[PUISI] Riuh Dua Sunyi di Akasa Gulita
![]() |
| ilustrasi suasana kota di malam hari (pexels.com/Josh Eleazar) |
Pukul dua, aku terbang di kasur berkelabang dengan semburit berjantan bemban, berkayu bintan garang nian
Pukul satu, rembulan pun kembali menyangsikan perbuatanku menggadaikan setandan badan demi seumpan pangan
Tengah malam, datang balam belang berkayu basung terangsang, demi seumpan sandang untuk si anak kembang
Pukul sebelas, bedaru belang mengamban garan merayu dengan batang bertutu, hantai pun menari berayun sepuluh dubur
Pukul sepuluh, malai kembangku diterjang ara belang hingga terbang, meliuk kejang demi seumpan uang lesung harapan
Di kesunyian baran cerutan, hasrat angan mengagan diri merasuki rumah nan nista, Walmiki hanya terdiam, menatap heran
Di bilik sempit berbau hujan dan debu jalanan, diriku lahir bersama bisik malam yang lebih tajam dari dingin paling panjang
Mulut-mulut asing melempar nista bagai batu berkarat, sedang dadaku hanya jadi ruang sunyi tempat luka dipungut tanpa suara.
Rembulan menggigil di atas rumah reyot kami, memayungi langkah pulang bertubuh lelah dan gemintang yang nyaris hilang.
Sedang langit membisu di balik pendar rembulan, membiarkan sunyi menua perlahan di relung kecil kehidupan itu.
Malam terus meruap di peraduan nan temaram, melahirkan dua sunyi di bawah akasa gulita dan doa yang sia-sia.
Insan rapuh ini tumbuh bagai bayang lusuh di tengah caci, memeluk takut di lorong gelap tanpa muara.
Sedang sepasang tangan renta itu tetap menjahit rinai esok dari luka, nista, dan tubuh yang perlahan dicabik kehidupan tanpa jeda.
Lalu kusadari, kegaduhan paling nyaring sejatinya lahir dari dua sunyi yang tak pernah dipeluk dunia.
Yogyakarta - Bandar Lampung, 8 Mei 2026
***
Tentang Penulis
- Fadlian Sabila Rusdi, introver yang sering berteduh di balik payung kesunyian, berlindung dari rinai keramaian. Saat ini masih berokus menemukan jati dirinya. Masih berusaha merajut asa di tengah bentala lautan yang paling dalam. Mari saling bertegur sapa di platform Medium @fadliansabila!
- Syiifa Lailatul Khalifah, jejak karyanya dapat ditemukan melalui ruang digital yang ia rawat dengan penuh makna, menghadirkan tulisan-tulisan reflektif yang hangat dan menyentuh. Dari diam, lahir cerita yang hidup. Ia membagikan karyanya melalui Instagram @ssyiifalailaa serta Medium syiifalaila.medium.com, wadah bagi siapa pun yang ingin singgah, membaca dan merasakan setiap cerita yang ia tuliskan.
.jpg)
Posting Komentar