanya cerita lama saja, Neuk, legenda orang-orang dulu. Lagipula, Tuan Tapa sedari awal tidak memiliki tujuan menjaga apapun. Kebetulan saja meditasinya terganggu.”
“Tapi, tetap saja Tuan Tapa menjaga lautan! Kalau kemarahan naga-naga itu tidak dihentikan, laut pasti hancur!” Ayah hanya bisa mafhum mendengar anak lelakinya yang belum genap delapan tahun itu berceloteh. Ia akhirnya menanggapi dengan lembut. “Hancur tidaknya, semua itu ada di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa.”
Semenit kemudian, suasana mendadak gaduh. Seorang nelayan berlari tergopoh-gopoh; nafasnya tersengal, wajahnya pucat. Warga segera berhamburan keluar rumah. Ayah dan Umam menghampiri kelompok nelayan itu.
“Kami melihat … tentakel!” Ujar salah satu nelayan dengan suara gemetar. “Besar sekali menggeliat dari balik kabut laut. Seperti … seperti gurita raksasa. Semua ikan di jaring kami habis ditelannya.”
Ayah dan Umam gagal mencari ikan hari itu. Pagi itu mereka berdua merebus kerang yang mereka ambil—dengan irisan cabai dan garam. Umam mencuci piring sementara Ayah merapikan jaring; sebelumnya membuat Umam hampir tersandung.
Malam itu, para nelayan berkumpul untuk musyawarah. Ayah meninggalkan Umam sendirian di rumah. Lilin yang berpijar di tengah ruangan membentuk bayangan yang menari-nari, menerangi jam dinding tua yang jarumnya tak selaras. Dia berbaring dengan satu tangan sebagai bantalan kepala. Bayangan memanjang dari tangan Umam yang terangkat di udara.
Anak itu termenung. Ia membayangkan bagaimana Tuan Tapa menghadapi situasi ini; menarik gurita itu dari laut? Melempar tombak secara presisi ke tengah kepalanya?
“Anduang,” gumam anak laki-laki itu. “Anduang pernah bilang tentang jalan menuju ke tengah laut.” Umam bangkit dari posisinya dengan tiba-tiba—astaga, kepalanya berputar. Tangannya di pinggang, tekadnya sebulat bola plastik kesukaannya.
Angin berhembus kuat sekali. Ombak menghantam bebatuan. Langit juga sepi tanpa gemintang. Tubuh kecilnya nyaris terhuyung ke belakang. Dingin sekali; Umam merinding dengan kaos lengan pendek dan celana selutut yang warnanya mulai pudar.
Tiba-tiba, ombak di depan matanya bergulung lebih tinggi. Muncul siluet samar dari balik kabut. Umam menahan nafasnya. Perlahan seorang pria tua dengan jubah, rambutnya putih seperti buih ombak, dan matanya memancarkan ketegasan sekaligus kelembutan. Sosoknya menjulang begitu tinggi. Umam seperti berdiri di hadapan sebuah pohon raksasa.
“Kau yang pemberani dan gemilang,” suara itu menggema lembut namun tegas. “Berdoalah, kekuatanmu datang hanya dari Tuhanmu.”
Umam terpana. Mulutnya terbuka, seolah hampir menjatuhkan rahang. Kontras dengan tubuhnya yang diam mematung, matanya berbinar-binar. Tuan Tapa tersenyum dan menjulurkan tangan. “Ikuti aku ke dasar laut, di sana kau akan belajar bagaimana menjaga keseimbangan dan melindungi desa ini dari ancaman yang lebih besar.”
Dingin air laut menyelimuti tubuhnya saat ia dan Tuan Tapa menyelam lebih dalam ke dasar laut. Cahaya matahari mulai memudar, digantikan oleh kilauan bioluminesen yang memancar dari terumbu karang dan makhluk laut kecil di sekitarnya. Suasana bawah laut begitu tenang, namun penuh dengan kehidupan yang ajaib.
“Makhluk pemarah seperti mereka mencintai kegelapan dan membenci cahaya.”
Pada momen berikutnya, kepala Umam berdenyut. Semua ini merangsek paksa kepalanya pada saat yang bersamaan. Tuan Tapa menjatuhkan sebuah benda kecil berkilauan. Lalu, berkata lembut untuk kembali besok dibawah bintang-bintang di langit sebelum pandangan Umam gelap. Arus hangat tenang membawa tubuh kecilnya ke permukaan.
