[CERPEN] Sejenak Menepi, Sungguh Tak Mengapa
![]() |
| ilustrasi rumah yang tenang (pexels.com/Clay Elliot) |
“Enggal,” panggil atasannya yang segera direspons perempuan pemilik nama tersebut dengan menyerahkan sebandel dokumen yang sudah ditumpuk rapi.
“Oh, laporan ini ...” Laki-laki bertubuh jangkung dengan suara bariton itu menerimanya dengan agak ragu.
Enggal sedikit mengerutkan keningnya, ada yang janggal menurut firasatnya.
“Laporan ini tinggalkan saja dulu, ada pertemuan penting yang harus kita hadiri siang ini.”
Belum sempat Enggal menanggapi itu, atasannya menambahkan kalimat pamungkas yang membuat perempuan itu tidak bisa mengatakan apa pun lagi. Selain tumpukan kesal dalam hatinya.
“Mendadak, jadi divisi lain yang bertugas di lapangan tidak bisa ikut. Untuk itu tim kita yang akan menggantikannya. Karena mendadak, waktu di jam istirahat.”
Laki-laki itu melenggang pergi setelah menaruh kembali ke sisi kiri printer dokumen dari Enggal.
“Selamat tinggal makan siang,” keluh Enggal seraya mengelus perutnya yang sudah mengumandangkan keroncong sebagai bentuk protes untuk diisi karbohidrat dan rombongannya.
Aplikasi pemesanan ojek online sudah menampilkan gelembung obrolan dari pengemudi. Bergegas Enggal membalas pesan itu menunjukkan posisi dan warna pakaian yang dia kenakan agar lebih mudah ditemukan sang pengemudi.
“Pak, maaf boleh agak ngebut, nggak?” pinta Enggal yang diangguki oleh pengemudi itu.
Setelah beberapa menit berlalu, laju kendaraan melambat. Kening Enggal berkerut, merasa asing.
“Maaf Kak, maps-nya ternyata tidak sesuai, nyasar.”
Enggal menghela napas, segala yang terjadi hari ini membuatnya kesal. Dia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya itu berkali-kali. Sembari pengemudi mengutak-atik ponselnya untuk mencari alamat yang tepat, mata Enggal menangkap bangunan sederhana berwarna cream dengan plang sedikit berlumut menarik perhatiannya.
Pengemudi ojek online yang sudah menemukan alamat hendak mengemudikan lagi motornya. Namun, melihat penumpangnya terpana ke bangunan di seberang, dia tersenyum.
“Itu panti asuhan, Kak. Ramadan tahun lalu saya diberi kesempatan ke sana. Pengasuhnya ramah, anak-anaknya ceria—“
Belum selesai kalimat itu, sebuah suara keluar dari mulut penumpangnya yang membuatnya tertegun.
“Kalau bapak berkenan, antarkan saya masuk ke sana, Pak.”
“Bukankah kakak sedang buru-buru?”
Enggal tersenyum, kemudian menatap lawan bicaranya. “Saya sudah terlambat dari tadi, Pak. Sudah jauh juga, pasti bukan suatu kebetulan saya sampai di sini.”
Dua sudut bibir pengemudi ojek online terangkat, kemudian menepikan motor dan membimbing penumpangnya untuk memasuki pelataran panti asuhan yang ditumbuhi rumput-rumput terpangkas rapi juga bunga-bunga yang harum. Beberapa anak panti pun bermain dengan ceria di taman panti tersebut.
“Eh, ada tamu,” ujar seorang wanita berusia sekitar 45 tahun yang Enggal yakini adalah pengasuh panti tersebut.
“Gimana Bu kabarnya? Kakak ini penumpang saya, kami tidak sengaja nyasar ke sini. Karena udah terlanjur nyasar, kakaknya mau mampir kesini aja, deh.” Pengemudi ojek online itu menjabat tangan perempuan itu, menjelaskan kronologi bagaimana mereka bisa sampai di sana.
“Selamat datang, saya pengasuh panti ini.” Pengasuh panti menghampiri Enggal, mengulurkan tangan.
Enggal pun membalas uluran tangan tersebut dengan senyum tulusnya. Ia pun memperkenalkan dirinya.
“Halo Bu, perkenalkan saya Enggal.”
“Senang bertemu denganmu Enggal, apakah kamu mau berkeliling panti bersama saya, Enggal?” tawar pengasuh panti.
