7 Langkah Menulis Artikel yang Baik, dari Pembuka hingga Penutup
Konten Eksklusif
Masukkan username dan password untuk mengakses postingan ini:
Akses Dilindungi
Silakan bergabung ke Verified Member untuk membaca artikel premium.
Gabung Sekarang![]() |
| ilustrasi penulis menyusun artikel (pexels.com/Bagas Putra) |
Banyak penulis pemula merasa kesulitan menyelesaikan artikel karena langsung menulis tanpa memiliki kerangka yang jelas. Akibatnya, pembahasan sering melebar, beberapa poin terulang, bahkan tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan karena kehilangan arah.
Kabar baiknya, menulis artikel sebenarnya dapat dipelajari secara bertahap. Dengan memahami susunan artikel yang baik, proses menulis akan terasa lebih mudah sekaligus membantu pembaca mengikuti alur pembahasan. Berikut tujuh langkah yang dapat kamu terapkan saat menyusun artikel, khususnya artikel ilmiah populer maupun artikel bertipe listicle.
1. Siapkan judul dan gambaran isi artikel
Sebelum mulai menulis, pastikan kamu sudah memiliki judul sementara sekaligus gambaran besar mengenai isi artikel. Judul tidak harus langsung sempurna, tetapi setidaknya mampu menjadi penunjuk arah agar pembahasan tetap fokus.
Selain judul, tuliskan juga poin-poin utama yang ingin dibahas. Cara sederhana ini akan mempermudahmu ketika mulai mengembangkan setiap bagian artikel karena kamu sudah mengetahui urutan pembahasannya.
Misalnya, jika kamu ingin menulis artikel berjudul "7 Tips Belajar Matematika agar Lebih Mudah Dipahami", jangan langsung menulis paragraf pembuka. Buatlah terlebih dahulu tujuh poin yang akan dibahas sehingga alur tulisan lebih terstruktur.
Dengan memiliki kerangka sederhana sejak awal, kamu tidak perlu lagi berhenti di tengah proses menulis hanya karena bingung menentukan pembahasan berikutnya.
2. Buat pembuka yang langsung mengantarkan pembaca pada topik
Bagian pembuka berfungsi mengenalkan topik sekaligus memberikan alasan mengapa pembaca perlu melanjutkan membaca artikel. Oleh karena itu, usahakan pembuka tidak terlalu panjang dan langsung mengarah pada inti pembahasan.
Kamu dapat memulai dengan fenomena yang sering terjadi, pertanyaan sederhana, maupun fakta yang berkaitan dengan topik artikel. Hindari pembukaan yang terlalu bertele-tele karena dapat membuat pembaca kehilangan minat sejak awal.
Sebagai contoh, apabila artikel membahas tentang belajar matematika, pembukanya bisa diawali dengan fenomena bahwa masih banyak siswa menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit dipahami.
Setelah itu, arahkan pembaca menuju isi artikel dengan kalimat transisi seperti, "Jika kamu mengalami hal yang sama, berikut beberapa tips yang bisa dicoba."
3. Susun poin-poin pembahasan sebelum mengembangkannya
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan penulis pemula adalah langsung menjelaskan setiap pembahasan tanpa membuat kerangka terlebih dahulu. Cara ini memang terlihat lebih cepat, tetapi sering kali membuat isi artikel tidak runtut.
Sebelum menulis penjelasan, tuliskan seluruh subjudul atau poin utama terlebih dahulu. Setelah semuanya tersusun, barulah setiap poin dikembangkan menjadi beberapa paragraf yang saling berkaitan.
Misalnya, artikel berjudul "5 Cara Menjaga Konsistensi Menulis" dapat memiliki poin seperti berikut.
- Menentukan target menulis
- Membuat jadwal rutin|
- Mengurangi distraksi
- Banyak membaca
- Melakukan evaluasi tulisan
Dengan cara ini, kamu akan lebih mudah melihat apakah setiap poin sudah saling melengkapi atau justru ada pembahasan yang berulang.
4. Kembangkan setiap poin secara bertahap
Setelah kerangka selesai dibuat, saatnya mengembangkan masing-masing poin menjadi penjelasan yang utuh. Idealnya, setiap poin memiliki lebih dari satu paragraf agar pembahasannya tidak terasa terlalu singkat.
