[REVIEW] Novel Orang-orang Proyek - Karya Ahmad Tohari

Table of Contents
Buku Novel Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari (gramedia.com/edited by Canva)
Siapa yang tak kenal Ahmad Tohari, penulis kelahiran 13 Juni 1948 dengan karya-karya bertajuk kebudayaan dan sejarah. Novelnya yang terkenal Ronggeng Dukuh Paruk telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa serta diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Penari. Beberapa penghargaan pun berhasil beliau raih. Salah satunya adalah Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 1979, SEA Write Award pada 1995, dll.

Tidak sampai disitu, semangat Ahmad Tohari dalam bidang literasi membawanya membuka Perpustakaan dan Rumah Sastra Ahmad Tohari. Perpustakaan ini membuka kesempatan bagi siapapun yang hendak berkunjung, terutama bagi komunitas yang hendak mengadakan diskusi buku. Terletak di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, perpustakaan milik Ahmad Tohari telah mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan pada 2025.

Selain Ronggeng Dukuh Paruk, Orang-orang Proyek adalah karya Ahmad Tohari yang tidak kalah terkenal. Pertama terbit pada 2002, novel Orang-orang Proyek mengambil latar tahun 1991-1992, tepatnya pada masa orde baru. Per Februari 2026, novel Orang-orang Proyek telah cetak ulang keempat belas dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Novel Orang-orang Proyek mengikuti kisah Kabul, seorang insinyur sekaligus ketua pelaksana proyek pembangunan jembatan di sungai Cibawor. Kabul adalah pria yang terus berpegang teguh pada idealismenya di tengah penyelewengan dan korupsi. Menjadi proyeknya yang ketiga, Kabul berdedikasi akan membangun jembatan yang sesuai dengan standar mutu tanpa harus mengurangi kualitas bahan baku jembatan.

Namun, usaha Kabul tidaklah mudah. Ia harus menghadapi atasan yang terus mendesaknya melakukan kecurangan dengan berbagai dalih. Idealismenya justru semakin diuji ketika dirinya tinggal bersama dengan masyarakat sekitar sungai Cibawor. Mereka adalah rakyat-rakyat yang terdampak langsung penyelewengan dana hingga kebijakan yang terkadang tidak menguntungkan bagi mereka. 

Kecurangan-kecurangan di proyek terus ditemui Kabul, baik dari skala kecil hingga besar. Ditambah lagi pada masa itu adalah masa pemilu dengan menyuarakan orde baru. Banyak partai besar berlomba-lomba untuk melakukan persiapan kampanye. Jembatan Cibawor menjadi salah satu yang terdampak hal tersebut. Padahal jembatan tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan partai tertentu, namun dijadikan ajang kampanye guna mendukung partai tersebut. 

Novel Orang-orang Proyek juga menyelipkan kisah masa lalu Kabul baik semasa menjadi aktivis kampus maupun masa kecilnya. Ternyata idealisme Kabul terbentuk dari masa kecilnya. Keluarga Kabul terutama sang ibu selau mengajarkan untuk hidup dengan cara sederhana, tidak mengambil hak orang, dan selalu berbuat baik. 

Selain mengisahkan tentang serba-serbi orang-orang proyek, novel ini juga menyelipkan kisah romantis antara Kabul, sebagai pelaksana proyek dan Wati, akuntan sekaligus warga sekitar sungai Cibawor. Hal ini menjadi salah satu selingan yang menarik. Karakter yang disajikan dalan novel Orang-orang Proyek begitu kuat.

Terdapat total 253 halaman, novel Orang-orang Proyek disajikan dengan bahasa sederhana, tidak berbelit-belit, dan ringkas. Pembaca akan dengan mudah memahami makna tersirat yang coba diselipkan Ahmad Tohari. Penyajian plotnya unik, ada plot twist disetiap babnya.

Melalui cetakan terbarunya, novel Orang-orang Proyek mengusung cover sederhana. Didominasi warna hijau, dengan sentuhan pemukiman dan jembatan disampingnya.Cover novel Orang-orang Proyek mampu merepresentasikan garis besar cerita dalam novel. 

Bagi kamu yang menyukai kisah tentang keteguhan idealisme atau menyukai karya-karya Ahmad Tohari, novel Orang-orang Proyek cocok masuk book list-mu! Sebelum kamu membaca novel Orang-orang Proyek yuk simak detail bukunya berikut ini!

Judul : Orang-orang Proyek

Pengarang : Ahmad Tohari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : 2026 (cetakan keempat belas)

Tebal : 253 halaman

***

Tentang Penulis

Fifi Farikhatul Munfaridah, aktif menulis sejak 2022. Tulisannya terbit dibeberapa media seperti IDN Times, suara.com, Ufukliterasi.com, nyangkem.id, Majalah Mahasiswa DIMeNSI dll. Mempunyai blog pribadi juga. Quotesnya pernah dibukukan dalam buku antologi bersama “Melekatkan yang Patah” (2023). Dapat ditemui di Instagramnya @fifi.id_

Review ini merupakan kiriman member Ufuk Literasi. Mau tulisanmu terbit juga? Klik di sini!

Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

Posting Komentar