[PUISI] Narasi Di Balik Garis Fajar

Table of Contents
ilustrasi langit yang indah (pexels.com/Radik 2707)
Dahulu, dunia penulisan bagiku adalah bentang monokrom yang kelu,

tempat kata-kata hanya sekadar tumpukan kertas tanpa nyawa.

Aku adalah pengelana yang gemetar menempuh jalan tak berarah,

di bawah langit sepi yang kerap menebar ngeri dalam kepala.


Lalu hadirnya sebuah nama, menyalakan cahaya di ufuk yang buta, 

menuntun langkahku berani mengetuk pintu-pintu sastra.

Melalui merawat kata menumbuhkan makna, aku mulai bersemi, 

mengubah ragu menjadi bait-bait puisi yang kini berani diuji.


Terima kasih, Ufuk Literasi, sudah enam tahun membersamai,

menjadi rumah bagi jiwa yang hampir undur diri dari mimpi.

Kini, tiap baris yang kutulis bukan lagi paragraf yang mati,

melainkan si jelita yang menari, memetik harapan di tiap hari.


Biarlah di sini, kita abadi dalam aksara yang terus berseri,

menjelma cahaya yang takkan pernah padam di jantung bumi.

***

Tentang Penulis

Singkat saja, Syifa Dwi Abdiani. Anak pertama yang tumbuh di antara kehilangan dan tuntutan, menenun luka menjadi kata. Menyukai hujan, sastra, dan keadilan. Berjalan pelan menuju dunia hukum, membawa sunyi, ketegasan, dan harapan yang tak pernah benar-benar padam.”

Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

Posting Komentar