[CERPEN] Rambut Hitam di Hutan Kalimantan
![]() |
| ilustrasi hutan yang dipenuhi dengan banyak pohon (unsplash.com/Irina Iriser) |
Notifikasi list nama sudah muncul, kelompok ini beranggotakan Bayu, Joko, Asti, Nur dan Muti. Satu kelompok misi ini terdiri lima orang dan ternyata masih dalam provinsi yang sama di Kalimantan Barat. Pesan dari komunitas dua bulan lalu ibarat surat cinta yang masuk dalam ponsel mereka. Sebuah pesan masuk yang di tunggu-tunggu sejak lama. Ada kebahagiaan terasa di dada. Membayangkan hutan lebat, paru-paru bumi di Indonesia sebentar lagi akan disambangi.
Bayu kemudian membuat grup dan memutuskan untuk menjelajah hutan di sekitar Pontianak. Rasanya tidak sabar bertemu dengan teman online dan langsung berpetualang. Tak ingin berlama-lama, Bayu segera menyiapkan barang-barang yang mungkin dibutuhkan dalam perjalanan kali ini. Buku, pena, pakaian, sandal jepit kodok miliknya, logistik, dan tak lupa gunting siaga sekiranya dibutuhkan sepanjang perjalanan sudah berbaris rapi di dekat lemari kayu tua miliknya.
Note itu diselipkan dalam rompi kebesaran yang dibuat kelompoknya supaya makin kompak. Rompi ini apik sekali, warna hijau bata, berhias banyak kantong kiri dan kanan. Membawa mineral kecil, notes, handphone, semua bisa. Kesannya berjalan nanti lebih simpel. Tak perlu membawa tas ke mana-mana selagi membawa rompi.
***
Titik kumpul mereka di taman kota. Mereka menunggu anggota timnya yang terakhir, terlambat lima belas menit dari janji jam yang sudah ditentukan. Dari arah belakang, seorang wanita berkuncir kuda datang tergesa-gesa. Tampilannya sangat kurang meyakinkan, ia mengenakan jaket kuning bergambar spongebob tanpa atribut dan tanda pengenal.
“Maaf terlambat. Halo, aku Asti.” Ucapnya dengan penuh semangat. Dia tersenyum lebar sembari menyalami kami semua satu per satu.
“Halo Asti, aku Nur salam kenal ya!” Sapa Nur sambil mengadahkan lengannya untuk bersalaman dan merangkul Asti.
“Rompimu mana? Ayo dipakai! Yang lain masuk ke dalam mobil, kita akan segera berangkat.” titah Bayu.
Asti mengekori teman-teman timnya dan meletakkan tas di bagasi mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia membuka jaketnya yang ternyata rompi lengkap itu sudah ia pakai sebelum tiba di taman kota.
Perjalanan kurang lebih dua jam, akhirnya mereka sampai di sebuah desa. Mobil yang disewa hanya mengantar sampai di depan gapura desa. Hanya desa ini satu-satunya yang punya akses masuk di hutan yang akan dijelajahi.
“Kita cari tumpangan saja. Itu di depan ada mobil pick up mau belok ke sini.” celetuk Muti sembari mengunyah makanan dimulutnya.
Usai bernegosiasi, mereka diizinkan untuk menaiki mobil pick up pengangkut sayuran itu. Suasana di desa ini begitu asri dan nyaman. Kiri dan kanan dipenuhi pepohonan, sesekali terlihat ada jejeran rumah-rumah warga. Angin menghempaskan kencang rambut wanita di depan Bayu. Sesekali lonceng kecil di gantungan kunci beruang itu bergemericik. Rasanya seperti tidak asing, Bayu mencoba menerka-nerka dan mengingat kembali di mana ia pernah melihat gantungan kunci beruang itu.
Mobil yang mereka tumpangi telah berhenti. Di sekelilingnya tidak ada lagi rumah-rumah warga. Hanya sebuah gubuk kayu kecil yang atapnya telah lapuk.
Jarak menuju ke pintu hutan itu masih 200 meter. Mobil pengangkut sayur tidak bisa masuk karena akses jalannya yang kecil dan cukup sulit. Terpaksa mereka harus jalan kaki menuju perbatasan desa terdekat. Disekelilingnya dipenuhi berbagai jenis pepohonan lebat. Kicauan burung, jangkrik dan suara riang-riang berpadu mengalunkan harmoni menyeramkan.
