[REVIEW] Buku Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri - Karya Kopioppi

Table of Contents
Buku Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri
Buku Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri (gramedia.com/edited by Canva)
Pernah merasa kehilangan rumah meski masih memiliki keluarga yang lengkap? Tidak semua rumah menjadi tempat pulang. Bagi sebagian orang, rumah justru menjadi tempat lahirnya luka melalui tuntutan, makian, dan perasaan tidak pernah cukup baik. Luka yang terus dipendam itu kerap tumbuh menjadi trauma hingga dewasa. Melalui “Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri” (2024) karya Kopioppi mengajak pembaca memahami bahwa meski tidak bisa memilih dari mana luka berasal, kita tetap bisa memilih untuk bangkit dan belajar mengapresiasi diri sendiri.

Dengan bahasa yang sederhana namun penuh emosi, Kopioppi berhasil membawa pembaca masuk ke dalam berbagai luka yang sering kali disimpan sendirian. Buku ini tidak hanya bercerita tentang kesedihan, tetapi juga tentang kebingungan seseorang dalam memahami dirinya sendiri, rasa lelah saat terus berjuang tanpa dukungan, serta tangisan-tangisan yang sering kali tidak pernah dilihat orang lain.

Yang menarik, buku ini juga menyoroti bagaimana keluarga, tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman, terkadang justru meninggalkan luka yang membekas hingga dewasa. Namun di balik semua rasa sakit itu, Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri mengingatkan bahwa penyembuhan bukan tentang melupakan luka, melainkan belajar menerima diri, memaafkan masa lalu, dan menghargai diri sendiri yang telah bertahan sejauh ini.

Buku ini mengingatkan saya bahwa tidak semua orang merindukan rumah. Bagi sebagian anak, rumah bukanlah tempat pulang, melainkan tempat pertama mereka belajar tentang luka. Di sana mereka mengenal tuntutan yang tak pernah selesai, kata-kata yang menyakitkan, bahkan kekerasan yang meninggalkan bekas jauh lebih lama daripada lebam di tubuh. Saat anak-anak lain menjadikan rumah sebagai tempat berlindung, mereka justru sibuk mencari cara untuk bertahan. Karena itulah ketika dewasa, yang tersisa bukan hanya kenangan, tetapi juga luka yang diam-diam ikut tumbuh bersama mereka.

Luka yang dipendam terlalu lama tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan. Kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih sunyi: kesulitan untuk bercerita, kebiasaan menyimpan semuanya sendiri, atau perasaan bahwa tidak ada orang yang benar-benar bisa memahami apa yang sedang dirasakan. Buku ini menunjukkan bagaimana luka perlahan mengubah cara seseorang menjalani hidup. Ia terbiasa mengutamakan kebahagiaan orang lain, tetapi lupa mendengarkan dirinya sendiri. Akibatnya, yang tersisa hanyalah kelelahan, kemarahan yang sulit dijelaskan, dan perasaan tidak berharga yang terus tumbuh dalam diam.

Bagian Paling Menarik

Bagi saya, bagian paling menyentuh dari buku ini adalah pesan tentang penerimaan diri. Penulis tidak meminta pembaca melupakan luka atau berpura-pura kuat. Sebaliknya, ia mengajak kita mengakui bahwa ada luka yang memang tidak pernah benar-benar hilang, tetapi tidak harus terus mengendalikan hidup kita. 

Perlahan, seseorang belajar berhenti memusuhi dirinya sendiri. Ia tidak lagi mengukur nilai dirinya dari harapan keluarga, penilaian orang lain, atau kehidupan yang tampak lebih baik di luar sana. Kita tidak lagi menjadikan standar hidup orang lain sebagai standar hidup kita. Pada akhirnya, penyembuhan bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang berdamai dengan diri sendiri dan tetap melangkah meski luka itu masih ada.

Kelebihan Buku

Kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya membuat pembaca merasa dipahami. Dengan bahasa yang sederhana, Kopioppi menjelaskan luka, emosi, dan proses penyembuhan dengan cara yang mudah diterima. Kehadiran ruang untuk menuliskan perasaan dan pengalaman pribadi di akhir beberapa bab juga menjadi nilai tambah karena mengajak pembaca tidak hanya membaca, tetapi juga mengeluarkan hal-hal yang selama ini dipendam. 