Mulailah dengan menjelaskan inti poin pada paragraf pertama, kemudian tambahkan alasan, contoh, maupun manfaatnya pada paragraf berikutnya. Pola ini membuat pembaca lebih mudah memahami isi artikel tanpa merasa informasi disampaikan secara terburu-buru.
Sebagai contoh, apabila salah satu poin membahas pentingnya membaca, jangan hanya menuliskan bahwa membaca dapat menambah wawasan. Jelaskan pula bagaimana kebiasaan membaca membantu penulis menemukan ide, memperkaya kosakata, hingga meningkatkan kualitas tulisan.
Semakin lengkap penjelasan yang diberikan, semakin besar pula manfaat yang dirasakan pembaca setelah menyelesaikan artikel.
5. Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami
Artikel yang baik bukanlah artikel yang dipenuhi istilah rumit, melainkan artikel yang mampu menyampaikan informasi secara jelas kepada pembaca. Oleh karena itu, gunakan bahasa yang sederhana dan hindari kalimat yang terlalu panjang apabila sebenarnya dapat ditulis dengan lebih ringkas.
Selain itu, usahakan setiap paragraf hanya membahas satu gagasan utama. Cara ini membuat alur tulisan lebih rapi sekaligus memudahkan pembaca mengikuti pembahasan dari awal hingga akhir.
Apabila harus menggunakan istilah asing atau teknis, berikan penjelasan singkat agar pembaca yang masih awam tetap dapat memahami maksud tulisanmu.
Ingatlah bahwa tujuan utama sebuah artikel adalah menyampaikan informasi, bukan menunjukkan seberapa rumit kalimat yang mampu kamu tulis.
6. Akhiri artikel dengan penutup yang menguatkan isi
Banyak penulis terlalu fokus menyusun pembuka dan isi hingga lupa memberikan penutup yang baik. Padahal, penutup merupakan kesempatan terakhir untuk memperkuat pesan utama yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Penutup tidak harus panjang. Kamu cukup merangkum inti pembahasan, memberikan motivasi, atau mengajak pembaca menerapkan apa yang telah dipelajari melalui artikel tersebut.
Sebagai contoh, apabila artikel membahas cara belajar yang efektif, kamu dapat mengakhiri tulisan dengan ajakan untuk mulai mencoba satu atau dua tips terlebih dahulu sebelum menerapkannya secara bertahap.
Dengan penutup yang tepat, artikel akan terasa lebih utuh dan meninggalkan kesan yang baik bagi pembaca.
7. Baca ulang dan lakukan revisi sebelum dipublikasikan
Setelah artikel selesai ditulis, jangan langsung terburu-buru mempublikasikannya. Luangkan waktu untuk membaca ulang seluruh isi artikel agar dapat menemukan bagian yang masih kurang jelas, kalimat yang berulang, maupun kesalahan penulisan.
Periksa kembali apakah judul sudah sesuai dengan isi artikel, apakah setiap poin saling berkaitan, dan apakah terdapat informasi yang perlu ditambahkan. Tidak ada salahnya meminta orang lain membaca tulisanmu sebagai bahan evaluasi sebelum dipublikasikan.
Selain isi, perhatikan pula ejaan, tanda baca, serta konsistensi penggunaan istilah. Hal-hal kecil seperti ini sering kali luput dari perhatian, padahal sangat berpengaruh terhadap kenyamanan pembaca. Semakin teliti proses revisi yang dilakukan, semakin baik pula kualitas artikel yang akan dipublikasikan.
Menulis artikel yang baik tidak harus dilakukan dalam sekali jadi. Justru sebagian besar artikel yang berkualitas lahir melalui proses menyusun kerangka, mengembangkan pembahasan, lalu melakukan revisi hingga hasilnya benar-benar siap dibaca oleh orang lain.
Mulailah membiasakan diri menulis secara bertahap, mulai dari menentukan judul, menyusun poin-poin pembahasan, hingga mengevaluasi hasil tulisan sebelum dipublikasikan. Semakin sering kamu berlatih menggunakan langkah-langkah tersebut, semakin mudah pula menghasilkan artikel yang runtut, menarik, dan memberikan manfaat bagi para pembaca.

Posting Komentar