[ESAI] Kembali Menjadi Mahasiswa Setelah Hampir Satu Dekade, Bagaimana Rasanya?

Table of Contents
seorang mahasiswi persiapan mengikuti perkuliahan
ilustrasi seorang mahasiswi persiapan mengikuti perkuliahan (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Ada masa ketika kehidupan sehari-hari dipenuhi jadwal kuliah yang begitu padat, tugas, presentasi, dan ujian. Setelah lulus kuliah, rutinitas tersebut perlahan berganti menjadi pekerjaan, target karier, dan berbagai tanggung jawab lain yang datang seiring bertambahnya usia. Tidak terasa, hampir satu dekade berlalu sejak pertama kali menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru.

Ketika kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 itu datang, muncul perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ada rasa antusias karena bisa kembali belajar. Di sisi lain, muncul keraguan apakah masih mampu mengikuti ritme perkuliahan seperti dulu. Namun, pengalaman kembali ke kampus setelah bertahun-tahun bekerja ternyata menghadirkan banyak pelajaran yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Lantas, bagaimana rasanya kembali menjadi mahasiswa setelah hampir satu dekade berlalu? Berikut lima hal yang penulis rasakan selama menjalani perjalanan ini.

1. Kembali Beradaptasi dengan Dunia Akademik

Meski pernah menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, kembali kuliah setelah bertahun-tahun bekerja membutuhkan proses penyesuaian. Banyak hal yang dulu terasa biasa kini perlu dipelajari kembali, mulai dari membaca artikel ilmiah, menyusun paper, hingga tugas akademik yang sistematis. Tidak sedikit yang merasa seperti sedang mengarungi perjalanan baru mulai dari nol.

Pada minggu-minggu pertama perkuliahan, rasa canggung sering kali muncul saat mengikuti diskusi kelas atau mengerjakan tugas. Lingkungan akademik memiliki ritme yang berbeda dibandingkan dunia kerja. Karena itu, kemampuan belajar yang sempat lama tidak digunakan perlu diasah kembali.

2. Tantangan Terbesar adalah Mengembalikan Kebiasaan Belajar

Banyak orang mengira materi kuliah menjadi hambatan utama bagi mahasiswa yang kembali belajar. Namun, tantangan terbesar justru terletak pada membangun kembali kebiasaan belajar yang sempat hilang. Proses ini tentu membutuhkan konsistensi dan kesabaran.

Membaca referensi dalam jumlah banyak, memahami materi, teori, dan menyelesaikan tugas akademik membutuhkan fokus yang berbeda dibandingkan pekerjaan sehari-hari. Setelah bertahun-tahun terbiasa menyelesaikan persoalan secara praktis, otak perlu kembali beradaptasi dengan proses berpikir yang lebih analitis. Tidak heran jika masa-masa awal perkuliahan terasa cukup menguras energi.

3. Pengalaman Kerja Menjadi Bekal Berharga

Di balik berbagai tantangan, ada keuntungan yang dimiliki oleh mahasiswa yang telah menghabiskan beberapa tahun di dunia kerja. Pengalaman profesional memberikan perspektif yang lebih luas saat memahami teori dan konsep yang dipelajari di kelas. Banyak materi kuliah yang terasa lebih mudah dipahami karena dapat dikaitkan dengan berbagai situasi yang pernah ditemui dalam pekerjaan sehari-hari.

Diskusi di kelas pun menjadi lebih menarik karena setiap orang membawa latar belakang yang berbeda. Pengalaman menghadapi berbagai situasi di tempat kerja sering kali membantu dalam melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang. Pengalaman tersebut sering menjadi sudut pandang tambahan yang tidak selalu dimiliki oleh mahasiswa yang baru lulus S1.

4. Belajar dengan Tujuan yang Lebih Jelas

Saat menempuh S1, banyak mahasiswa masih berada dalam tahap mencari arah dan mengenali minat mereka. Sementara, keputusan untuk melanjutkan S2 biasanya diambil setelah melalui berbagai pertimbangan dan pengalaman hidup. Karena itu, motivasi belajar sering kali menjadi lebih kuat.

Perkuliahan tidak lagi hanya berorientasi pada nilai atau kelulusan semata. Banyak mahasiswa S2 yang belajar untuk meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan, atau mempersiapkan langkah karier berikutnya. Tujuan yang lebih jelas membuat setiap proses pembelajaran terasa lebih bermakna.

5. Belajar Tidak Pernah Mengenal Kata Terlambat

Kembali ke bangku kuliah setelah bertahun-tahun bekerja memberikan banyak pelajaran di luar materi akademik. Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa kemampuan untuk berkembang tidak ditentukan oleh usia maupun seberapa lama seseorang meninggalkan dunia pendidikan. Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai.

Mungkin ada rasa gugup saat hari pertama kuliah, kebingungan saat membaca referensi yang penuh istilah baru, atau tantangan dalam membagi waktu antara pekerjaan dan studi. Namun, semua itu merupakan bagian dari berproses. Bukankah belajar kembali setelah sekian lama menjadi bukti bahwa tidak ada kata terlambat untuk mengejar tujuan yang pernah kita impikan?

***

Tentang Penulis

Reyvan Maulid adalah nama akrab seorang laki-laki asal Mojokerto, Jawa Timur. Sehari-hari, ia berprofesi sebagai freelance content writer. Melalui Tagline Awaiting Your Writing, kini, ia sudah memiliki sepuluh karya non-fiksi yang berhasil dibukukan berkaitan dengan edukasi dan motivasi islami. Pria pencinta baso aci ini bisa dijumpai lewat akun instagram @reyvanmaulid.
Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

Posting Komentar