Tata letaknya yang tidak terlalu padat membuat buku ini nyaman dibaca. Bagi saya, buku ini terasa seperti duduk bersama seseorang yang memahami rasa sakit tanpa menghakimi, lalu perlahan mengingatkan bahwa kita tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Meski berhasil menyampaikan emosi dengan baik, beberapa bagian dalam buku ini terasa berpindah terlalu cepat dari satu topik ke topik lainnya. Akibatnya, saya beberapa kali harus berhenti untuk memahami hubungan antar pembahasan yang sedang disampaikan. Beberapa gagasan yang menarik juga terasa belum dibahas lebih dalam sebelum penulis beralih ke topik berikutnya.

Kesimpulan

Buku ini menyampaikan bahwa luka tidak selalu perlu disembunyikan atau dipaksakan untuk segera hilang. Ada luka yang cukup untuk diterima, dipahami, lalu dibiarkan pelan-pelan sembuh dengan waktu dan cara masing-masing. Tidak semua orang harus terlihat kuat setiap saat, karena bertahan saja sering kali sudah merupakan bentuk keberanian yang tidak terlihat. 

Di balik setiap rasa sakit yang dipendam, selalu ada bagian diri yang sedang berusaha tetap hidup. Dan dari situlah perlahan seseorang belajar mengenali dirinya sendiri—bukan dari apa yang ia tampilkan, tetapi dari apa yang ia lewati dalam diam.

“Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri” adalah buku yang sederhana dalam bahasa, tetapi cukup dalam jika dikaitkan dengan rasa. Ia tidak menawarkan solusi cepat, melainkan ruang untuk berdamai dengan hal-hal yang sering disimpan sendiri terlalu lama. Melalui tulisan-tulisan singkatnya, buku ini mengajak pembaca untuk pelan-pelan memahami bahwa tidak apa-apa jika belum sembuh, selama masih mau bertahan.

Buku ini cocok dibaca ketika seseorang sedang lelah dengan dirinya sendiri, atau saat butuh ditemani tanpa banyak penjelasan. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat pembaca berhenti sejenak dan merasa: “aku tidak sendirian.” Semoga kamu tidak lagi merasa sendirian lagi setelah membaanya, ya.

Identitas Buku

Judul Buku : Tentang Luka Yang Kusimpan Sendiri
Penulis : Kopioppi
Penerbit         : Syalmahat Publishing
Jumlah Halaman : 142 Halaman  
Tanggal Terbit : Cetakan Ke VIII, 2024
ISBN : 978-623-5269-38-2

***

Tentang Penulis

Aku Dina, namun dunia mengenalku sebagai Scribble. Di blog Mind Labyrinth Journal, aku menulis puisi—luka yang dulu menyelamatkanku dari putus asa. Kini, aku juga menulis ulasan anime, buku, dan bahasan lainnya. Yuk, mampir dan mari sama-sama mencari kembali jati diri yang sempat hilang di labirin pikiran."
Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

34 komentar

Silakan menuliskan komentar dengan rapi dan sopan!
Comment Author Avatar
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Ulasannya begitu mendalam, lalu aku setuju soal pernyataan bahwa rumah bukanlah selalu alasan untuk kita pulang, bukan juga selalu menjadi tempat ternyaman. Rumah? Mungkin ada banyak hal yang bisa diartikan dari satu kata tersebut.

Rumah barangkali bisa jadi pendidikan paling awal yang kita terima, namun juga menjadi pengenalan luka paling dalam yang membentuk karakter dan pandangan kita menatap dunia.