“Jaga mulut dan tingkah laku. Di dalam sana banyak Bangket. Paham kan kenapa disebut Pontianak?” Pesan Bapak pengangkut sayur kepada kami. (Bangket merupakan bahasa Melayu yang artinya hantu. Dan asal-usul nama Pontianak adalah Kuntilanak)
***
Sepanjang perjalanan mereka menikmati pemandangan sejuk nan indah. Pohon-pohon lebat hutan tropis menjulang tinggi di tengah hutan Pontianak. Tidak lupa mereka mendokumentasikan ragam flora dan fauna yang mereka temui.
“Kalian ada nyium bau amis gak sih?” tanya Nur kepada rekannya.
Semuanya menggeleng, mereka tak mencium bau apapun. Bayu mengisyaratkan agar rekannya tidak bicara sembarangan dan tetap mengikuti langkahnya. Masing-masing dari mereka berjalan dalam diam.
Tiba-tiba Muti berhenti, matanya menghadap pepohonan di samping kiri. Tangan kirinya melambai-lambai memberi kode kepada Nur. Semuanya berhenti dan melihat ke arah pandang Muti. Tampak sosok berambut panjang berdiri di antara pepohonan, Mereka kalut, dengan cepat mereka tetap berjalan walau mereka dilanda ketakutan.
Tak hanya itu, lagi-lagi mereka melihat penampakan itu di sebuah dahan pohon. Makhluk itu duduk bertengger di sana. Rambut panjangnya menutupi muka, pakaian merahnya menjuntai, dan bau amis itu berhembus terbang terbawa angin. Hanya doa yang bisa mereka lafalkan. Berharap ayat suci itu mampu mengusir setan yang mengganggu mereka.
***
Mereka mencoba istirahat sejenak, menghilangkan penat dan ketakutan.
“Itu tadi kuntilanak ya? Tapi kok warna merah?” tanya Muti penasaran.
“Eh jangan salah. Kuntilanak ada juga ya yang warna merah. Katanya dia itu arwah yang gentayangan. Yang belum selesai dengan urusan dunianya gitu. Dan ciri-cirinya dia mau datang itu kecium bau amis.” Joko menjelaskan apa yang ia ketahui. Walaupun dirinya belum pernah melihat secara langsung.
“Udah-udah, lanjutin makannya biar kita cepet pulang.” Bayu mulai menengahi.
Kening Joko mulai mengerut. Ada bau-bau yang tidak nyaman, Joko mulai mengendus-endus sekitar. “Tuh kan, bau amis. Cepetan habisin makanannya!”
“Please, ini gimana? Baunya makin menyengat.” Ucap Muti ketakutan.
“Tahan-tahan.”
“Jangan menoleh, jangan dicari!”
Tapi Muti tidak mendengarkan larangan, ia menoleh ke belakang. Muti menggoyangkan lengan Bayu. Kuntilanak itu, tepat berada di belakang mereka. Baunya sangat menyengat, susah payah Joko dan Nur menelan sisa makanan di tenggorokannya. Tubuh mereka menegang. Keringat dingin di pelipis Bayu mulai turun. Para wanita di timnya sudah saling berpegangan tangan. Walau dalam kondisi terpojok, mereka mencoba mundur menjauh.
Kuntilanak itu tidak bergerak dari tempatnya, namun mereka semua was-was. Takut jika makhluk itu marah dan agresif kepada mereka. Dengan cepat, Kuntilanak Merah itu mengambil salah satu makanan mereka yang masih banyak tersisa. Lalu ia berlari meningkalkan Bayu dan rekan-rekannya.
“Cepat, kita ikuti dia!” Ajak Joko sambil mempercepat mengunyah makanan di mulutnya.
“Ngapain diikutin sih, dia cuma ambil makanan.” Gerutu Bayu ke Joko.
“Nah itu dia. Itu yang gak masuk akal. Sejak kapan hantu tertarik makan bubur pedas?” balas Nur masih terheran dengan hantu yang aneh ini.
Bubur pedas merupakan salah satu makanan khas dari Pontianak dan Kabupaten Sambas Kalimantan Barat. Bubur ini berbeda dengan bubur seperti umumnya yang berasal dari beras. Namun, terdiri atas campuran berbagai sayuran dengan daun kesum dan kunyit yang membuat rasa unik pada kuliner ini.
***
Mereka mengejar Kuntilanak itu hingga ke gubuk tua, perbatasan antara desa dan hutan. Kali ini baru tampak wajah kuntilanak itu. Mukanya hitam, tatapan matanya tajam, menghunus satu per satu wajah mereka. Bau amis mulai menyebar, Nur menahan diri agar tidak muntah. Tiba-tiba, kuntilanak itu tersenyum miring lalu dengan cepat meraih tangan Bayu.
