[ESAI] Menerima Diri Tanpa Perlu Menjadi Orang Lain
![]() |
| ilustrasi memeluk diri sendiri (pexels.com/http://www.kaboompics.com/) |
Kita sering kali tumbuh dengan keyakinan bahwa identitas itu satu dan tetap. Kita membangun satu versi diri yang kita anggap "perfect”, seseorang yang produktif, ramah, kuat, dan selalu mengendalikan semuanya. Tapi seiring waktu, kita mulai sadar bahwa di dalam diri kita, tidak hanya ada satu orang. Ada berbagai versi diri yang sering kita abaikan, sembunyikan, atau bahkan kita benci.
Ada hari dimana kita merasa lelah. Bukan sekedar lelah fisik tapi lelah yang tidak pernah bisa diceritakan. Belum terlambat untuk menyadari bahwa berhenti sejenak bukan berarti kegagalan. Entah sudah berapa banyak topeng untuk menutupi setiap senyum palsu tanpa ada yang benar-benar mengerti bahwa kita tidak selamanya kuat. Ada waktunya harus mulai mengakui sisi lain diri yang pernah di tolak. Rasa takut, kecewa, marah , rapuh juga bagian dari dalam yang juga ingin didengar.
Seni menerima diri dimulai ketika kita berhenti menganggap versi-versi lain ini sebagai musuh. Bayangkan dirimu sebagai sebuah rumah yang luas. Jika kita memaksakan diri tinggal hanya di ruang tamu yang rapi sementara menutup gudang yang berantakan, kita hanya menciptakan rasa cemas.
Menerima versi diri yang lain berarti berani membuka pintu gudang tersebut. Bukan untuk membiarkan kekacauan menguasai rumah, tapi untuk mengakui bahwa “iya , bagian ini juga milikku” . Ketika kita berhenti menolak, energi yang selama ini habis untuk berpura-pura bisa dialihkan untuk memahami. Mengapa si “penakut” itu ada? mungkin ia hadir untuk melindungi kita. Mengapa si “pemarah” muncul? mungkin ada batasan diri yang sedang dilanggar.
Namun, yakinlah ketika kita mulai menerima diri sendiri dengan segala versi terbaik ataupun terburuk, semesta akan terasa lebih ringan. Kita tidak lagi menghukum diri sendiri dengan penyesalan, tidak ada lagi amarah karena merasa tidak terima, tidak lagi tenggelam dalam amarah yang selalu membuncah akan hal yang sudah terjadi sebelumnya, dan tak ada lagi kalimat tanya "bagaimana jika" namun akan sebaliknya, kita mulai memandang diri sendiri dengan rasa bangga dan syukur, bahwa kelemahan memiliki pelajaran, setiap luka memiliki pengalaman dan setiap kegagalan adalah tangga menuju kedewasaan. Dan menerima diri bukan hanya tentang mencintai kelebihan kita, tapi juga tentang belajar mengakui versi diri lainnya.
Siapa sih "versi lain" itu?
Versi diri lain ini muncul di masa-masa yang tidak terduga ia adalah:
- Si rapuh yang ingin menangis ketika beban terlalu berat, meski sense of self kita ingin terlihat kuat.
- Si gagal yang masih merasa malu atas kesalahan yang pernah terjadi, meski logika berkata sudah lewat.
- Si anak kecil yang butuh perhatian dan pengakuan, meski secara fungsional kita sudah dewasa.
Sering kali kita merasa asing dengan bagian-bagian ini. Kita merasa bahwa kalau kita biarkan bagian rapuh atau kelam yang ada di dalam kita muncul, maka versi terbaik yang kita bangun akan hancur. Akibatnya kita terjebak dalam perang batin yang melelahkan terus-menerus memaksakan diri untuk menutupi perasaan sebenarnya.
Walau ada orang-orang yang patut di salahkan, atas sesuatu yang terjadi dalam perjalanan hidup kita, dan tidak bertanggung jawab atas luka yang di torehkan. Mungkin itu pertanda bahwa kini giliran kita untuk menyembuhkan nya sendiri dengan menghadirkan gembira yang kita buat sendiri.
Setiap orang punya waktu dan jalannya sendiri begitu juga kita. Mungkin memang belum lebih baik hari ini, tapi mencoba terus bertumbuh pelan dengan cara kita sendiri tanpa perlu membandingkan nikmatnya hidup orang lain. Selama ini ada yang terlalu sibuk bertahan, sampai lupa bahwa kita juga manusia yang boleh lelah. Menerima diri bukan hanya soal menjadi kuat tapi bisa tetap bertahan dan mau mendengarkan sedikit suara yang sudah lama diabaikan.
Kenyataannya, penerimaan diri bukanlah tentang menjadi sempurna, ini tentang merangkul setiap kekurangan, setiap jejak luka dan setiap bab perjalanan hidup kita dan belajar mengatakan "i'm enough, just as i'm". Dan untuk mencapai level itu dibutuhkan waktu yang sangat panjang atau mungkin seumur hidup.
Dan pada akhirnya penerimaan diri bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan seumur hidup. Dan dengan setiap langkah menerima siapa diri kita. Sebenarnya kita belajar untuk mencintai Tuhan yang menciptakan kita persis seperti ini sempurna dalam ketidaksempurnaan, namun sempurna di mata-Nya.
Hidup bukan perlombaan siapa yang lebih cepat sampai garis finish nya tapi perjalanan, siapa yang paling mengerti , sayang dan jujur pada diri sendiri.
Tidak perlu mencari validasi kesana-kemari agar diapresiasi karena tidak semua perjuangan harus disaksikan orang lain untuk dianggap nyata. Ada proses yang memang hanya cukup dimengerti oleh diri sendiri, dan itu sudah lebih dari cukup. Mulai belajar bahwa tenang bukan berarti hidup tanpa luka, melainkan berdamai dengan luka yang ada. Tidak lagi memusuhi rasa sedih, tidak terburu-buru mengusir kecewa, dan tidak merasa bersalah saat dimana ingin berhenti sebentar. Hari ini tetaplah memilih untuk lebih ramah pada diri sendiri. Tidak memaksa kuat, tidak menuntut cepat, cukup jujur bahwa kita sedang bertumbuh dengan ritme sendiri.
Jika esok masih lelah, itu tidak apa-apa. Selama masih tidak menyerah pada diri sendiri, itu jalan menuju versi yang lebih utuh. Utuh untuk tetap melanjutkan hidup tanpa perlu menghilangkan bagian dari pribadi itu sendiri.
***
Tim Penulis
- Kamaya Ancanala namanya, perempuan yang lahir di Garut, 20 Juni 2005, seorang mahasiswa aktif di salah satu Universitas Negri, ia sudah berkutat dengan tulisan sastra sejak ia duduk di bangku SMK kelas satu, fokus menulisnya di puisi dan self improvment dan karya-karya nya ia tuangkan di beberapa platfrom baca.
- Indah Arum Laraswati, yang dikenal sebagai Indah atau Arum, percaya bahwa tulisan adalah jembatan empati. Ia fokus pada refleksi diri, ketenangan, dan pencarian makna hidup. Menulis baginya adalah proses menyembuhkan.
- Ketut Ariyanti atau yang lebih akrab disapa Ketut. Remaja 22 tahun yang memiliki hobi membaca juga mulai menulis sesuai suasana hatinya. Mulai menyukai tulisan bergenre self improvment, karena baginya menulis bukan batasan untuk mengungkap isi kepala walau tanpa bercerita.

Posting Komentar