Rumah dapat menjadi sebuah bentuk awal pada kehancuran nilai moral, kepercayaan diri. Lalu bagaimanakah seharusnya rumah itu berfungsi, apakah hanya sebagai judul, bangunan, atau tempat kita istirahatkan lelah fisik?
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
pendapat yang menarik tentang sebuah rumah
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
baru baca review nya blm pernah punya, tapi habis liat ini jd pengen bikin beli, relate bukunya😔
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Isi bukunya relate, bagi saya pribadi isinya relate dengan kehidupan pribadi saya. Keren pokoknya 🥰
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Buku nya relate dengan diri sendiri dan cukup memancing rasa emosional
Apalagi buat anak rantau seperti saya🥲
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Isi nya related banget dan keren bangett
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Buku ini sangat menyentuh dan penuh makna. Tulisannya sederhana, tetapi mampu menggambarkan perasaan yang sulit diungkapkan. Cocok untuk pembaca yang sedang belajar menerima masa lalu dan berdamai dengan diri sendiri.
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
​"Nyesek banget pas baca bagian 'pulang ke rumah yang penuh tekanan'. Kadang orang luar cuma bisa bilang 'ah lebay, itu kan keluarga sendiri', padahal mereka nggak tahu seberapa hancurnya mental seseorang di dalam rumah itu. Buku ini kayaknya paham banget kalau berdamai dengan masa lalu itu butuh waktu yang nggak sebentar."
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
aku senang nemu buku yang relate sama kehidupan akuuu, suksess selalu yaa di tunggu karya karya selanjutnyaa :))
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Ulasan yang jujur banget. Suka karena nggak cuma muji-muji aja, tapi juga ngasih catatan soal transisi babnya yang kerasa agak cepet atau buru-buru. Tapi tetep aja, pesan emosionalnya kelihatan kuat banget dan bikin penasaran pengen baca langsung bukunya."
Comment Author Avatar
Uli
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Satu hal yang saya tangkap dari review ini: sembuh itu bukan berarti kita harus lupa sama lukanya, tapi gimana cara kita nerima kalau hal itu emang udah terjadi dan jadi bagian dari hidup. Salut sama yang nulis ulasan ini, bahasanya dalem dan bikin mikir."
Comment Author Avatar
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Resensi buku ini sudah lengkap, diinterpretasikan secara objektif melalui adanya pembahasan pro dan kontra terhadap buku. Gaya bahasa sudah kasual yang sudah sesuai dengan pembaca resensi buku ini.

Bagian yang paling aku sukai dari tulisan ini adalah keterhubungan dan ketersampaian penulis buku dengan penulis tulisan ini. Yang sama-sama mengeksplorasi emosi dan trauma sebagai hal yang tidak tabu. Good job!

Hanya saja ada beberapa tanda baca koma yang tidak digunakan untuk memisahkan fungsi keterangan dalam kalimat, sehingga saya sempat bingung dengan alur kalimat.

Juga penggunaan kata hubung antarkalimat 'namun' sebetulnya tidak boleh digunakan sebagai konjungsi intrakalimat, serta bentuk terikat 'antar' yang seharusnya dirangkai dengan satuan bahasa yang menyertainya. Overall sudah bagus, tinggal ditingkatkan saja!
Comment Author Avatar
Maria
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Menarik sih poin yang bilang kalau di buku ini ada space kosong buat kita nulis. Jadi kesannya bukan cuma baca teori atau cerita orang lain aja, tapi kita juga diajak buat ngobrol sama diri sendiri dan ngeluarin unek-unek yang selama ini dipendam sendirian. Bermanfaat banget buat yang butuh media menulis
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Kadang kita tuh nggak butuh digurui atau dikasih solusi yang muluk-muluk pas lagi jatuh, cuma butuh didenger dan dibilang kalau 'perasaan sedihmu itu valid'. Dari ulasannya, buku ini kerasa kayak temen yang lagi meluk kita tanpa banyak menghakimi. Penasaran pengen baca langsung.
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
setelah baca ulasannya, buku tentang luka yang kusimpan sendiri banyak emosi yang terkandung didalamnya dan banyak nilai-nilai yang bisa diambil dari buku ini, sebuah karya yang bagus
Comment Author Avatar
Pian
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
sangat relate denga kehidupan sehari-hari
Comment Author Avatar
Riz
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
pandang yang bagus
Comment Author Avatar
Puspita Rahayu
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Mantap kak, reviewnya sangat membantu pembaca jadi tahu isi dari buku ini. Good luckkkk
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Penulis menyajikan topik yang kompleks dengan sangat ringan, terstruktur, dan mudah dipahami oleh pembaca awam sekalipun. Argumen-argumennya didukung dengan riset yang kuat, memberikan wawasan baru yang sangat aplikatif untuk kehidupan.
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Rumah, tempat dimana kita mengenal rasa aman dan nyaman, terkadang orang tidak mendapatkan itu di orang tua mereka. Aku mengerti mengapa ulasan buku ini menceritakan tentang rumah.
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Luar biasa, adalah kata yang terucap pertama kali dalam hati saya ketika saya membaca buku ini. Ketika saya membaca isinya saya cukup terkejut seperti sebagian isi hati saya yg telah saya pendam begitu lama akhirnya bisa tersampaikan dalam buku ini, seperti ada seseorang yang akhirnya dapat memahami pergumulan dalam hati saya. Tentu isi dalam buku ini bukanlah karangan semata melakinkan sebuah saksi perjalanan hidup dari sang penulis yang isinya mungkin sangat serupa dengan sebagian kita yang membacanya. Tentu penulis juga harus diapresisasi dalam hal ini karena sang penulis dapat menyampaikan segala permasalahan dan solusi dengan sederhana tetapi masih dengan mempertimbangkan emosional pembaca dengan sangat baik sehingga orang orang yang membaca buku ini dapat merasa seperti dipahami oleh seseorang. Terimakasih kepada penulis atas dedikasinya dalam menulis buku ini semoga selalu memiliki hasrat untuk berkarya dimasa masa yang akan datang.
Comment Author Avatar
Unay
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Reviewnya jelas banget. Jadi bisa ngebayangin seperti apa bukunya. Bakalan jadi salah satu wishlist buku yg aku baca nanti.
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Sepertinya menarik nih buku yang dimana mengajarkan kita untuk selalu bertumbuh meski ada berbagai masalah rumit entah dari rasa sakit, penderitaan, kecewa,luka dsb terkadang dari situ yang membuat kita bisa bertahan dari semua.

