[ESAI] Ibu: Di Antara Layar, Luka, dan Doa
![]() |
| ilustrasi seorang perempuan (pexels.com/A. Hawa) |
Jika dulu tantangan seorang ibu terbatas pada lingkungan sekitar, kini tekanan itu hadir tanpa jeda melalui media sosial, berita daring, dan standar pengasuhan yang terus dipertontonkan.
Jebakan Citra di Era Digital
Ironisnya, persoalan utama ibu di era digital bukanlah kurangnya informasi, melainkan banjir informasi. Setiap hari, ibu dihadapkan pada aneka nasihat, teori, dan "contoh ideal" tentang cara menjadi ibu yang baik. Media sosial pun berubah menjadi ruang penghakiman tak kasatmata.
Fenomena sharenting yang menampilkan rumah selalu rapi, anak ceria, dan ibu yang tampak sabar tanpa cela, kerap meninggalkan luka sunyi. Tanpa sadar, banyak ibu melukai diri sendiri dengan membandingkan realitas hidupnya dengan versi "editan" kehidupan orang lain. Dari sanalah tumbuh rasa tidak cukup, kecemasan, hingga mom-shaming yang perlahan mengikis kepercayaan pada naluri pengasuhan alami.
Penjaga Gerbang Digital
Di sisi lain, peran ibu bertambah sebagai penjaga gerbang digital bagi anak. Internet memang membuka peluang belajar tanpa batas, namun ia juga menyimpan risiko yang tidak bisa dianggap sepele. Literasi digital menjadi kebutuhan baru yang menuntut ibu untuk terus belajar, beradaptasi, dan waspada terhadap teknologi yang bergerak jauh lebih cepat daripada ritme kehidupan keluarga.
Tantangan terbesar di tengah segala distraksi ini adalah kehadiran secara utuh. Hadir dengan perhatian penuh, bukan sekadar tubuh yang berada di dekat anak. Menjaga keseimbangan antara teknologi dan sentuhan manusiawi kini menjadi seni baru dalam keibuan modern.
Suara yang Terpinggirkan dalam Kesenyapan
Namun, tantangan ibu tidak hanya lahir dari teknologi. Di berbagai belahan dunia, makna ibu hampir selalu dilekatkan pada peran yang sama: pengasuh, perawat, dan penyangga keluarga. Meski latar budayanya berbeda, tuntutannya serupa, ia diharapkan tangguh, sabar, dan selalu siap dalam setiap keadaan.
Di balik gambaran luhur tersebut, sering kali tersembunyi suara ibu yang terpinggirkan. Banyak ibu menjalani hari-hari dalam kesenyapan emosional:
- Kelelahan batin yang menumpuk.
- Rasa bersalah yang terus menghantui (mom guilt).
- Tekanan untuk memenuhi citra "ibu sempurna".
Kesehatan mental ibu masih kerap dianggap isu sampingan. Depresi pascamelahirkan, kecemasan, dan kelelahan emosional sering dinormalisasi sebagai "konsekuensi menjadi ibu". Padahal, luka ibu tidak selalu kasatmata; ia hadir dalam bentuk letih yang berulang, air mata yang ditahan, dan kerinduan untuk didengar tanpa dihakimi.
Madrasah Pertama dan Pahala yang Mengalir
Di tengah kompleksitas tersebut, ada peran mendasar yang kerap terlupakan: ibu sebagai pendidik pertama, terutama dalam menanamkan nilai spiritualitas. Sebuah kalimat yang mengandung makna mendalam mengingatkan:
"Jangan biarkan orang lain mengajari Al-Fatihah kepada anak-anakmu."
Al-Fatihah dibaca minimal tujuh belas kali sehari dalam salat wajib. Setiap huruf yang diajarkan akan mengalirkan pahala kepada pengajarnya, bahkan setelah ia tiada. Dalam rumah tangga, ibu memegang peran sentral sebagai madrasatul ula (sekolah pertama).
Refleksi dan Amanah
Bagi seorang anak, Hari Ibu sejatinya bukan sekadar ucapan setahun sekali, melainkan momen perenungan: Sudah sejauh mana kita memberi, bukan hanya meminta? Bagi ibu sendiri, ini adalah ruang muhasabah: Apakah tugas mendidik anak telah dijalankan dengan sungguh-sungguh, atau justru tersisih oleh urusan lain? Perintah menjaga keluarga dalam QS. At-Tahrim ayat 6 menegaskan bahwa peran ini bukanlah sekadar pilihan hidup, melainkan sebuah amanah langit.
Pada akhirnya, ibu adalah manusia seutuhnya lengkap dengan rasa lelah, kerapuhan, dan harapan. Ia berdiri di antara layar yang bising, luka yang disembunyikan, dan doa-doa yang dipanjatkan dalam diam. Mendengarkan suara ibu, memberi ruang bagi pemulihannya, serta menghargai perannya secara nyata adalah bentuk pengakuan paling jujur atas besarnya peran ibu dalam membentuk generasi masa depan.
***
Tim Penulis
- Khadijah Ath Thahirah, atau biasa memakai nama pena Devisha, Perempuan kelahiran Jakarta ini merupakan seorang guru TK yang memiliki minat besar pada literasi dan ingin menjadi penulis yang dapat menginspirasi wanita Indonesia agar menjadi wanita tangguh.
- Cindiana Famelia adalah seorang ibu rumah tangga. Menulis menjadi ruang untuk hadir seutuhnya. Informasi tentang penulis dapat diakses melalui Instagram @c_famelia.
- Putri Melati adalah seorang ibu rumah tangga yang berprofesi serabutan. Informasi tentang saya, ketik saja putrimelati_123 di Google.

Posting Komentar