[REVIEW] Buku Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri - Karya Kopioppi
Table of Contents
![]() |
| Buku Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri (gramedia.com/edited by Canva) |
Dengan bahasa yang sederhana namun penuh emosi, Kopioppi berhasil membawa pembaca masuk ke dalam berbagai luka yang sering kali disimpan sendirian. Buku ini tidak hanya bercerita tentang kesedihan, tetapi juga tentang kebingungan seseorang dalam memahami dirinya sendiri, rasa lelah saat terus berjuang tanpa dukungan, serta tangisan-tangisan yang sering kali tidak pernah dilihat orang lain.
Yang menarik, buku ini juga menyoroti bagaimana keluarga, tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman, terkadang justru meninggalkan luka yang membekas hingga dewasa. Namun di balik semua rasa sakit itu, Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri mengingatkan bahwa penyembuhan bukan tentang melupakan luka, melainkan belajar menerima diri, memaafkan masa lalu, dan menghargai diri sendiri yang telah bertahan sejauh ini.
Buku ini mengingatkan saya bahwa tidak semua orang merindukan rumah. Bagi sebagian anak, rumah bukanlah tempat pulang, melainkan tempat pertama mereka belajar tentang luka. Di sana mereka mengenal tuntutan yang tak pernah selesai, kata-kata yang menyakitkan, bahkan kekerasan yang meninggalkan bekas jauh lebih lama daripada lebam di tubuh. Saat anak-anak lain menjadikan rumah sebagai tempat berlindung, mereka justru sibuk mencari cara untuk bertahan. Karena itulah ketika dewasa, yang tersisa bukan hanya kenangan, tetapi juga luka yang diam-diam ikut tumbuh bersama mereka.
Luka yang dipendam terlalu lama tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan. Kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih sunyi: kesulitan untuk bercerita, kebiasaan menyimpan semuanya sendiri, atau perasaan bahwa tidak ada orang yang benar-benar bisa memahami apa yang sedang dirasakan. Buku ini menunjukkan bagaimana luka perlahan mengubah cara seseorang menjalani hidup. Ia terbiasa mengutamakan kebahagiaan orang lain, tetapi lupa mendengarkan dirinya sendiri. Akibatnya, yang tersisa hanyalah kelelahan, kemarahan yang sulit dijelaskan, dan perasaan tidak berharga yang terus tumbuh dalam diam.
Bagian Paling Menarik
Bagi saya, bagian paling menyentuh dari buku ini adalah pesan tentang penerimaan diri. Penulis tidak meminta pembaca melupakan luka atau berpura-pura kuat. Sebaliknya, ia mengajak kita mengakui bahwa ada luka yang memang tidak pernah benar-benar hilang, tetapi tidak harus terus mengendalikan hidup kita.
Perlahan, seseorang belajar berhenti memusuhi dirinya sendiri. Ia tidak lagi mengukur nilai dirinya dari harapan keluarga, penilaian orang lain, atau kehidupan yang tampak lebih baik di luar sana. Kita tidak lagi menjadikan standar hidup orang lain sebagai standar hidup kita. Pada akhirnya, penyembuhan bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang berdamai dengan diri sendiri dan tetap melangkah meski luka itu masih ada.
Kelebihan Buku
Kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya membuat pembaca merasa dipahami. Dengan bahasa yang sederhana, Kopioppi menjelaskan luka, emosi, dan proses penyembuhan dengan cara yang mudah diterima. Kehadiran ruang untuk menuliskan perasaan dan pengalaman pribadi di akhir beberapa bab juga menjadi nilai tambah karena mengajak pembaca tidak hanya membaca, tetapi juga mengeluarkan hal-hal yang selama ini dipendam.