Stay life untuk kalian yang banyak melalui masalah, keren buat authornya ditunggu karya selanjutnya

From : El 😄


Comment Author Avatar
Agnes Nena
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Saya belum membaca bukunya, tetapi setelah membaca review ini saya merasa banyak pesan yang relate dengan kehidupan sehari-hari. Terutama tentang menerima luka dan belajar pulih tanpa membandingkan diri dengan orang lain. Mantap keren banget!
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Reviewnya enak banget dibaca, kak. Bahasanya mengalir dan mudah dipahami, jadi pesan dari bukunya tersampaikan dengan baik. Aku suka karena ulasannya tidak hanya menceritakan isi buku, tapi juga mengajak pembaca untuk ikut merenung. Sukses terus, kak! 🌷
Comment Author Avatar
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Keren bangettt baca ringkasannya jadi penasaran dan mau beli bukunyaaa 😍
Comment Author Avatar
Dedi AL
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Bukunya keren ,menuliskan sesuatu untuk sipembaca mengingat dan mencoba untuk keluar dari zona nyamannya sendiri.
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Tono
Bagus kali wak nice
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
❣️
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Ulasannya menarik serta bahasa yang dipakai untum mengulas sebuah buku begitu sederhana, melalui buku ini saya jadi punya refrensi buku yang membahas tentang luka, seringkali luka menjadi hal yang sering diabaikan atau dianggap sesuatu yang bisa sembuh seiring berjalannya waktu tetapi melalui ulasan ini saya menyadari luka bisa berubah menjadi hal yang lebih kompleks
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Setelah baca dari reviewnya, buku ini menarik dan sangat relate dengan para anak perantau yang harus berjuang dan menyimpan luka yang tidak akan dibagikan dan dibukakan dengan keluarganya yang jauh karena takut akan menambah luka baru baik untuk diri sendiri maupun keluarga.
Comment Author Avatar
Anonim
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Menarikk
Comment Author Avatar
Sabtu, 13 Juni, 2026 Delete
Setuju sekali dengan kalimat "Ada luka yang cukup untuk diterima, dipahami, lalu dibiarkan pelan-pelan sembuh dengan waktu dan cara masing-masing." Pada kenyataannya mayoritas orang lebih memilih untuk memendam atau melupakan. Kita memang harus banyak belajar menerima dan menyadari bahwa luka ada untuk disembuhkan, bukan dibiarkan
Comment Author Avatar
Anonim
Kamis, 09 Juli, 2026 Delete
menyimpan luka mendalam utk waktu yg lama emg terasa menyakitkan. dan satu² nya jalan keluar adalah memaafkan dan berdamai dengan masa lalu.. bukunya bnr² relate bgt sama kehidupan