[REVIEW] Novel Atheis - Karya Achdiat Karta Mihardja

Table of Contents
Novel Atheis
Novel Atheis (id.wikipedia.org/edited by Canva)

Karya sastra Indonesia yang sangat sayang untuk diabsenkan dari daftar bacaan pembaca adalah novel bertajuk Atheis karya Achdiat K. Mihardja. Ya, judul karya ini bagi sebagian orang mungkin akan sedikit membuat risih tatkala mendengarnya. 

Kita tahu bahwa Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya percaya akan adanya Tuhan (teis). Sementara itu, makna singkat dari judul buku ini adalah ‘tidak percaya adanya Tuhan’, sehingga mungkin saja ada orang yang menghindari betul untuk sekadar menyentuh buku ini.

Akan tetapi, anggapan di atas salah besar. Dengan mengusung judul yang begitu provokatif, novel Atheis ternyata malah sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh kaum teis. Bagaimana bisa seperti itu? Mari kita kulik novel ini.

Roman Eksistensial yang Ciamik

Karya sastra besutan penulis kelahiran Garut, Jawa Barat, 6 Maret 1911 ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1949, berjarak empat tahun dari kemerdekaan Indonesia. Dengan melihat tahun terbitnya, kita dapat langsung memproyeksikan ciri khas karya ini yang kental dengan atmosfer transisi sesuai zamannya. Perbedaan paham ideologi, peradaban, dan juga keyakinan turut mewarnai novel ini.

Berlatar pada masa peralihan dari penjajahan Belanda ke Jepang, novel ini menampilkan tokoh ‘Saya’ yang bertindak sebagai narator. Sang narator di sini menceritakan kisah tokoh utama bernama Hasan.

Hasan merupakan pemuda yang taat beragama Islam dan berasal dari keluarga dengan corak keislaman yang kuat. Dalam pelaksanaan ajaran agama, Hasan meniru ayahnya yang merupakan penganut aliran tarekat. Oleh karena itu, selain menjalankan syariat Islam pada umumnya, ia juga kerap menjalankan ritual tambahan khas penganut tarekat. Sebut saja seperti puasa 7 hari 7 malam, mengurung diri 3 hari 3 malam, hingga berendam di sungai setiap malam selama 40 hari berturut-turut.

Sayangnya, macam-macam amalan tersebut pada satu titik bukan membuatnya makin rendah hati, melainkan justru memicu kesombongan spiritual. Hasan merasa menjadi manusia yang paling suci dan paling dekat dengan Tuhan. Sikap eksklusif ini kian menjadi-jadi, terutama saat ia memutuskan untuk merantau.

Di perantauan, Hasan bertemu dengan orang-orang yang memiliki latar belakang serta pemahaman yang jauh berbeda mengenai konsep ketuhanan. Sebut saja kawan masa kecilnya bernama Rusli, serta seorang tokoh bernama Anwar. Kedua orang ini memiliki pandangan hidup yang sangat bertolak belakang dengan Hasan.

Rusli adalah seorang ateis yang terpelajar, cakap dalam berpikir, dan lihai dalam berbicara. Ia berkeyakinan bahwa Tuhan hanyalah sosok ciptaan dari angan-angan manusia yang butuh sandaran psikologis akibat hidup dalam kesusahan. Menurut hematnya, jika semua sistem yang menindas manusia dan ketidakadilan struktural di zaman penjajahan ini diubah, niscaya manusia tidak akan hidup sengsara lagi. Dengan sendirinya, manusia tidak akan membutuhkan Tuhan lagi.

Sementara itu Anwar, seorang pemuda anarkis sekaligus ateis, memiliki pemahaman yang sedikit berbeda dengan Rusli ihwal ketuhanan. Bagi Anwar, sosok Tuhan adalah manusia itu sendiri. Angan-angan tentang Tuhan muncul dari pikiran manusia, sehingga yang menciptakan Tuhan sebenarnya adalah manusia. Menurutnya, jika manusia tidak mengangan-angankan sosok Tuhan, maka tidak mungkin ada eksistensi Tuhan. Bagi Anwar, manusialah yang memiliki kehendak bebas. Manusia harus bergantung pada kehendaknya sendiri, bukan pada takhayul imajinatif.