***
Pagi datang dengan sambutan kabut tipis yang masih menyelimuti pesisir. Seekor kupu-kupu hinggap di hidung. Umam terbangun di atas lampit lusuh, tapi bukan di cungkup gubuknya. Ia menyadari bahwa dirinya sedang berada di balik rampak pohon kelapa, yang jaraknya tak jauh dari pantai. Perjalanan yang mengiringinya bersama Tuan Tapa malam itu terasa seperti mimpi. Namun, jejak air asin yang masih menyimbah tubuh, serta cermin kecil bercahaya di genggamannya menyanggah itu.
Umam tahu, waktunya tersisa tidak banyak lagi. Ia kembali ke rumah dengan mengendap-endap, memastikan tidak ada satu pasang mata sekalipun untuk melihatnya. Di dalam rumah, ia membuka sebuah peti kayu tua. Itu adalah peninggalan ibunya, untuk menyimpan barang-barang kesukaannya dulu; jaring, kerang, dan tongkat kayu kecil. Umam menyusun semuanya; mulai dari jaring untuk dijadikannya umpan dan menjinjing tongkat kayu itu.
Ia pun menyelipkan cermin kecil itu ke dalam kantong celananya. Selama ini untuk ke laut, ayahnya selalu membuatnya mengerjakan hal lain. Misalnya, mencuci selimut bekas liurnya sendiri. “Kamu alihkan perhatian dulu, ya. Setidaknya sampai aku kembali,” katanya sembari menunjuk-nunjuk guling yang ia baringkan di bawah selimut.
Dengan hati penuh rasa percaya diri, bocah tujuh tahun itu melangkahkan kakinya menuju pantai. Tak ada rasa takut, hanya tekad yang membara dalam dada. Angin laut sepoi-sepoi menyambutnya seperti sahabat lama, dan burung-burung camar seolah mengiringi langkah kecilnya.
Sama seperti sebelumnya, Tuan Tapa sudah menunggunya di tempat sebelumnya. Langit seperti ditaburi bubuk kelap-kelip. Tubuh Tuan Tapa yang menyamai nyiur yang tumbuh di pesisir tidak menghalangi pemandangan indah ciptaan Tuhan. Jantung Umam berdegup penuh adrenalin.
Umam tidak dibawa menyelam ke dalam lautan lagi. Dirinya yang memang kecil berdiri di atas telapak besar Tuan Tapa. Sejenak, Umam melupakan tujuannya. Pemandangan lautan di malam hari begitu mempesona; permukaan air yang memantulkan langit berbintang. Hingga di hadapan mereka muncul kabut tebal bak tabir.
“Jadi, itu …”
Tanpa menjawab, Tuan Tapa mengulurkan tangan ke depan. Hembusan angin semakin kencang, tekanannya membentuk pusaran di kabut hingga tabir itu pecah. Di dalamnya, banyak puing-puing kayu dari perahu. Sosok gurita raksasa itu menjulur-julurkan tentakel ke atas permukaan air. Umam menelan ludah susah payah, digenggamnya tongkat kayu dengan erat.
Tubuh Umam tiba-tiba bercahaya. Entah kenapa ia merasa begitu kuat dan percaya diri. Dia segera melompat dari telapak tangan Tuan Tapa dan mendarat di atas sebuah batu karang. Langit tiba-tiba mendung, petir menyambar lautan di sana dan sini. Gurita itu membuat gelombang di sekitarnya.
Langkah Umam menjadi seringan bulu. Dia dengan gesit melompat dari satu papan ke papan yang lainnya. Tubuhnya yang kecil mempermudahnya bergerak; papan kayu yang cukup besar tidak bergoyang berarti karenanya. “Berapa banyak perahu yang kamu hancurkan?!”
Tentakel gurita itu memecut liar ke berbagai arah. Kaki Umam melompat dengan cekatan—untungnya dia terbiasa main lompat tali dengan teman-temannya. Karena gerakan gurita itu juga, kabut di sekitar perlahan menghilang. Cahaya bulan mulai tampak di atas kepala. Saat tentakel besar itu nyaris menghantamnya, Umam menangkisnya dengan tongkat kayunya.
Umam teringat dengan perkataan Tuan Tapa sebelumnya. Makhluk ini mungkin membenci cahaya. Oleh karena itu, gerakannya semakin agresif namun tidak fokus ketika tabir kabut itu menghilang. Tentu saja, karena ulahnya sendiri. Umam merogoh cermin kecil di kantongnya, menggenggamnya dengan kuat. Ia mencari celah untuk mendekat.
