[REVIEW] Buku Seorang Pria Yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring - Karya dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ
![]() |
| Buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring Karya dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ (gramedia.com/edited by Canva) |
Aku tidak menyangka buku ini akan sesedih itu.
Sebelum mulai membaca, aku sempat melakukan kebiasaanku: scanning daftar isi. Dan dari situ saja aku sudah agak ngeri. Di awal pembaca langsung disambut kalimat "Selamat Datang di Klub Berduka" lalu ada bagian dengan judul "Tutorial Menerima Kematian Seorang Anak".
Reaksiku waktu itu kurang lebih:
"Duh..."
Sambil ketawa kecil, demi mengurangi rasa tidak nyaman yang perlahan merayap.
Karena dari daftar isinya saja rasanya buku ini seperti sudah memberi sinyal untukku: "Siap-siap, perjalanan emosionalmu akan dimulai."
Dan ternyata memang begitu.
Aku beberapa kali harus berhenti membaca. Bukan karena bahasanya sulit atau terlalu berat dipahami. Justru sebaliknya, buku ini terasa ringan dibaca, bahkan untuk pembaca yang mungkin tidak terlalu akrab dengan istilah psikologi atau kesehatan mental. Tapi mungkin justru itu, karena bahasanya sederhana, semuanya terasa lebih dekat.
Aku beberapa kali berhenti hanya untuk menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir begitu saja.
![]() |
| Buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring Karya dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ (dok.pribadi/Aniqotul Lutfiyah) |
Rasanya seperti aku tidak sedang membaca buku, tapi aku sedang mendengarkan seseorang bercerita.
Tak bisa dipungkiri pengalaman membacaku juga dipengaruhi oleh posisiku saat ini. Sebagai seorang ibu paruh baya yang hanya memiliki satu anak laki-laki, rasanya ada beberapa bagian yang menghantam lebih dalam. Membayangkan kehilangan seorang anak saja rasanya sudah membuat dada sesak.
Mungkin pembaca yang lebih muda, belum menikah, atau belum menjadi orang tua akan mendapatkan pengalaman membaca yang berbeda. Bukan berarti mereka tidak akan tersentuh, tetapi ada beberapa hal yang mungkin baru benar-benar terasa ketika seseorang pernah mencintai anaknya seperti itu.
Di usia yang sudah memasuki paruh baya ini, aku juga menyadari bahwa hidup mulai dipenuhi semakin banyak perjumpaan dengan kehilangan. Bukan hanya dukaku sendiri, tetapi juga duka orang-orang di sekitarku.
Jujur saja, membaca buku ini seperti membuka kembali lemari kenangan yang selama ini kusimpan.
Aku teringat kejadian yang sudah cukup lama, ketika Kakak sepupu meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas yang cukup parah. Beberapa hari sebelumnya kami sempat menjenguknya, meski hanya sebentar karena beliau berada di ICU. Mungkin seperti menonton adegan di film-film melihat seseorang terbaring tak berdaya dengan berbagai alat bantu kehidupan menempel di tubuhnya.
Tapi yang paling kuingat bukan alat-alat itu.
Aku ingat Almh. Budhe saat itu yang hanya bisa menangis. Lalu beberapa hari kemudian datang kabar bahwa Kakak sepupuku itu meninggal dunia. Dan anehnya, hari itu bertepatan dengan tanggal ulang tahunku.
Aku termasuk orang yang tidak pernah merayakan ulang tahun dan bahkan sering lupa tanggalnya sendiri. Biasanya aku baru ingat ketika adikku tiba-tiba mengucapkan selamat. Tapi sejak saat itu, ada satu memori lain yang ikut menempel pada tanggal tersebut.
Yah, membaca buku ini seperti menarik kembali potongan-potongan ingatan semacam itu.
Salah satu bagian yang juga cukup membekas bagiku adalah pembahasan tentang impermanence: bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang benar-benar permanen. Tidak ada yang selamanya.
Termasuk duka.
Entah kenapa, bagian itu rasanya menenangkan. Aku jadi teringat pada kalimat yang sering kuucapkan kepada diriku sendiri ketika menjalani hari-hari yang terasa lebih berat dari biasanya:
"This too shall pass."
Kadang kalimat sesederhana itu cukup untuk membantu seseorang bertahan sedikit lebih lama.