“Tentu, jika Anda tidak keberatan.” Enggal mengangguk menyetujui.
“Kalau gitu saya tinggal, ya, Kak, nanti kalau sudah selesai kakak bisa telepon saya aja,” ujar pengemudi ojek online tersebut.
“Baik pak, terima kasih,” balas Enggal.
“Mari Enggal,” ajak pengasuh panti itu.
Enggal pun mengikuti langkah pengasuh panti, beliau mengajak Enggal berkeliling area panti, mulai dari kamar anak-anak, ruang makan bersama dan yang terakhir adalah taman panti yang terbilang cukup luas. Dapat Enggal lihat anak-anak yang bermain dengan ceria di taman itu.
“Mereka adalah anak yang baik, entah apa yang dipikirkan oleh orang yang dengan tega membuang, meninggalkan mereka sendirian.” Enggal menoleh ke pengasuh itu, “Padahal bukan kemauan mereka untuk lahir di dunia yang kejam ini.” Enggal menunduk sedih, dadanya terasa sesak oleh perasaan sedih yang datang.
Enggal kembali melihat anak-anak yang sedang bermain, dan tanpa sengaja ia melihat seorang gadis kecil dengan rambut kepang dua sedang membaca sebuah buku di bawah pohon rindang yang ada di ujung taman.
“Siapa gadis itu, Bu?” tanya Enggal, menunjuk gadis kecil tersebut dengan matanya.
“Oh dia, dia Nala. Dia di tinggalkan di depan pintu panti ini saat dia masih bayi.” Pengasuh tersebut mengikuti arah pandang Enggal.
“Dia sangat perhatian, lembut, dan selalu tersenyum. Dia memang paling suka membaca buku,” lanjut sang pengasuh.
“Apakah saya boleh ke sana, Bu?”
“Tentu, kenapa tidak?” Pengasuh panti mengangguk.
Enggal pun berjalan menuju gadis yang terlihat sangat fokus membaca itu.
“Hai, namamu Nala, ‘kan?” Enggal melambaikan tangannya. Gadis kecil itu pun menoleh dan tersenyum hangat.
“Hai kak, iya aku Nala,” ujar gadis itu “Kakak siapa, ya?”
Enggal mengambil tempat duduk di samping gadis itu dan menoleh.
“Aku Enggal, tadinya mau pergi meeting, eh malah gak sengaja nyasar ke sini.” Enggal tertawa mengingat bagaimana ia bisa sampai di situ, gadis kecil itu pun ikut tertawa.
“Ya ampun kakak kasihan banget, sih.” Nala menghapus sudut matanya yang berair.
“Kamu lagi baca apa?” tanya Enggal.
“Kumpulan cerpen, Kak,” balas Nala. “Wah, menarik kamu punya cerpen favorit?” Enggal antusias menanggapi.
“Punya, dong!” Nala membuka halaman buku yang menunjukkan cerpen favoritnya lalu menunjukkan pada Enggal. “Ceritanya tentang apa?”
“Tentang keluarga yang hangat, bahagia dan saling menyayangi satu sama lain,” balas Nala masih dengan senyumnya. Enggal terenyuh saat mendengarnya.
“Nala sedih?” tanya Enggal.
“Sedikit,” balas gadis itu “kadang Nala sedih dan ngerasa dibuang, tapi Nala bersyukur banget, bisa ada di panti ini, ketemu ibu panti yang baik dan mau ngerawat Nala, dan punya banyak teman.” Wajah ceria kembali muncul di wajah gadis itu. “Kakak kalau ada masalah jangan nyerah, ya.”
Enggal menatap dan mengelus puncak kepalanya hangat.
“Mungkin hari ini aku memang ditakdirkan ke tempat ini, agar bisa bertemu dengan mereka.”
***
Tim Penulis
- Veti K. M., gemar membaca dan menulis. Beberapa karyanya berupa cerpen dan puisi telah diterbitkan dalam buku antologi bersama melalui berbagai kompetisi menulis. Penulis dapat dihubungi melalui Instagram dan Wattpad @vetikm13
- Fitri Naurah, memiliki nama pena Astra Lunar. Ia gemar membaca, cerita fiksi adalah favoritnya. Dapat di jumpai di Instagram, wattpad, dan medium dengan nama Astra Lunar.

Posting Komentar