Tubuh Bayu membeku. Semuanya terdiam, bahkan untuk menoleh ke arah temannya pun Bayu tak berani.
“Terima kasih,” ucap Kuntilanak Merah itu. Lalu terdengar suara sendawa kenyang dari Kuntilanak merah itu, dan dia kembali tertawa cekikikan. “Hmm enak. Hihihihihihihiiii.”
Bergegas si Kuntilanak Merah meraih sapu ijuk yang bertengger di samping gubuk tua itu. Dia meletakkan sapu tersebut di antara dua kakinya. Dan dia berlari seolah-olah sedang menaiki sapu terbang ala-ala Harry Potter.
“Itu beneran Kuntilanak Merah?” Tanya Asti.
Bayu menggeleng perlahan. “Gak tau. Yang perlu aku tau, apa aku masih hidup?”
Joko mencubit pinggang Bayu dengan keras. Lalu Asti tanpa aba-aba menjambak rambut Bayu agar ia sadar bahwa dia sebenarnya masih hidup dan bisa merasakan kesakitan.
“Kayaknya bukan deh. Dia gak terbang, dia juga bisa ngomong, dan dia bisa megang tangan Bayu. Iya kan?” Nur berargumen singkat. Hanya Nur yang mencoba menjadi orang paling waras di antara mereka.
“Apapun itu, syukurlah dia udah kenyang.” Ucap Muti penuh haru.
Tatapan Muti tampak kosong,. Ia tersenyum menatap pintu masuk hutan. Mereka berempat saling pandang. Tatapan mereka penuh tanda tanya seolah-olah berkata, “Apa jangan-jangan Muti yang kerasukan?”
Joko bergidik ngeri. Asti, Nur, dan Bayu pun mulai merasa ketakutan. Perlahan kaki mereka mencoba perlahan-lahan mundur, Lalu semuanya berlari meninggalkan Muti sendirian di dekat gubuk tua.
“Eh, tungguin!” teriak Muti dari kejauhan. Dia baru sadar kalau dirinya ditinggal sendirian.
Muti ikut berlari, tapi sayangnya ia menyenggol kuntilanak itu. “Brugg!!!” Muti menubruk kuntilanak dan dia bersentuhan lagi dengan hantu mengerikan ini.
“Woy, berat sekali kamu.” Muti kaget kenapa kuntilanak ini berbicara lagi seperti sebelumnya.
Muti menyingkap rambut si Kuntilanak Merah. “Astaga, ternyata kamu bukan hantu?.”
Bayu dan kawan-kawan berhenti berlari, melihat ke belakang dan tidak menemui tanda Muti menyusul. Mereka mulai khawatir.
“Gak bener ini. Ayo kita jemput Muti!” Seru Asti sambil menepis rambutnya yang berantakan.
“Iya, kita masuk bersama pulang juga bersama. Kita tuntaskan petualangan ini sampai selesai dan selamat semua,” timpal Joko berbalik badan berjalan menuju dalam hutan kembali.
Mereka menyusuri jalan yang sudah dilewati, suara kanan kiri tak dihiraukan. Sampailah di gubuk tua itu kembali, betapa kagetnya mereka melihat Muti asyik tertawa bersama Kuntilanak Merah itu. Semakin mereka mendekat, semakin jelas kuntilanak itu bukan hantu tapi manusia setengah gila.
***
Tim Penulis
- Puspita Rahayu, lahir di Provinsi berjulukan “Seribu Sungai” Kalimantan Barat. Dirinya suka mencoba hal baru dan berpetualang. Pembaca bisa lebih dekat dengan penulis lewat akun sosial media Instagram @Puspitarahayu77.
- Mutiara Cintha Pratami, lahir di Kalimantan Barat, pada tahun 2007. Menulis adalah salah satu hobinya sejak mondok. Selain menulis, ia juga memiliki hobi editing dan membaca. Follow instagram @cintha.prtami untuk melihat kegiatannya.
- Namanya Roro Asti Purnaningsih, lahir 24 tahun yang lalu tepatnya di Kota Mempawah, Kalimantan Barat. Si bungsu dari empat bersaudara ini mempunyai hobi membaca, menulis, dan mengkhayal. Ia sangat ingin berkecimpung di dunia literasi untuk menyuarakan khayalannya dan berharap dapat bermanfaat bagi sesama. Bisa menyapa melalui Intagramnya @astiyuwono
- Nurindah Fajarwati asal Makassar
- Muhammad Ziyad asal Samarinda

Posting Komentar