[ESAI] Menjauh dari Saldo, Menjauh dari Kenyataan

Table of Contents
seorang laki-laki sedang panik
ilustrasi seorang laki-laki sedang panik (pexels.com/RDNE Stock project)
Ada kalanya seseorang lebih berani membuka media sosial daripada membuka aplikasi bank. Bukan karena lupa, melainkan karena takut melihat apa yang menunggu di balik layar. Saldo yang menipis, tagihan yang belum dibayar, atau sekadar kenyataan bahwa kondisi keuangan tidak sebaik yang dibayangkan. 

Padahal, di era digital seperti sekarang, informasi keuangan dapat diakses hanya dengan beberapa sentuhan jari. Tidak perlu lagi datang ke bank atau mencetak buku tabungan seperti dahulu. Semua data tersedia setiap saat di layar ponsel. Ironisnya, kemudahan ini tidak selalu membuat orang lebih dekat dengan kondisi keuangannya sendiri.

Banyak orang justru pernah mengalami hal yang sebaliknya. Mereka sengaja menunda membuka aplikasi perbankan setelah berbelanja cukup banyak. Ada yang memilih tidak memeriksa saldo menjelang akhir bulan karena khawatir melihat jumlah yang tersisa. Ada pula yang membiarkan notifikasi transaksi menumpuk tanpa pernah benar-benar memeriksanya. 

Secara teknis, mereka memiliki akses penuh terhadap informasi keuangan mereka. Namun secara psikologis, mereka memilih menjaga jarak dari informasi tersebut.

Fenomena ini mungkin terdengar sepele. Bukankah saldo rekening hanyalah angka? Namun kenyataannya, angka-angka itu sering kali memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar nominal uang. Di dalamnya tersimpan harapan, rencana, tanggung jawab, bahkan kecemasan. Ketika kondisi keuangan tidak sesuai dengan yang diharapkan, melihat saldo dapat menjadi pengalaman yang tidak nyaman. Karena itu, sebagian orang lebih memilih untuk tidak melihatnya sama sekali.

Pilihan untuk menghindar sering kali memberikan rasa tenang sesaat. Selama aplikasi bank tidak dibuka, selama saldo tidak dilihat, seolah-olah tidak ada masalah yang harus dihadapi. Namun ketenangan semacam ini biasanya tidak bertahan lama. Di balik layar ponsel yang tetap terkunci, kecemasan justru terus bekerja dalam pikiran. Seseorang mungkin tidak mengetahui jumlah pasti uang yang dimilikinya, tetapi ia tetap menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang dihindari.

Menariknya, kebiasaan semacam ini tidak hanya terjadi dalam urusan keuangan. Seorang karyawan mungkin menunda membuka aplikasi bank setelah akhir pekan yang penuh belanja karena khawatir melihat sisa saldo yang menipis. Seorang mahasiswa mungkin memilih tidak mengecek rekening menjelang akhir bulan karena takut uang kiriman dari orang tua hampir habis. Bahkan tidak sedikit orang yang hanya berani membuka aplikasi perbankan tepat pada hari gajian. 

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memang sering menghindari hal-hal yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan. Kita menunda membuka pesan yang dianggap penting karena khawatir berisi kabar buruk. Kita menunda melihat hasil pemeriksaan kesehatan karena takut menemukan sesuatu yang tidak diinginkan. Kita juga sering menunda menyelesaikan masalah yang sebenarnya sudah lama kita ketahui keberadaannya. Menghindari saldo rekening hanyalah salah satu bentuk kecil dari kecenderungan yang sama.

Barangkali yang membuat saldo rekening terasa menakutkan bukanlah angka itu sendiri. Yang lebih menakutkan adalah kenyataan yang diwakili oleh angka tersebut. Saldo yang semakin menipis mungkin mengingatkan seseorang pada pengeluaran yang tidak terkendali. Tagihan yang menumpuk dapat mengingatkan pada keputusan-keputusan yang kurang bijaksana. Sementara tabungan yang tidak bertambah bisa menjadi pengingat bahwa target keuangan yang selama ini direncanakan masih jauh dari harapan.

Pada titik tertentu, saldo rekening berubah menjadi semacam cermin. Ia memantulkan kondisi yang sesungguhnya, bukan kondisi yang ingin kita lihat. Sebagaimana cermin menunjukkan wajah apa adanya, saldo menunjukkan keadaan keuangan apa adanya. Mungkin karena itulah sebagian orang merasa tidak nyaman ketika harus berhadapan dengannya. Tidak semua kenyataan menyenangkan untuk dilihat.

Namun, menghindari kenyataan tidak pernah benar-benar mengubah kenyataan itu sendiri. Saldo tetap berada pada jumlah yang sama, baik dilihat maupun tidak. Tagihan tetap harus dibayar meskipun notifikasinya diabaikan. Pengeluaran yang berlebihan tidak otomatis hilang hanya karena seseorang memilih untuk tidak memeriksa rekeningnya. Yang berubah hanyalah tingkat kesadaran kita terhadap kondisi yang sedang dihadapi.

Dalam filsafat, keberanian sering dipahami bukan sebagai ketiadaan rasa takut, melainkan kesediaan untuk menghadapi sesuatu meskipun rasa takut itu ada. Dalam konteks keuangan pribadi, keberanian mungkin hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Bukan dalam tindakan besar yang mengundang tepuk tangan, melainkan dalam keputusan kecil untuk membuka aplikasi bank dan melihat kondisi keuangan apa adanya.

Langkah sederhana itu sering kali menjadi awal dari banyak perubahan. Seseorang tidak dapat memperbaiki sesuatu yang tidak ingin ia lihat. Sebaliknya, ketika kondisi yang sebenarnya sudah diketahui, berbagai pilihan perbaikan mulai terbuka. Pengeluaran dapat dievaluasi, prioritas dapat disusun ulang, dan rencana keuangan dapat dibuat dengan lebih realistis. Semua itu berawal dari kesediaan untuk berhenti menghindar.

Pada akhirnya, saldo rekening hanyalah deretan angka yang tersusun di layar ponsel. Namun hubungan kita dengan angka-angka itu sering kali mencerminkan hubungan kita dengan kenyataan hidup. Menghindari saldo mungkin memberikan ketenangan sesaat, tetapi keberanian untuk melihatnya dapat memberikan sesuatu yang lebih berharga: kejujuran terhadap diri sendiri. Sebab sering kali yang paling perlu kita hadapi bukanlah jumlah uang yang tersisa di rekening, melainkan ketakutan kita sendiri untuk menerima kenyataan sebagaimana mestinya.

***

Tentang Penulis

Vinsensius, S.Fil., M.M. adalah dosen, penulis, dan pegiat literasi. Menyukai tema-tema yang mempertemukan filsafat, kehidupan sehari-hari, dan perilaku manusia. Aktif menulis esai, opini, serta refleksi sosial di berbagai media daring.


Tulisan ini merupakan kiriman member Ufuk Literasi. Mau tulisanmu terbit juga? Klik di sini!
Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

Posting Komentar