![]() |
| Buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring Karya dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ (dok.pribadi/Aniqotul Lutfiyah) |
Namun melalui dr Andreas Kurniawan, aku justru melihat sisi lain dari seorang manusia biasa yang juga bisa hancur, bingung, kehilangan arah, dan berduka.
Ada gaya humor yang terselip di beberapa bagian tulisan. Kadang aku tersenyum membacanya, meskipun beberapa di antaranya terasa seperti dark jokes, humor yang muncul bukan karena semuanya baik-baik saja, tetapi mungkin karena ada luka yang sedang dihadapi.
Anehnya, itu tidak terasa mengganggu. Justru membuat buku ini terasa lebih hidup dan lebih manusiawi.
Karena pada kenyataannya, orang yang sedang berduka tidak selalu menangis sepanjang waktu. Di tengah kehilangan yang besar, kadang masih ada candaan kecil, senyum sesaat, atau hal-hal absurd yang tiba-tiba terasa lucu.
Dan satu hal yang paling menenangkan bagiku adalah buku ini tidak memberi kesan bahwa duka harus segera disembuhkan.
Tidak ada tuntutan untuk cepat pulih.
Tidak ada tuntutan untuk cepat ikhlas.
Tidak ada desakan untuk cepat kembali menjadi diri yang dulu.
Karena mungkin memang tidak semua hal harus kembali seperti semula.
Kadang hidup hanya perlu ditata ulang secara perlahan.
Mungkin dimulai dari hal-hal sederhana:
Bangun pagi.
Merapikan tempat tidur.
Menyeduh kopi.
Mencuci piring.
Lalu besok mencoba lagi.
Hal yang paling kusukai dari buku ini adalah bagaimana buku ini menunjukkan bahwa duka adalah pengalaman yang sangat personal. Setiap orang punya cara berbeda untuk kehilangan, cara berbeda untuk bertahan, dan cara berbeda untuk pulih.
Ada yang menangis.
Ada yang diam.
Ada yang sibuk bekerja.
Dan ada yang mungkin melewati dukanya dengan mencuci piring.
Kita sering tanpa sadar membandingkan atau mengecilkan kesedihan orang lain, padahal kenyataannya tidak ada ukuran yang benar-benar bisa dipakai untuk menimbang rasa kehilangan seseorang.
Dan ada satu hal lain yang membuat buku ini penting, yaitu ia bisa menjadi semacam pertolongan kecil untuk orang-orang yang belum bisa atau belum memiliki akses terhadap layanan kesehatan mental. Tentu saja, buku tidak bisa menggantikan bantuan profesional, tetapi kadang seseorang hanya membutuhkan satu suara yang membuatnya merasa tidak terlalu sendirian.
Mungkin kamu juga setuju bahwa akses kesehatan mental sampai sekarang masih terasa cukup eksklusif bagi sebagian orang.
Dan seperti yang sempat aku sebut di awal, itulah sebabnya buku ini terasa dekat. Ia tidak datang dengan bahasa yang menggurui. Tidak terasa seperti sedang membaca teori. Rasanya seperti kamu sedang duduk diam, sambil mendengarkan seseorang di depanmu, berbicara dengan jujur tentang luka yang dimilikinya.
Entah kamu pernah mengalami duka besar atau belum, menurutku buku ini tetap layak dibaca. Bukan hanya agar kamu bisa belajar melalui lukamu sendiri, tetapi juga agar kamu bisa sedikit membuka empati ketika orang-orang di sekitarmu sedang melewatinya.
Karena terkadang yang paling dibutuhkan seseorang yang sedang berduka bukanlah nasihat, tapi hanya seseorang yang bersedia memahami.
Penilaian: 5/5 ⭐
Buku ini bukan hanya dibaca, tetapi dirasakan. Dan diam-diam meninggalkan sesuatu di dalam diri pembacanya.
Identitas Buku
Judul : Seorang Pria Melalui Duka dengan Mencuci Piring
Penulis : dr. Andreas Kurniawan, Sp. KJ
Tahun Terbit : Cetakan Ke-15 Maret 2026
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 191 halaman
Genre : Psikologi - Pengembangan Diri
***
Tentang Penulis
Aniqotul Lutfiyah, pembelajar yang gemar merangkai kata, menikmati kopi, teh, dan membaca buku. Di sela rutinitas, ia suka menulis tentang hal-hal sederhana, pertanyaan-pertanyaan kecil, dan makna yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Temukan karya lainnya di Instagram @aniq.aly dan Medium @aniqnotes.