Ketiga pandangan yang berbeda tentang konsep ketuhanan ini dibalut dengan ciamik oleh Achdiat K. Mihardja lewat kekayaan kosakata dalam setiap narasinya. Pembaca akan diajak untuk melakukan theater of the mind lewat deskripsi latar kejadian di setiap adegan. Alhasil, pembaca seolah-olah ikut hanyut dalam pergolakan lahir dan batin yang dialami Hasan.

Selain menghadirkan konflik eksistensial, daya tarik karya ini juga terletak pada perjalanan asmara Hasan dengan Kartini, seorang janda muda. Kisah cinta keduanya adalah gabungan antara perjalanan ideologi, asmara, dan keyakinan. Kita akan betul-betul disuguhi nuansa emosional yang naik turun oleh penulis.

Catatan Struktur dan Gaya Bahasa

Membahas mengenai alur yang digunakan, novel ini hadir dengan plot maju-mundur. Kebanyakan karya yang memakai jenis alur ini memiliki kekurangan berupa potensi gagal klimaks akibat peralihan lini masa yang membingungkan. 

Namun, kasus semacam itu tidak berlaku di buku ini. Justru penggunaan alur maju-mundur di novel ini bisa menjadi jeda bagi kita untuk rehat dari nuansa emosional sekaligus eksistensial yang ikut mengguncang pikiran saat membaca. Alur ini bisa disebut sebagai semacam rest area-nya novel ini.

Namun, tak ada gading yang tak retak. Novel ini juga memiliki kekurangan yang disebabkan oleh jarak waktu sejak pertama kali terbit hingga sekarang. Bahasa Indonesia telah melewati beberapa periode penyempurnaan, di mana seharusnya banyak ejaan atau struktur kalimat yang disesuaikan dengan zaman.

Akan tetapi, tidak semua tatanan lama kebahasaan di buku ini diubah. Masih ada istilah lawas yang sengaja dipertahankan demi menjaga keautentikan karya Achdiat ini. Pembaca mungkin akan menemukan beberapa istilah lawas yang terasa asing, seperti sisipan istilah dalam bahasa Belanda dan Jepang, serta kosakata bahasa Indonesia lama.

Apakah Masih Layak Dibaca?

Walaupun sudah berlalu lebih dari setengah abad, buku ini masih sangat relevan untuk dibaca khalayak umum dan tentunya patut untuk terus didiskusikan di kalangan pegiat sastra serta akademisi. Atheis sangat layak disejajarkan dengan karya sastra adiluhung lainnya yang pernah lahir di Indonesia.

Terakhir, perihal pesan besar yang ingin disampaikan Achdiat dalam buku ini, tampaknya ada satu kalimat kunci yang patut diingat: “Dalam beragama dan berideologi, hendaknya kita jangan berkeyakinan buta tanpa menggunakan akal pikiran dalam mencerna segalanya”.

Identitas buku

Judul                :  Atheis

Penulis                : Achdiat Karta Mihardja 

Penerbit            : Balai Pustaka 

Cetakan            : Cetakan ke-35

Tahun terbit        : 2011

Jumlah Halaman  : 252 halaman

***

Tentang Penulis

M. Nasihathullah H.B. orang perbatasan yang suka membaca, menulis, dan melamun sebagai sebuah ‘lantaran’. Sekarang masih terus mencoba dan mengeksplorasi  pelbagai gaya kepenulisan. Bisa disapa melalui Instagram @m.nasihat_haqbabis.

Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

2 komentar

Silakan menuliskan komentar dengan rapi dan sopan!
Comment Author Avatar
Rabu, 10 Juni, 2026 Delete
Wah aku jadi mauu beli bukunya
Makasih ya reviewnya
Selamat membaca wan-kawan