Mata gurita itu sebesar dirinya; hanya muncul satu di permukaan. Umam mengangkat tangan untuk mengarahkan cermin. Cahaya bulan terpantul dan mengenai tepat di mata raksasa itu. Gerakannya semakin tidak terkendali. Umam terkena pecutan tentakel dan terjatuh ke air yang dingin. Untunglah dirinya sangat pandai berenang.
Dia naik lagi ke atas papan kayu tak jauh darinya, namun lebih sempit membuatnya tidak seimbang. Tanpa diduga, sebuah angin kencang berhembus ke arahnya. Angin yang menerbangkan butiran air membuatnya melayang. Karena kesempatan itu, Umam bermanuver di udara kemudian melemparkan tongkat kayunya sekuat tenaga.
Tongkat kayu itu menembus masuk ke dalam air, mengenai tepat ke mata lainnya. Detik berikutnya, gurita itu mengejang kaku sekali sebelum menjadi lemas. Tentakelnya perlahan tenggelam. Umam menyaksikannya dengan nafas terengah-engah. Cincin angin di sekitar tubuhnya membawanya kembali ke telapak tangan Tuan Tapa.
Tuan Tapa tersenyum lembut. “Kerja bagus. Kau memang pemberani.”
Umam balas memberikan cengiran lebar. Bangga kepada dirinya sendiri. Perasaan puas memenuhi dadanya. Dia bertekad untuk memerangi para makhluk pemarah yang mengganggu lautan—hingga seseorang menoel pipinya dari samping.
“Kenapa anak ini cengar-cengir sendiri?” Seorang wanita tua menatap heran. Umam tersentak dan mengerjap. Di sekelilingnya, orang-orang kebingungan. Mereka masih berdiri di sana seperti sebelumnya
“Aku sudah mengalahkan guritanya,” kata Umam. Para wanita dan pria dewasa di sana saling berpandangan sebelum menyemburkan tawa.
“Iya, iya, nanti Mak Nek masakkan guritanya untuk Umam, ya?” Wanita tua itu tersenyum lembut.
Setelah itu, Umam menyadari dirinya telah salah sangka. Karena gurita raksasa itu bukan monster, tapi gurita ukuran sepuluh kilogram. Ternyata sedari awal memang dilebih-lebihkan. Umam tersipu malu karena lamunan dan imajinasinya sendiri.
***
Tim Penulis
- Valya Hanindita Agustin atau biasa dipanggil Valya, lahir di Tegal, 17 Agustus 2002. Penulis pemula yang mulai aktif menulis cerita bergenre fantasi dan drama dengan nama pena Lya Han. Suka game RPG serta penggemar cerita bertema fantasi dan aksi. Menulis adalah caranya berbagi imajinasi. Bisa kunjungi Instagramnya: @vlyaway.
- Ketut Ariyanti atau yang sering disapa Ketut. Remaja asal Palembang yang mulai gemar membaca novel dan menulis, awal menyukai dunia literasi sewaktu masa pandemi hingga saat ini. Telah tergabung dalam beberapa proyek menulis antologi salah satunya bersama komunitas ufuk literasi. Menurutnya menulis adalah cara terbaik mengenal diri sendiri dengan lebih baik.
- Namaku Mona Deva Nagita Kasim, kelahiran kota SURABAYA tahun 2003. Aku adalah seorang mahasiswa jurusan Manajemen. Memiliki hobi yaitu menulis, mendengarkan musik, lalu aku memiliki sebuah ide berubah menjadi sebuah impian yaitu menjadi Penulis. Meski akan mustahil, tapi aku tidak akan menyerah. Karena si penulis ini ingin sekali mendengar orang tuaku berkata, "Si penulis terkenal adalah putriku yang manis dan ceria." Ingin tahu selengkap nya cek aja di Instagram : m.dnk29
- Syazwa Nur Maulidina mahasiswa aktif Pendidikan Sejarah di Universitas Syiah Kuala, yang memiliki minat membaca dan menulis. Aktif dalam mengikuti kegiatan penulisan, "Setiap kalimat adalah pengabdian, setiap paragraf adalah langkah menuju perubahan." kalian bisa menyapa di medsosnya Syazwaaaanm_ atau penasyaz_
- Nur Aisyah Rahma Fadila biasa memiliki panggilan Ikan. Anak Gen Z kelahiran 2006, punya cita-cita setinggi angkasa tapi susah tenggelam di dasar lautan. Menyukai kepenulisan sejak 2020. Calon dari anak pegunungan di lima tahun mendatang yang akan menjadi impian. Mari berteman denganku di instagram pribadiku @aisss.nrhmfdl_

Posting Komentar