Tata letaknya yang tidak terlalu padat membuat buku ini nyaman dibaca. Bagi saya, buku ini terasa seperti duduk bersama seseorang yang memahami rasa sakit tanpa menghakimi, lalu perlahan mengingatkan bahwa kita tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Meski berhasil menyampaikan emosi dengan baik, beberapa bagian dalam buku ini terasa berpindah terlalu cepat dari satu topik ke topik lainnya. Akibatnya, saya beberapa kali harus berhenti untuk memahami hubungan antar pembahasan yang sedang disampaikan. Beberapa gagasan yang menarik juga terasa belum dibahas lebih dalam sebelum penulis beralih ke topik berikutnya.
Kesimpulan
Buku ini menyampaikan bahwa luka tidak selalu perlu disembunyikan atau dipaksakan untuk segera hilang. Ada luka yang cukup untuk diterima, dipahami, lalu dibiarkan pelan-pelan sembuh dengan waktu dan cara masing-masing. Tidak semua orang harus terlihat kuat setiap saat, karena bertahan saja sering kali sudah merupakan bentuk keberanian yang tidak terlihat.
Di balik setiap rasa sakit yang dipendam, selalu ada bagian diri yang sedang berusaha tetap hidup. Dan dari situlah perlahan seseorang belajar mengenali dirinya sendiri—bukan dari apa yang ia tampilkan, tetapi dari apa yang ia lewati dalam diam.
“Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri” adalah buku yang sederhana dalam bahasa, tetapi cukup dalam jika dikaitkan dengan rasa. Ia tidak menawarkan solusi cepat, melainkan ruang untuk berdamai dengan hal-hal yang sering disimpan sendiri terlalu lama. Melalui tulisan-tulisan singkatnya, buku ini mengajak pembaca untuk pelan-pelan memahami bahwa tidak apa-apa jika belum sembuh, selama masih mau bertahan.
Buku ini cocok dibaca ketika seseorang sedang lelah dengan dirinya sendiri, atau saat butuh ditemani tanpa banyak penjelasan. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat pembaca berhenti sejenak dan merasa: “aku tidak sendirian.” Semoga kamu tidak lagi merasa sendirian lagi setelah membaanya, ya.
Identitas Buku
Judul Buku : Tentang Luka Yang Kusimpan Sendiri
Penulis : Kopioppi
Penerbit : Syalmahat Publishing
Jumlah Halaman : 142 Halaman
Tanggal Terbit : Cetakan Ke VIII, 2024
ISBN : 978-623-5269-38-2
***
Tentang Penulis
Aku Dina, namun dunia mengenalku sebagai Scribble. Di blog Mind Labyrinth Journal, aku menulis puisi—luka yang dulu menyelamatkanku dari putus asa. Kini, aku juga menulis ulasan anime, buku, dan bahasan lainnya. Yuk, mampir dan mari sama-sama mencari kembali jati diri yang sempat hilang di labirin pikiran."

Rumah barangkali bisa jadi pendidikan paling awal yang kita terima, namun juga menjadi pengenalan luka paling dalam yang membentuk karakter dan pandangan kita menatap dunia.
Rumah dapat menjadi sebuah bentuk awal pada kehancuran nilai moral, kepercayaan diri. Lalu bagaimanakah seharusnya rumah itu berfungsi, apakah hanya sebagai judul, bangunan, atau tempat kita istirahatkan lelah fisik?
Apalagi buat anak rantau seperti saya🥲
Bagian yang paling aku sukai dari tulisan ini adalah keterhubungan dan ketersampaian penulis buku dengan penulis tulisan ini. Yang sama-sama mengeksplorasi emosi dan trauma sebagai hal yang tidak tabu. Good job!
Hanya saja ada beberapa tanda baca koma yang tidak digunakan untuk memisahkan fungsi keterangan dalam kalimat, sehingga saya sempat bingung dengan alur kalimat.
Juga penggunaan kata hubung antarkalimat 'namun' sebetulnya tidak boleh digunakan sebagai konjungsi intrakalimat, serta bentuk terikat 'antar' yang seharusnya dirangkai dengan satuan bahasa yang menyertainya. Overall sudah bagus, tinggal ditingkatkan saja!
Stay life untuk kalian yang banyak melalui masalah, keren buat authornya ditunggu karya selanjutnya
From : El 😄
Bagus kali wak nice