[CERPEN] Villa Kebun Teh
Table of Contents
![]() |
| ilustrasi villa (pexels.com/Chris R.) |
"Bisa lebih cepat lagi gak? Kita udah telat banget nih."
"Iya sebentar ini sudah dekat kok, sayang." Aku melajukan mobilku lebih cepat lagi. Satu jam perjalanan dari pusat kota, akhirnya kami tiba di kaki bukit. Villa estetik dengan arsitektur khas Belanda terpampang jelas di hadapan kami. Aku menerawang sekitar mencari seseorang untuk ditanyai.
"Nyari siapa, Pak?" Seorang pria paruh baya tiba-tiba muncul di samping kami dengan tatapan tidak ramah. Ia menelisik kami dari atas ke bawah seolah mengidentifikasi sesuatu. Istriku nampak mulai risih melihatnya.
"Halo, pak. Nama saya, Doni dan ini istri saya, Nia. Kami ingin survei untuk sewa Villa ini, kebetulan sudah ada janji dengan Pak Agus." Aku mengarahkan tanganku ke depan untuk berjabat tangan. Namun sepertinya tidak disambut. Aku hanya bisa tersenyum canggung dan menurunkan tangan.
"Kalian pergi saja, villa ini tidak disewakan."
Orang itu berbalik arah kemudian menjauh dari kami. Istriku yang melihatnya nampak kesal, ia mencoba melabrak orang itu tapi segera kuhentikan. Dari arah yang sama, seorang pria muda menghampiri kami dengan tenang. Ia mengulurkan tangannya.
"Eh, ada tamu toh. Ini Pak Doni bukan? Saya pak Agus yang kemarin kalian hubungi. Jadi sewa ‘kan? Villanya bagus dekat kebun teh, apalagi kalau pagi udaranya segar."
Seperti dibasuh embun pagi, aku dengan semangat membalas uluran tangannya. Begitu juga dengan Nia. Namun senyumnya masih sedikit kecut. Ia menunjuk orang yang sebelumnya melarang kami membeli Villa ini. Pria paruh baya itu tampak fokus dengan rumput tinggi di belakang villa. "Kok dia bilang villa ini tidak disewa?"
Pak Agus menatap ke arah yang ditunjuk istriku kemudian mengangguk singkat. "Oh, Pak Paijo. Jangan diambil hati omongannya dia memang orangnya begitu. Dia pengurus lama villa ini sebelum ayah saya meninggal. Nanti akan saya bilangin dia supaya bersikap lebih ramah."
Setelah menandatangani kontrak sewa, Aku dan Nia membawa barang kami dan tinggal di villa ini. Hari demi hari kami lalui dengan sangat baik. Aku sering pergi ke luar kota atau luar pulau untuk urusan pekerjaan. Nia jadi sering sendirian di Villa. Hanya saat pagi dan sore hari ada Bu Ratna—istri Pak Paijo—yang datang bersih-bersih.
Suatu malam saat aku sedang tidak di villa, Nia menelponku. Tidak biasa untuknya menghubungiku di tengah malam kecuali ada hal yang mendesak. Tepat saat aku mengangkat panggilan itu, suara Nia di seberang bergetar dan lirih.
“Mas … kapan pulangnya?”
“Besok pagi, sayangku. Ada apa memangnya? Kok kamu belum tidur?” Nia tidak menjawab. Dia memintaku menemaninya hingga ia tertidur. Setelah beberapa saat, istriku itu tidak menanggapi ucapanku. Aku tersenyum, pastinya dia sudah pergi ke alam mimpi.
Kupikir begitu, hingga aku mendengar samar-samar suara tawa dari seorang perempuan sebelum panggilan itu tiba-tiba terputus. Entah kenapa perasaanku tidak enak.
***
"Mas! Mas Doni!" Teriak Nia panik dan ketakutan. Aku yang sedang di kamar bergegas keluar dan menuju sumber suara. Di sana Nia terduduk lemas di lantai, tepat di bawah lampu gantung besar di tengah ruang tamu. Matanya terbelalak dan mendongak. Wajahnya yang biasa bersemu menjadi pucat pasi.
"Ada apa sayang, kenapa kamu ketakutan gitu?" Ucapku kemudian memeluk tubuh istriku yang gemetaran. "Ada aku disini, tidak ada apa-apa jangan takut lagi ya."
Begitu kataku, sampai aku mengikuti kemana istriku menunjuk. Di dekat lampu gantung itu, ada sosok yang tidak asing; istriku. Sosok “Nia” itu merangkak di langit-langit, kepalanya berputar menatap kami dengan mata merah, lidah yang menjulur panjang. Aku tercekat, pelukan itu kini bukan untuk menenangkan istriku saja, tetapi diriku juga.
