[CERPEN] Bunga yang Terakhir Mekar
![]() |
| ilustrasi bunga yang sedang mekas (pexels.com/WJ Y) |
Saat ia datang lima bulan yang lalu, ia muncul entah dari mana. Hanya bunyi gemeresik dedaunan yang mengabari kedatangannya sebagai tamu tak diundang. Ia tetiba hadir tepat di depanku, lalu mengoceh tentang banyak hal; merangkai kata demi kata, hingga perlahan ia mengajarkanku bagaimana cara merawat kata, menumbuhkan makna kebersamaan yang sakral di tengah sunyinya belantara.
Kami belajar banyak hal bersama, bersenda gurau, bermain rima, hingga membuat kisah dongeng kami sendiri. Kehadirannya menghiburku dengan cara yang sesederhana itu, hingga membuatku sempat lupa bahwa sebenarnya aku masih terus berjuang keras membangunkan Si Kembang Tidur.
Kini pun, aku kembali sendirian di hutan ini, berjalan menyusuri lembah alang-alang dan padang ilalang hanya untuk sampai ke tempat ini. Kabar yang kudengar dari kicauan burung kenari pagi ini bahwa ia telah genap berusia enam tahun, sebuah hari spesial yang mestinya dirayakan dengan begitu meriah. Namun, aku masih di sini, menunggu sekuntum bunga putih itu untuk mekar. Bunga yang juga telah tertidur enam tahun lamanya.
Andai ia tahu, bungaku sangat menyukai semua prosa-prosa dan lirih seraknya ketika bercerita. Tanpa kehadirannya pun, sisa-sisa suaranya masih bergema di sini, hingga sedikit demi sedikit kuntum bunga tidur itu mulai merekah di ujungnya.
Aku sangat ingin datang ke rumah pestanya di Ufuk Literasi, sekadar untuk bersama salam saling mendoakan. Aku sangat ingin membawakan hadiah ulang tahun padanya, yaitu bunga tidur yang mulai merekah cantik setelah terkena sinar mentari senja di kaki langit pena dan buku. Bunga yang terakhir mekar.
***
Tentang Penulis
Fadlian Sabila Rusdi, biasa dipanggil Fadli atau Ian, adalah seorang yang masih berjuang mengejar mimpinya. Masih setia menyusun kata meskipun didera rasa sepi di kala kesendirian. Aktif menyunting di Wikipedia Bahasa Indonesia (WBI), juga menulis di berbagai platorm, di antaranya adalah Medium.

Posting Komentar