Pintu terbuka, Pak Paijo tiba-tiba masuk ke dalam. Ekspresinya rumit; marah, terkejut, dan sisanya tak terbaca. Sosok seperti manusia laba-laba di langit-langit rumah sudah menghilang. Mendadak dia membentak. “Sudah saya bilang, jangan dibuang! Terutama kamu, dasar wanita keras kepala!”
Aku yang mendengar istriku dicaci maki lantas geram. Menguap sudah rasa takutku digantikan kekesalan. Tampaknya, Nia juga ikut tersulut emosi. Dia lantas menunjuk pria itu dengan wajah merah padam.
"Kamu penyebab ini semua! Kamu yang kasih makan mereka!" Sentak Nia yang menuduh Pak Paijo.
Bukannya menjawab, Pak Paijo berdecak dan keluar dari villa dengan wajah penuh amarah. Di saat yang bersamaan, tangis Nia pecah. Aku membawanya ke kamar untuk ditenangkan. Kejadian malam itu membuat suasana mencekam. Di tengah hujan deras, kami meringkuk di atas ranjang. Berdoa agar pagi cepat datang.
Segera setelah mentari muncul di ufuk timur, kami berkemas. Semalaman penuh Nia memaksa untuk pergi dari villa itu. Bahkan hingga mengigau dalam tidurnya. Nia dengan wajahnya yang tertekuk masuk ke dalam mobil. Tanpa melihat ke belakang dan pamitan singkat melalui pesan—yang dikirim dadakan kepada Pak Agus. Meninggalkan villa itu kosong. Hingga tidak ada satupun yang tersisa.
***
Di malam hari, seorang pria paruh baya mengecek villa saat pasangan suami istri itu pergi. Rutinitas lamanya saat villa itu kosong. Namun wajahnya yang semula datar berubah panik. Sesuatu yang dia siapkan di setiap sudut rumah hilang. Kemudian menyadari sesuatu, urat di dahinya menonjol. Ia berlari menuju kamar kosong yang tertutup rapat. Sesajennya tidak ada di sana.
Satu hentakan keras, pintu itu tertutup. Mata merah menyala menatapnya di tengah kegelapan. Paijo berlari ke arah pintu, mencoba sekuat tenaga membuka pintu itu. Wajahnya pucat ketakutan. Jika saja, jika wanita itu tidak skeptis dan mendengarkannya. Dia sudah tahu watak majikannya, makanya dia diam-diam menyiapkan penjagaan. Andai saja dia mendengarkan istrinya untuk berhenti dari pekerjaan ini …
Sesuatu yang basah dan lunak menggeliat di lehernya. Paijo terisak—tampaknya tangisan pria paruh baya itu menjadi hiburan makhluk mengerikan itu. Dengan suara serak melengking seperti deritan pintu tua, makhluk itu terkekeh.
“Ibu, maafkan Bapak …”
***
“Begitu ya, salahnya sendiri, siapa yang suruh sok peduli,” ketusnya. Pria muda itu menyeruput kopi hitam. “Padahal bisa dibiarkan saja. Sekarang dia yang kena. Jadi makan malamnya mereka.”
Tanpa empati ia menyeringai. “Ya sudahlah, cari saja penjaga baru yang tidak suka seenak jidatnya sendiri.”
***
Tim Penulis
- Affan Ghaffar Ahmad adalah seorang pemuda yang gemar menyelami labirin kata dalam novel fiksi dan horror, dia memiliki kecintaan tersendiri dalam dunia literasi. Kini ia aktif menorehkan imaji pikirannya di aplikasi wattpad dalam tema horror berjudul “Nightmare Diary.” Dengan permainan diksinya ia membawa pembaca ke dunia imajinasi yang mencekam.
- Nama lengkap Eka Putri Waluasih SN. Biasa dipanggil Putri. Ananakertama dari dua bersaudara. Lahir pada tanggal 10 Maret. Gadis dalam identik jawa. Seorang introvert yang hobi membaca dan berimajinasi. Jatuh cinta dengan novel sejak kelas sepuluh SMA. Jika ingin berkenalan lebih lanjut tentang putri, bisa langsung melipir ke akun sosmednya: Wattpad ; @qn_putriek, Instagram ; @putriii_e03
- Valya Hanindita Agustin atau biasa dipanggil Valya, lahir di Tegal, 17 Agustus 2002. Penulis pemula yang mulai aktif menulis cerita bergenre fantasi dan drama dengan nama pena Lya Han. Suka game RPG serta penggemar cerita bertema fantasi dan aksi. Menulis adalah caranya berbagi imajinasi. Bisa kunjungi Instagramnya: @vlyaway.
.jpg)
Posting Komentar